Resesi Ekonomi, Pemimpin Hong Kong Minta Bantuan ke Beijing

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 1 menit

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengatakan pertemuan dengan pejabat Cina berlangsung pada Rabu (03/11) hingga Jumat (05/11).

Dalam pertemuan itu Lam membahas tentang keinginan Hong Kong untuk dapat masuk dan terintegrasi dalam pembangunan nasional Cina, serta bagaimana wilayah semi-otonom itu dapat bekerja sama dengan Shenzhen, sebuah kota di Cina selatan yang berbatasan langsung dengan Hong Kong.

Kerja sama ini dimaksudkan sebagai bagian dari pengembangan skema ekonomi yang terintegrasi dengan Greater Bay Area.

Lam juga mengungkapkan kepada wartawan bahwa dia berencana untuk membahas kapan Hong Kong dan Cina daratan akan dapat membuka perbatasan sehingga orang bebas melintas tanpa perlu karantina.

Sejak Maret lalu, penduduk di daratan Tiongkok dan Hong Kong diminta untuk melakukan karantina selama dua minggu ketika mereka melintasi perbatasan. “Pembukaan perbatasan itu sangat penting untuk kegiatan ekonomi, mengunjungi kerabat dan pergi ke sekolah,'' kata Lam.

Tunda pidato dan berangkat ke Cina

Perjalanan Lam ke Beijing dilakukan setelah dia menunda pidato kebijakan tahunannya.

Lam mengatakan bahwa dukungan dari Beijing akan memungkinkannya untuk memberikan pidato yang akan meningkatkan kepercayaan warga pada masa depan ekonomi Hong Kong. Ekonomi Hong Kong terkena imbas akibat pandemi COVID-19.

Keyakinan akan status semi-otonom Hong Kong telah terguncang sejak pemerintah Cina memberlakukan undang-undang keamanan nasional atas wilayah itu.

Sehubungan dengan pemilihan presiden AS, Lam berharap presiden berikutnya dapat mengevaluasi pentingnya Hong Kong.

"Saya berharap pemerintahan AS yang baru akan mempertimbangkan hubungan dengan Hong Kong secara komprehensif, dengan meninjau kepentingan banyak bisnis AS di Hong Kong yang mempekerjakan banyak orang, dan tidak akan membiarkan kepentingan politik tertentu yang nantinya berpengaruh di Hong Kong," katanya.

ha/pkp (AP)