Reshuffle Kabinet untuk Mengisi Kementerian dan Badan Baru

Agus Rahmat, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Wacana reshuffle Kabinet Indonesia Maju pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, kembali mencuat. Namun diprediksi, perombakan itu hanya kecil, untuk mengisi pos kementerian baru dan badan atau lembaga baru.

Prediksi itu setelah DPR memutuskan dalam paripurna beberapa waktu lalu, untuk menyetujui permintaan Presiden Jokowi guna melebur Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Selain itu, juga lahir lembaga baru yakni Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang sebelumnya di bawah Kemenristek. Selain itu, disetujui juga adanya nomenklatur baru yakni Kementerian Investasi, perluasan peran dari BKPM.

Baca juga: Sinyal Jokowi Mau Reshuffle Menguat, Begini Kata Fadjroel Rachman

Pengamat politik sekaligus Direktur IndoStrategi Research and Consulting, Arif Nurul Imam mengatakan, kemungkinan reshuffle bisa saja terjadi untuk mengisi pos yang kosong. Sebab jika perombakan besar, dari sisi waktu belum tepat.

"Secara momentum saya kira sangat bergantung situasi politik. Jika sekarang di tengah puasa nampaknya kurang tepat," kata Arif kepada wartawan, Kamis 15 April 2021.

"Apakah hanya melantik kementerian baru dan mengisi pos yang kosong. Saya kira amat bergantung kebutuhan," sambungnya.

Wacana reshuffle ini juga, sempat memunculkan wacana seperti pergantian Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Namun menurut pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, itu nampaknya tidak mungkin. Sebab Syahrul, selain kader Partai Nasdem yang merupakan pendukung utama pemerintah, juga kinerjanya terbilang baik, terlebih selama pandemi.

Data BPS menunjukkan, perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) pada bulan Maret 2021 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yakni sebesar 0,18 persen dan 0,14 persen jika dihitung berdasarkan data bulanan (m to m).

Kenaikan NTP dan NTUP terjadi karena index yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,32 persen dan index harga yang dibayar petani naik 0,13 persen.

NTP sendiri adalah instrumen yang digunakan, untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. Peningkatan NTP mengindikasikan terjadinya peningkatan kesejahteraan petani, begitu sebaliknya.

"Jika dilihat dari sisi politis, SYL akan aman. Karena menteri dari parpol (Nasdem). Bahkan beberapa waktu yang lalu pernah merangkap menjadi Plt Menteri KKP," ujarnya.

Masih merujuk data BPS, nilai PDB sektor pertanian pada kuaratal IV 2020 juga tumbuh sebesar 2,59 persen (yoy). Sementara ekspor pertanian periode Januari-Desember 2020 sebesar Rp451,8 triliun, naik 15,79 persen jika dibanding periode yang sama di tahun 2019 yang hanya Rp390,2 triliun.

"Sepertinya begitu. Data dari BPS ini (membuat SYL aman)."

Sebelumnya diberitakan, kabar mengenai reshuffle kabinet datang dari Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin. Ali Ngabalin memberikan sinyal bahwa Presiden Jokowi kemungkinan bakal merombak kabinet dalam waktu dekat. Bahkan kata Ali, dalam pekan ini Presiden merombak kabinetnya.

Kata Ali, mengenai reshuffle kabinet akan segelar dilakukan lantaran Surat Presiden ke parlemen belum lama ini perihal pembentukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam rapat paripurna itu di Gedung DPR, juga disepakati adanya nomenklatur baru mengenai Kementerian Investasi.

"Kan itu tidak ada lagi menterinya (Kemenristek melebur ke Kemendikbud)," kata Ali, belum lama ini.

"Biasanya Presiden itu tidak lama. Pak Jokowi itu kan tidak bisa melihat lambat," sambung dia.