"Resiliency Initiative", upaya Facebook tumbuhkan toleransi di Asia

·Bacaan 2 menit

Facebook menggandeng komunitas The Asia Foundation untuk membuat gerakan yang menumbuhkan semangat tolerasi dalam bermasyarakat lewat peluncuran situs “The Resiliency Initiative”.

Indonesia termasuk salah satu negara yang mengikuti gerakan ini untuk menumbuhkan tolerasi bermasyarakat dan memperkuat pemahaman antaragama, antaretnis, hingga melawan ekstremisme kekerasan khususnya di Asia Pasifik.

“Situs ‘The Resiliency Initiative’ menyediakan perangkat dan sumber daya bagi organisasi masyarakat sipil untuk membantu mereka memanfaatkan media sosial untuk membangun komunitas yang lebih kuat, khususnya di daerah yang terkena dampak konflik kekerasan, " Head of Counterterrorism & Dangerous Organizations (APAC) Facebook Nawab Osman dalam keterangannya, Rabu.

Baca juga: Facebook dukung pembaruan sistem iOS 14.5

"Saat ini,situs itu tersedia dalam bahasa Inggris dan akan diluncurkan dalam bahasa Bengali, Thailand, dan Urdu dalam beberapa minggu ke depan. Nantinya akan diikuti dengan lebih banyak bahasa lain di masa mendatang,” kata dia.

“The Resiliency Initiative” pada pertengahan 2021 ini, akan bekerja dengan organisasi masyarakat sipil di Asia Pasifik untuk membangun kampanye ketahanan sosial untuk memerangi kebencian secara online, dan memperluas jangkauan program ke komunitas baru di wilayah tersebut. Facebook dan The Asia Foundation juga bermitra dengan para ahli dalam program pelatihan mendongeng digital.

The Asia Foundation merupakan organisasi internasional nirlaba yang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk Asia. Kekerasan dan konflik menjadi tantangan besar bagi masyarakat dan secara signifikan dapat menghambat pertumbuhan dan pembangunan di kawasan.

Kehadiran yayasan ini menyatukan berbagai mitra dari pemerintah dan masyarakat lokal yang tergabung di lapangan, maka dari itu gerakan “The Resiliency Initiative“ menjadi sangat penting.

Sementara itu Facebook sebagai penyedia aplikasi media sosial dengan jaringan terluas secara global terlibat dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan menghapus konten berbahaya yang berisi kekerasan dan kebencian dari platform mereka secepat mungkin.

“Kami telah membuat kemajuan yang baik di bidang ini. Tapi ini hanya salah satu bagian dari solusi. Sama pentingnya untuk mengaktifkan dialog yang konstruktif dan mendorong hadirnya sosok untuk mempromosikan kohesi sosial dan melawan tindak kekerasan. Kami senang telah meluncurkan “The Resiliency Initiative” dalam kemitraan dengan The Asia Foundation sebagai salah satu program unggulan kami untuk mengatasi kebencian dan ekstremisme kekerasan,” ujar Nawab.

Ada pun selain Indonesia, negara lain yang tergabung dalam gerakan ini adalah Bangladesh, India, Malaysia, Maladewa, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Pakistan, dan Filipina.

Baca juga: Twitter kembangkan fitur "tweet reactions"

Baca juga: Facebook ubah kebijakan, tak blokir klaim "COVID-19 buatan manusia"

Baca juga: Facebook dan Instagram sembunyikan jumlah "like"

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel