Resistensi Antimikroba Hewan Ternak Berpotensi Jadi Silent Pandemi

Merdeka.com - Merdeka.com - Kementerian Pertanian bersama World Organization of Animal Health (WOAH), Badan Pangan dan Pertanian (FAO), serta industri perunggasan dan farmasi di Indonesia mendeklarasikan komitmen pencegahan resistensi antimikroba terhadap hewan ternak. Tanpa adanya intervensi yang agresif, resistensi antimikroba pada hewan seperti 'silent pandemi'.

"Karena adanya resistensi itu menjadi percepatan adanya penyakit TB (tuberculosis) jadi seperti silent pandemi," Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan, Kemenko PMK, Agus Suprapto dalam konferensi pers Pengendalian Resistensi Antimikroba dari Perspektif Industri, Selasa (22/11).

Upaya mencegah resistensi antimikroba perlu melibatkan berbagai pihak seperti industri farmasi dan perunggasan. Sebab, berdasarkan data yang diterima masih cukup banyak peternak kerap memberikan antibiotik kepada hewan ternak sebagai terapi. Namun di satu sisi penggunaan antibiotic oleh peternak tidak terkontrol.

"Ini concern bersama karena ini penting. Kita ingin mengamankan, meningkatkan protein hewani bisa terhindarkan residu antibiotik dari hewan tersebut," ujarnya.

Sementara dokter hewan dari PT Charoen Pokphand Indonesia, Hamid menyampaikan bahwa perawatan hewan ternak yang dikelola memiliki standar penanganan yang cukup ketat dan selektif. Jika terdapat indikasi hewan ternak yang tidak sehat, pemberian antibiotik harus berdasarkan strain yang ditemukan pada hewan tersebut.

"Kita melihat sensitivity sebelum memberikan pengobatan, sebisa mungkin kita berikan antibiotik dan itu alternatif terakhir, yang sudah dilakukan industri peternakan Charoen Pokphand," ucapnya.

Upaya lain yang dilakukan untuk memastikan tidak ada residu pada hewan ternak yaitu isolasi lokasi kandang ternak. Serta, mengklasifikasi hewan ternak berdasarkan usia atau kondisi kesehatan hewan ternak.

"Kita melakukan zoning agar mikroba dari luar tidak bisa masuk ke area peternakan," ucapnya.

Selain Charoen Pokphand, perusahaan yang turut deklarasi mengatasi permasalahan resistensi antimikroba yaitu PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, PT. Medion Farma Jaya, PT. Satya Samitra Niagatama, PT. Agrinusa Jaya Santosa, dan PT. Elanco Animal Health Indonesia (sebagai perwakilan dua pemangku kepentingan industri perunggasan swasta dan empat perusahaan obat hewan).

"Deklarasi ini merupakan bentuk komitmen dan merupakan langkah nyata dari dukungan pihak industri terhadap Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Tahun 2020-2024," Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, PKH Nasrullah.

"Langkah ini merupakan tindak lanjut hasil pertemuan G20 di Bali, di mana negara-negara anggota G20 berkomitmen meningkatkan upaya ketahanan sistem pangan dan pertanian melalui kerja sama yang efektif dengan stakeholder terkait, melalui promosi kerja sama public-private, investasi pengembangan kapasitas dan inovasi solusi permasalahan dampak produksi yang berkelanjutan," imbuhnya. [azz]