Respons WHO Soal Ditundanya Pemberian Vaksin COVID-19 AstraZeneca di Afrika Selatan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - World Health Organization (WHO) merespon adanya penundaan penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca-Oxford di Afrika Selatan, yang dilaporkan kurang manjur terhadap varian baru virus corona yang dominan di negara itu.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi persnya pada Selasa pekan ini mengatakan bahwa vaksin COVID-19 AstraZeneca masih menjadi salah satu dari beberapa vaksin yang terbukti efektif mencegah penyakit parah, rawat inap, dan kematian akibat COVID-19.

Dikutip dari laman resmi WHO pada Rabu (10/2/2021), Afrika Selatan pada awal pekan ini menghentikan sementara peluncuran vaksin Oxford karena sebuah studi menunjukkan mereka tidak efektif mencegah penyakit ringan hingga sedang, akibat varian corona Afrika Selatan.

"Namun, ada beberapa peringatan penting. Mengingat jumlah sampel percobaan yang terbatas dan profil peserta yang lebih muda dan lebih sehat, penting untuk menentukan apakah vaksin tetap efektif atau tidak dalam mencegah penyakit yang lebih parah," kata Tedros.

Mengutip Medical Xpress, kepala vaksinasi WHO Kate O'Brien juga mengatakan bahwa dalam studi di Afrika Selatan, jarak pemberian dua dosis vaksin hanya sebulan, jauh lebih singkat ketimbang waktu yang dinilai optimal untuk meningkatkan efikasinya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Pentingnya Mencegah Penularan

Botol vaksin COVID-19 terlihat sebelum dikemas di Serum Institute of India, Pune, India, Kamis (21 Januari 2021). Serum Institute of India adalah pembuat vaksin terbesar di dunia dan telah dikontrak untuk memproduksi miliar dosis vaksin AstraZeneca-Oxford University. (AP Photo/Rafiq Maqbool)
Botol vaksin COVID-19 terlihat sebelum dikemas di Serum Institute of India, Pune, India, Kamis (21 Januari 2021). Serum Institute of India adalah pembuat vaksin terbesar di dunia dan telah dikontrak untuk memproduksi miliar dosis vaksin AstraZeneca-Oxford University. (AP Photo/Rafiq Maqbool)

O'Brien juga mengatakan bahwa dalam studi lain, vaksin tersebut masih memiliki "dampak yang berarti terhadap penyakit parah" termasuk dengan varian virus corona B.1.351 yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan.

Richard Hatchett, kepala Coalition for Epidemic Preparedness Innovations juga mengatakan bahwa terlalu dini untuk menghentikan penggunaan vaksin tersebut. "Sangat penting untuk menggunakan alat yang kita miliki seefektif mungkin," ujarnya.

Meski begitu, Tedros kembali menekankan bahwa laporan tersebut harus jadi pengingat bahwa semua orang perlu melakukan segala upaya yang bisa dilakukan dan telah terbukti, untuk mengurangi penyebaran virus.

"Beberapa negara berhasil menekan penularan, termasuk di mana varian baru beredar," kata Tedros. Ia menambahkan, dengan mencegah penularan, masyarakat berarti berperan dalam melindungi vaksin dari menurunnya kemanjuran.

Selain itu, semua pengembang juga harus mampu menyesuaikan vaksin mereka dengan evolusi virus, termasuk mempertimbangkan varian baru untuk penyuntikkan di masa depan.

"Kita tahu virus bermutasi dan kita tahu kita harus siap untuk menyesuaikan vaksin agar tetap efektif. Inilah yang terjadi dengan vaksin flu, yang diperbarui dua kali setahun agar sesuai dengan jenis yang dominan."

Infografis Orang Tak Divaksin 3 Kali Lebih Berisiko Terpapar Covid-19

Infografis Orang Tak Divaksin 3 Kali Lebih Berisiko Terpapar Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Orang Tak Divaksin 3 Kali Lebih Berisiko Terpapar Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini