Restrukturisasi kredit BRI tersisa Rp144,27 triliun di kuartal I 2022

·Bacaan 2 menit

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sunarso mengatakan restrukturisasi kredit terdampak COVID-19 tersisa Rp144,27 triliun pada akhir kuartal I 2022.

"Hingga akhir kuartal I 2022 tercatat restrukturisasi kredit terdampak COVID-19 sebesar Rp144,27 triliun, atau telah turun sebesar Rp103,75 triliun apabila dibandingkan dengan total akumulasi restrukturisasi yang mencapai Rp248,02 triliun," kata Sunarso dalam konferensi pers daring, Senin.

Penurunan restrukturisasi kredit secara gradual tersebut membuat kualitas penyaluran kredit BRI tetap terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) BRI tercatat sebesar 3,09 persen pada akhir Maret 2022.

"Angka ini tercatat menurun apabila dibandingkan dengan NPL pada periode yang sama tahun lalu yakni sebesar 3,30 persen," kata Sunarso.

BRI juga menyediakan pencadangan yang cukup untuk mengantisipasi risiko ke depan dengan NPL Coverage sebesar 276,0 persen yang juga meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Maret 2021 sebesar 231,17 persen.

“Alasan BRI menyiapkan pencadangan yang sangat memadai tersebut dilakukan untuk mengantisipasi risiko ketidakpastian kondisi perekonomian ke depan, karena adanya perang Rusia – Ukraina, inflasi, serta potensi kenaikan suku bunga yang akan terus dilanjutkan oleh The Fed,” urainya.

Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI Group tercatat tumbuh 7,39 persen year on year hingga akhir kuartal I 2022, didorong oleh pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 15,99 persen year on year.

Sunarso menuturkan kemampuan BRI dalam menyalurkan kredit dan pembiayaan juga didukung oleh likuiditas dan permodalan yang kuat, yang tampak dari rasio Loan to Deposit (LDR) BRI secara konsolidasian sebesar 86,96 persen dan rasio kecukupan modal (CAR) 24,61 persen.

Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) BRI pada akhir Maret 2022 tercatat sebesar 69,34 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan BOPO periode yang sama tahun lalu sebesar 78,41 persen, didukung oleh transformasi digital, perbaikan rasio kredit bermasalah, serta peningkatan proporsi CASA atau dana murah.

“Dengan kinerja BRI yang positif dan fundamental perseroan yang semakin sehat, serta respon strategis yang tepat diiringi dengan manajemen risiko yang baik dalam menghadapi ketidakpastian kondisi perekonomian global, BRI optimistis kinerja di tahun ini akan dapat melampaui kinerja sebelum masa pandemi, serta dapat menjaga sustainability kinerja ke depan,” pungkas Sunarso.

Baca juga: BRI cetak laba Rp12,2 triliun pada kuartal I 2022
Baca juga: BRI kembali buka program rekrutmen pegawai baru
Baca juga: LPEI dan BRI kolaborasi tingkatkan transaksi dan layanan ekspor

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel