Restu Bunda iringi Rifda Irfanaluthfi gemilang di PON Papua

·Bacaan 6 menit

Pertandingan cabang olahraga senam artistik dalam perhelatan PON XX Papua sudah menemukan para juaranya.

Pada kategori senam artistik beregu putri maupun serba bisa perorangan putri, DKI Jakarta mendominasi tiga kemenangan medali emas.

Rifda Irfanaluthfi menjadi atlet dari DKI Jakarta yang cemerlang meraih prestasi dalam ajang olahraga nasional kali ini.

Baca juga: DKI Jakarta sabet medali emas untuk senam artistik beregu putri

Pada hari pertama saja, ia sudah menyabet dua medali emas yang berasal dari nomor beregu putri dan serba bisa perorangan putri menambah prestasi atlet- atlet dari Ibu Kota.

Tentu kemenangan itu menjadi suatu kebanggaan karena untuk nomor beregu putri setelah 25 tahun vakum, DKI Jakarta yang memutuskan kembali ikut ambil bagian dalam nomor itu justru mendapatkan kemenangan tertinggi.

Kemenangan itu pun berhasil menjawab harapan Rifda yang memang sudah langganan memenangkan medali di setiap perlombaan yang ia ikuti.

Di balik laguh lagah kegiatan para atlet senam yang berlangsung di arena Istora Papua Bangkit, ada banyak dukungan dari anggota tim lainnya hingga keluarga atlet yang hadir di bangku penonton hingga akhirnya para juara bisa muncul di PON XX Papua.

Bagi Rifda, salah satu sistem pendukungnya yang paling setia yaitu ibunya Yulies Andriana telah mengirimkan energi baik yang akhirnya bisa membuatnya meraih prestasi gemilang di PON XX Papua.

“Kalau ada bunda, aku tampil lebih tenang dan lebih fokus,” kata Rifda saat diwawancarai seusai menyelesaikan penampilannya.

Ia pun dengan bangga mengenalkan sang bunda kepada awak media dan akhirnya kami pun bercengkrama mendengar sepotong kisah perjuangan ibu Yulies mengawal Rifda untuk tampil pada PON pertama yang diselenggarakan di Bumi Cendrawasih.

Baca juga: DKI Jakarta unggul di senam artistik serba bisa perorangan putri


Jalan yang dipermudah

Sudah menjadi semacam tradisi bagi Yulies yang kini berusia 53 tahun untuk menyaksikan Rifda bertanding menjadi seorang atlet.

Berbagai arena perlombaan skala regional, nasional, hingga internasional sudah pernah ia sambangi untuk memberikan energi baik kepada putrinya kala berkompetisi sebagai seorang pesenam.

Ia bahkan pernah menjadi satu-satunya pendukung Rifda dan Indonesia di ajang SEA Games Malaysia pada 2017 yang mengantarkan Indonesia meraih medali emas.

Oleh karena itu, pada perhelatan PON Papua Yulies tak mau tertinggal untuk kembali mendukung Rifda.

Awalnya Yulies memang urung untuk datang ke Papua karena harus merawat ibunya yang mengalami sakit keras jauh hari dari waktu PON XX digelar.

Baca juga: Rifda relakan emas senam lantai jatuh ke tangan rival

Namun takdir berkata lain, sang ibu tutup usia mendekati pelaksanaan pesta olahraga skala nasional empat tahunan itu.

Dalam kondisi itu, Yulies pun masih sangat ingin mendampingi putrinya dan mencari cara agar bisa tiba di Bumi Cendrawasih sebelum Rifda dan tim DKI Jakarta bertanding pada 1 Oktober.

Setelah proses pencarian yang begitu mendadak dan tak gampang, Yulies akhirnya berhasil mendapatkan tiket untuk terbang satu hari sebelum pertandingan senam artistik digelar.

Ia pun sangat bersyukur dan optimistis anaknya bisa gemilang di perhelatan PON XX Papua.

“Bagi saya menerima rapor itu biasa, tapi ikut mendampingi anak ke sebuah pertandingan menjadi sesuatu yang saya tunggu-tunggu,” katanya.

Baca juga: Rifda bungkus perak keduanya dari senam artistik


Kekuatan Restu Bunda

Ibu Yulies Ariana memberikan semangat kepada putrinya Rifda Irfanaluthfi saat berkompetisi untuk senam artistik nomor beregu putri PON XX Papua di Istora Papua Bangkit, Jumat (1/10/2021). (ANTARA/Livia Kristianti)
Ibu Yulies Ariana memberikan semangat kepada putrinya Rifda Irfanaluthfi saat berkompetisi untuk senam artistik nomor beregu putri PON XX Papua di Istora Papua Bangkit, Jumat (1/10/2021). (ANTARA/Livia Kristianti)


Kisah di atas hanya sepenggal pengalaman mendebarkan yang dialami dan dijalani Yulies untuk mendukung Rifda sebagai atlet profesional.

Ia menyakini karier Rifda yang gemilang itu pun berasal dari jerih payah sang buah hati dan dirinya yang dipupuk lebih dari sepuluh tahun lamanya.

Yulies tak menyangka niat awalnya yang ingin mengajarkan Rifda olahraga dasar berujung pada jalan karir sang putri.

Kisah Rifda menjadi atlet bermula dari keinginan Yulies memberikan pelajaran renang kepada anaknya karena sebenarnya Yulies tidak bisa berenang.

“Nah ternyata di kolam renang itu, dia (Rifda) lincah banget. Dalam waktu enam bulan dia bisa menguasai empat gaya. Itu pun dua hasil latihan les, sementara dua lagi itu dia coba-coba sendiri belajar dari YouTube,” kata Yulies.

Yulies yang juga pada saat itu berprofesi sebagai guru di Sekolah Atlet Ragunan, melihat potensi Rifda yang bisa dikembangkan untuk menjadi atlet profesional yang bisa mengharumkan nama bangsa.

Melihat talenta anaknya yang gemar melakukan kegiatan olahraga, maka Yulies pun tidak tinggal diam dan langsung mengajak anaknya mencoba berbagai macam jenis olahraga.

Mulai dari senam artistik, senam ritmik, panjat tebing, lompat indah, hingga balet, semua dijajal oleh Rifda sedari usianya masih sangat belia.

Baca juga: Kemenangan di Slovakia tingkatkan semangat Senam Aerobik DKI di PON

Perjuangan sulit dan cibiran dari banyak orang pun dialami Yulies pada masa-masa pembentukan karakter Rifda menjadi seorang atlet.

Tak jarang orang tua lain justru merasa kasihan pada Rifda karena melihat keaktifan Rifda di berbagai cabang olahraga.

Namun di balik perjuangan yang panjang itu Yulies yakin anaknya akan menemukan satu olahraga yang tepat dan bisa menjadi juara.

“Banyak guru juga di Sekolah Ragunan itu nanya ke saya apa tidak kasihan mau menjadikan anaknya atlet? Ya saya jawab orang mau maju tidak ada yang namanya tidak capek, pasti capek dan bisa maju dengan caranya sendiri-sendiri,” kata Yulies.

Ia menambahkan, “Buat saya, Insya Allah saya tidak menjerumuskan anak, saya lihat dia bisa berkembang dan betul feeling saya, saya bilang dia akan jadi juara Indonesia yang terbaik, bahkan bisa di Asia Tenggara,” kata Yulies.

Asa Yulies pun terwujud dan benar kini Rifda dikenal karena pencapaiannya tidak hanya di kancah nasional tapi juga internasional.

Dengan usaha yang dilatih hingga puluhan tahun, Rifda berhasil menyabet dua medali emas dari ajang SEA Games, serta 1 medali perak di ajang Asian Games.

Yulies pun terus berharap Rifda bisa tetap mendapatkan hasil yang semakin baik lagi di perhelatan-perhelatan kompetisi internasional lainnya bahkan sampai ke tingkat Olimpiade.

Baca juga: Emas senam artistik nomor Vault milik Rifda Irfanaluthfi

Untuk ajang PON XX Papua, Yulies pun berharap dan yakin bahwa Rifda bisa tetap mempertahankan dan menambah perolehan medali sehingga bisa mengharumkan provinsi yang dibelanya.

“Semoga dengan dukungan dari orang tuanya (di PON Papua), dia tetap bisa tenang, lebih percaya diri, dan bisa naik semangatnya. Mungkin yang tadinya nilai 8 bisa jadi 8,5 dengan dukungan dan akhirnya bisa menang,” tutup Yulies.

Setelah berhasil menyabet dua medali emas di hari pertama kompetisi senam artistik, Rifda pun akan kembali bertanding di hari kedua pelaksanaan kompetisi PON XX Papua sebagai finalis untuk olahraga senam artistik nomor vault (meja lompat).

Sementara itu, Rifda pun bersyukur karena bundanya serta keluarga selalu mendukung langkahnya menjadi atlet profesional.

Raihan dua emas pertamanya di PON Papua dipersembahkan Rifda untuk keluarga dan bundanya.

“Aku persembahkan emas aku ini buat eyang yang wafat kemarin, dan juga kupersembahkan untuk keluarga. Selanjutnya ada persiapan untuk pertandingan berikutnya. Aku akan persiapkan yang chance (menangnya) besar. Terimakasih bunda sudah datang dan support Rifda selalu,” tutup dara berusia 21 tahun itu.

Rifda pun akan kembali bertanding di hari kedua pelaksanaan kompetisi PON XX Papua sebagai finalis untuk olahraga senam artistik nomor vault (meja lompat).

Baca juga: Rifda penuhi ekspektasi pelatih dengan emas nomor vault

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel