Review Film Cruella, Asal-usul Tokoh Antagonis Disney Paling Ikonik

·Bacaan 3 menit

VIVA – Hari ini, Rabu, 26 Mei 2021, film Disney yang telah cukup lama dinanti-nanti, Cruella akhirnya tayang di seluruh bioskop Indonesia.

Film besutan Craig Gillespie ini mengisahkan petualangan seru nan menegangkan salah satu tokoh villain alias penjahat paling ikonik di dunia Disney, Cruella de Vil.

Berlatar di Kota London tahun 1970-an, di tengah revolusi punk rock, Cruella menghadirkan kisah Estella, seorang gadis cerdas dan kreatif dengan ambisi besar dalam dunia fesyen.

Ini juga merupakan kisah origin tokoh antagonis yang sebelumnya diperkenalkan di buku karya Dodie Smith pada 1950-an dan film animasi 101 Dalmatians (1961), serta remake live-action (1996) dan sekuelnya (2000).

Sinopsis Cruella

Mengambil latar di era punk rock yang semarak di London tahun 70-an, Cruella adalah kisah asli yang mengungkapkan kisah menarik tentang bagaimana seorang gadis muda yang tak diterima masyarakat, berevolusi menjadi Cruella de Vil yang penuh gaya dan jahat.

Estella kecil (Tipper Seifert-Cleveland), adalah gadis penuh energi dan ketajaman, serta diberkati dengan kreativitas. Ia melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya.

Klik halaman berikutnya untuk melanjutkan.

Setelah kehilangan ibunya akibat sebuah kejadian yang menyedihkan, Estella harus bertahan hidup sendiri, hingga akhirnya bertemu dengan kedua temannya, Horace (Joseph MacDonald) dan Jasper (Ziggy Gardner).

Mereka bertumbuh bersama sampai dewasa, hingga suatu saat, Estella dewasa (Emma Stone) akhirnya berhasil bekerja di dunia fesyen dan menarik perhatian sosok paling legendaris dalam industri mode pada saat itu, Baroness von Hellman (Emma Thompson).

Estella merasa sangat senang karena ia telah menemukan sosok mentor yang ia butuhkan, akan tetapi, semua berubah saat ia dihadapkan dengan sebuah fakta yang tak terduga.

Review Cruella

Diproduseri oleh Andrew Gunn, Marc Platt dan Kristin Burr, dengan Emma Stone dan Michelle Wright bertindak sebagai produser eksekutif, Cruella juga dibintangi oleh sederet bintang lainnya, yakni Joel Fry, Paul Walter Hauser, Emily Beecham, Kirby Howell-Baptiste dan Mark Strong.

Film ini dengan berani menghadirkan dark humor dibalut gemerlap punk rock era 1970 dan semakin lengkap dengan penampilan luar biasa dari tokoh utamanya, Emma Stone dan Emma Thompson.

Ya, Stone dipuji banyak pihak. Ia dianggap sempurna memerankan karakter Cruella dengan segala kegilaan dan kejeniusannya.

Tak ketinggalan Thompson yang dianggap berhasil memerankan karakter Baroness, yang mana merupakan pemicu tokoh Estella memilih jalan gelap dan kegilaannya dengan berubah menjadi seorang Cruella de Vil. Baca artikel ini sampai selesai untuk mengetahui berita selengkapnya.

Menonton film ini, mata Anda akan dimanjakan dengan akting Stone dan Thompson yang licik dan gila serta high fashion yang menakjubkan. Tak heran, karena busana-busana memesona yang ada di film Cruella merupakan karya perancang kostum pemenang dua Oscar, Jenny Beavan.

Cruella juga dianggap sebagai film anti-Disney yang sukses mengisahkan kisah tokoh antagonisnya, menyusul kesuksesan film serupa, Maleficent yang dibintangi Angelina Jolie dan telah dibuat sekuelnya.

Jika Maleficent merupakan tokoh antagonis dalam dongeng Sleeping Beauty, Cruella de Vil adalah penjahat di film 101 Dalmatians.

Menurut sang produser, Andrew Gunn, tokoh Cruella sangat menarik untuk dieksplor. Ia dikenal sebagai karakter yang sangat modis, jahat dan sedikit gila, namun belum pernah ada kisah yang menjelaskan masa lalunya dan cerita di balik setiap perbuatannya.

“Cruella de Vil merupakan salah satu tokoh antagonis Disney yang paling ikonik. Sifatnya yang cerdas namun licik, tetapi juga modis, manipulatif dan tentunya sedikit gila, mencakup semua kualitas karakter yang dapat membuat Anda membenci sekaligus menyukainya,” ungkap Gunn dalam rilis yang diterima VIVA, Rabu, 26 Mei 2021.

Emma Stone sendiri mengatakan bahwa melihat kisah di balik karakter Cruella dan mengeksplor hal-hal yang membuatnya menjadi tokoh antagonis merupakan pengalaman yang menyenangkan.

"Dari kisahnya, kita bisa melihat bagaimana seseorang terbentuk karena pengalaman-pengalaman masa lalu yang mereka alami, bagaimana mereka bisa memilih untuk hancur atau bangkit kembali saat dihadapkan pada tekanan,” ujarnya.

“Film ini akan bercerita tentang hal-hal tersebut, namun dibalut dengan nuansa yang menyenangkan ala Disney serta dilengkapi dengan musik punk terbaik dari tahun 70-an,” tambah Emma Stone.