Review Cruella: Ugal-ugalan Maling Jalanan Bertemu Gaun Fashionista ala Devil Wears Prada

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Para tokoh antagonis ikonis satu demi satu dapat panggung: setelah Joker, Harley Quinn, dan Maleficent, kini giliran Cruella de Vil. Ceritanya dimulai jauh sebelum ia terobsesi dengan bulu-bulu anjing di 101 Dalmatians di film ikonis Disney.

Lahir dengan nama cantik, Estella (Emma Stone), ia lahir dengan rambut yang bikin kening orang berkerut, sebelah hitam dan belahan lainnya putih. Setelah mampu bicara, giliran kenekatan dan lidah tajamnya yang bikin orang meringis. Oleh ibunya (Emily Beecham), kala Estella kumat dengan omongan tajamnya, ia mendapat julukan Cruella.

Dunianya jungkir balik setelah menyaksikan ibunya tewas dengan mata kepala sendiri. Estella cilik menyalahkan dirinya sendiri atas kematian sang ibu, dan kabur ke London.

Sebatang kara, ia akhirnya bergabung dengan dua pencuri jalanan, Jasper (Joel Fry) dan Horace (Paul Walter Hauser).

Mimpi Estella, Kebangkitan Cruella

Cruella. (Disney via Instagram/ disneycruella)
Cruella. (Disney via Instagram/ disneycruella)

Biasa menjahit kostum penyamaran saat tengah beraksi, Estella diam-diam mendamba hidup sebagai seorang desainer fashion. Nasib membawanya bertemu Baroness (Emma Thompson) perancang adibusana kawakan berhati dingin dan tak peduli bila harus menginjak orang lain demi kesuksesannya.

Mata tajam Baroness menangkap bakat Estella. Sebaliknya, Estella menemukan kunci bahwa Baroness memiliki kaitan erat dengan kematian sang ibu belasan tahun lampau.

Sisi lain dirinya, Cruella, bangkit kembali dari tidur yang panjangnya.

De Vil Wears Prada

Cruella. (Disney via Instagram/ disneycruella)
Cruella. (Disney via Instagram/ disneycruella)

Sekilas pandang, Cruella langsung mengingatkan dengan sejumlah unsur di film lain. Taktik Estella dkk saat menggasak harta korbannya, mengingatkan dengan heist movies, alias film pencurian seperti Ocean’s Eleven. Namun jangan membayangkan trik super canggih. Mengingat kapasitas mereka hanya penjahat kelas teri, peralatan yang digunakan memang seadanya, tapi akal-akalan licik ini justru jadi daya tarik mereka.

Magnet lain dari Cruella, sudah jelas berasal dari departemen kostum dan makeup. Sepanjang dua jam durasi film, adegan demi adegan berjalan bak peragaan busana nonstop. Penampilan Baroness yang anggun, berhadapan dengan Cruella yang layaknya keluar dari koleksi desainer Alexander McQueen: mendobrak dan imajinatif.

Unsur inilah yang membuat media dan publik kerap menyebut-nyebut film Devil Wears Prada—atau kadang De Vil Wears Prada—saat membicarakan Cruella, bahkan sejak trailer film ini tayang perdana.

Pilihan Lagu

Cruella. (Disney via Instagram/ disneycruella)
Cruella. (Disney via Instagram/ disneycruella)

Tak cuma menyegarkan mata, Cruella juga menggelitik dari segi pilihan soundtrack. Sutradara Craig Gillespie menghadirkan lagu-lagu dari dua kutub berbeda untuk memperkuat jati diri Cruella dan Baroness di atas layar.

Lantunan suara merdu dan berwibawa Nina Simone di “Feeling Good”, dihadirkan untuk menghadirkan sisi aristokrat Baroness.

Sementara untuk Cruella yang pemberontak, tampaknya memang tak ada pilihan lebih pas ketimbang lagu-lagu punk-rock seperti “One Way to Another” dari Blondie atau “Should I Stay or Should I Go” milik The Clash yang ikonis.

Emma vs Emma

Cruella. (Disney via Instagram/ disneycruella)
Cruella. (Disney via Instagram/ disneycruella)

Apa lagi hal menarik dari Cruella? Jelas saja adu akting Emma vs Emma. AKtris beda generasi ini memberikan penampilan ciamik sesuai porsinya masing-masing.

Emma Thompson yang sepanjang kariernya kerap memerankan tokoh protagonis, kini berdiri sebagai tokoh jahat dengan tatapan matanya sinis dan merendahkan.

Sementara Emma Stone, terasa meleburkan persona aslinya sebagai Estella di bagian awal kemunculannya. Gerak tubuh Estella mengingatkan pada sosok asli Emma yang cenderung komikal, tapi begitu karakternya bermetafosis sebagai Cruella, kesan ini luntur sudah.

Tak Terasa Seperti Origin Story

Pertanyaan terhadap film ini sendiri, kebanyakan datang dari segi plot. Bila segi kostum, tata musik, dan akting yang jempolan ini dikesampingkan, isinya adalah formula yang sebenarnya bukan barang baru, soal mencari keadilan dan dendam masa lalu.

Cruella sebenarnya punya banyak potensi emosional yang bisa lebih digali, soal identitas, wacana psikologi nature vs nurture, hingga hubungan mentor dan muridnya antara Estella dan Baroness. Tapi Cruella dibentuk untuk bermain aman di permukaan. Demi tontonan ringan menyambut liburan musim panas? Bisa jadi.

Hal lain yang patut dicatat, film ini berupaya membuat penonton bersimpati kepada Cruella—dengan segala hitam putih kepribadiannya. Hanya saja semakin lama film berjalan, Cruella di sini terasa semakin jauh dari sosoknya di 101 Dalmatians.

Cruella tak terasa seperti origin story alias cerita kelahiran sang tokoh antagonis, tapi tetap nyomot referensi dari 101 Dalmatians agar masih terasa terhubung dengan film ini. Sayang memang, tapi setidaknya gaun-gaun fenomenal yang dikenakan Emma Stone, dan kelicikan Cruella versi baru ini, masih ampuh untuk bikin penonton betah di tempat duduk.

Cruella kini telah ditayangkan di bioskop Tanah Air. Selamat menonton!

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel