Review Film Aku Lupa Aku Luka: Dalang Pembunuhan Berkeliaran di Gunung, Incar Cewek Pendaki

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Mendaki gunung untuk mengenang orang terkasih, Laura (Salshabilla Adriani) diperingatkan adiknya agar tak sendirian ke sana. Namun ia berkukuh. Seorang pria dengan sorot mata tajam mengikutinya.

Bahkan pria ini sempat menawari Laura makan dan minum selama menginap di tenda. Suatu malam, Laura keluar tenda karena kebelet pipis. Saat itu, seorang laki-laki dengan topeng kayu mengintai.

Laura lantas dikejar dan berusaha dibunuh. Sempat terkubur hidup-hidup, ia berhasil kabur dan menemukan jalan setapak nan sepi. Inilah review film Aku Lupa Aku Luka.

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Mobil Rey di Jalanan Sepi

Karakter Rey dalam film Aku Lupa Aku Luka, diperankan Junior Roberts. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)
Karakter Rey dalam film Aku Lupa Aku Luka, diperankan Junior Roberts. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)

Di jalanan itu, Laura menyetop mobil Rey (Junior Roberts). Rey membawa Laura ke rumah milik Albert (Dewa Dayana), yang sejak awal tak menyukai kedatangannya. Rey kemudian menghubungi polisi untuk melaporkan percobaan pembunuhan terhadap Laura.

Tinggal di daerah terpencil, kebutuhan dari sembako hingga rokok disuplai pedagang bernama Doni (Jerome Kurnia). Beberapa jam setelah menetap di rumah ini, Laura syok berat mendapati fakta telepon yang dipakai Rey kabelnya putus.

Beberapa Tokoh Tampak Janggal

Salshabilla Adriani sebagai Laura dalam Aku Lupa Aku Luka. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)
Salshabilla Adriani sebagai Laura dalam Aku Lupa Aku Luka. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)

Yang khas dari film kebanyakan film untuk platform streaming, lokasi yang minimal. Aku Lupa Aku Luka bergerak di sekitar hutan, jalan setapak, gubuk, dan rumah Albert. Meski demikian, ketegangan tidak mengendur dan plot tak serta merta datar.

Kuncinya, membiarkan beberapa tokoh tampak janggal untuk memancing penonton menerka dalang sesungguhnya. Dua tokoh yang dikondisikan mencurigakan adalah Albert dan seorang pria yang menawari Laura makan.

Tak Akan Terkecoh

Salah satu adegan film Aku Lupa Aku Luka. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)
Salah satu adegan film Aku Lupa Aku Luka. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)

Bagi yang rajin menonton thriller tak akan terkecoh dengan air muka sangar. Justru di genre ini, hukum “tampang Rambo hati Rinto” berlaku. Para bintang dalam film ini mampu membawakan perannya dengan baik.

Salshabilla Adriani barangkali kurang bertenaga di awal. Kita tidak melihat kedalaman luka ditinggal orang terkasih sampai sebuah foto kenangan diperlihatkan.

Junior Roberts paling stabil memainkan tokoh Rey meski aksentuasi agak babak belur, khususnya pada kata tertentu. Namun, karisma dan ketenangannya menghadapi kemelut layak diacungi jempol.

Performa Dewa Dayana

Dewa Dayana sebagai Albert dalam film Aku Lupa Aku Luka. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)
Dewa Dayana sebagai Albert dalam film Aku Lupa Aku Luka. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)

Dewa Dayana di balik kesangarannya tampak penuh selidik dan punya motivasi cukup jelas. Cenderung mudah curiga, menolak asal percaya, dan paling berjaga-jaga. Doni juga tak bisa dipandang sepele. Air mukanya ramah, menyenangkan, dan paling ringan tangan.

Kalau boleh mengingatkan, peraturan nomor satu dalam menonton film thriller adalah trust no body. Jangan gampang percaya pada tokoh-tokoh yang intens muncul di layar

Aku Lupa Aku Luka tipe film yang straight to the point. Pola tuturnya kurang lebih begini: Ini ada masalah, yang terlibat si A, B, C, dan D. Lo mau percaya sama yang mana dan siapa dalangnya, mari kita cek. Sesimpel itu.

Kilas Balik

Jerome Kurnia sebagai Doni dalam Aku Lupa Aku Luka. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)
Jerome Kurnia sebagai Doni dalam Aku Lupa Aku Luka. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)

Kilas balik dipakai hanya untuk mengonfirmasi beberapa lubang plot yang sedikit banyak terasa di awal. Dengan tuturan yang ringkas, memang tidak mengagetkan jika Aku Lupa Aku Luka hanya butuh waktu 60 menit.

Lalu apa yang kurang dari film ini? Tanjakan konflik. Daya tarik thriller adalah ketegangan. Elemen ini kurang terasa. Pasalnya, kehadiran makhluk halus yang sebenarnya membawa klu penting kurang terjelaskan di sini. Penampakannya seram. Namun kehadirannya kurang mengejutkan.

Kedua, motivasi dalang kurang tergambar jelas. Disampaikan lisan, sehingga kita tak bisa “meraba” seberapa brutal aksinya dan semengerikan apa dampaknya terhadap tokoh utama. Walhasil, konflik teras kurang klimaks.

Sederhana, Lugas, Tepat Sasaran

Adegan film Aku Lupa Aku Luka. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)
Adegan film Aku Lupa Aku Luka. (Foto: Dok. KlikFilm Productions)

Ketiga, latar belakang tokoh utama yang dibiarkan seorang diri. Suara di balik telepon menjelaskan namun bukan latar seperti ini yang mungkin didamba penonton. Dengan plus minusnya, Aku Lupa Aku Luka tetap menarik untuk ditonton.

Durasi ringkas salah satu faktor yang membuat film ini terasa sederhana, lugas, tepat sasaran, bebas jenuh, dan berpotensi besar untuk disukai penonton. Barisan pemainnya terasa segar, kombinasinya pun unik.

Salshabilla Adriani, Junior Roberts, Dewa Dayana, dan Jerome Kurnia memberi effort yang tak mengecewakan. Apalagi ending-nya memperlihatkan sisi kemanusiaan dari dua tokoh kunci. Film ini menarik. Anda bisa menyaksikannya secara legal lewat KlikFilm mulai Oktober 2021.

Pemain: Salshabilla Adriani, Junior Roberts, Dewa Dayana, Jerome Kurnia

Produser: Agung Haryanto, Karli Surya Winata

Sutradara: Dyan Sunu Prastowo

Penulis: Eimiria Tamsyarina

Produksi: KlikFilm Productions, Canary Studios, Limelight Pictures

Durasi: 60 menit

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel