Review Film Venom: Let There Be Carnage, Pernikahan Berdarah di Altar Gereja dengan 3 Tamu Spesial

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Tiga tahun silam, Columbia Pictures membuat keputusan mengejutkan dengan membiayai proyek Venom sebesar 100 juta dolar AS atau setara dengan 1,5 triliun rupiah.

Musuh legendaris Spider-man ini dibuatkan film sendiri dengan Tom Hardy sebagai pemeran utama. Villain-nya Riz Ahmed, sebagai Carlton Drake yang visioner di Life Fondation. Meski kebanjiran kritik pedas, tetap saja Venom diserbu pencinta komik Marvel.

Ia pulang bersama pendapatan kotor 856 juta dolar AS, setara dengan 12,2 triliun rupiah. Walhasil proyek sekuel bertajuk Venom: Let There Be Carnage peroleh lampu hijau. Berikut review film Venom 2.

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pada 1996

Tom Hardy sebagai Eddie Brock alias Venom. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)
Tom Hardy sebagai Eddie Brock alias Venom. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)

Cerita Venom: Let There Be Carnage bermula pada 1996. Cletus Kasady (Jack Bandeira) yang mendekam di Rumah St. Estes syok berat mendapati cewek yang dicintainya, Frances Barrison (Olumide Olorunfemi) dibawa paksa ke Institut Ravencroft.

Di tengah jalan, dia menggunakan kekuatan teriakan sonik untuk melarikan diri dan menyerang aparat muda Patrick Mulligan (Stephen Graham). Patrick menembak Barrison di bagian mata dan yakin perempuan ini tewas. Namun takdir berkata lain.

Menahun kemudian, Eddie Brock (Tom Hardy) mewawancara Cletus (Woody Harrelson). Wawancara ini berujung keributan. Cletus menggigit tangan Eddie. Darah Eddie masuk ke tubuhnya dan memicu reaksi tak biasa.

Evaluasi Andy

Michelle Williams sebagai Anne Weying dalam Venom: Let There Be Carnage. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)
Michelle Williams sebagai Anne Weying dalam Venom: Let There Be Carnage. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)

Di sisi lain, belakangan Eddie kerap cekcok dengan Venom. Puncaknya, baku hantam antara Eddie dan simbiotnya. Venom minggat dari tubuh si mantan jurnalis. Hampir berbareng dengan itu, Cletus kabur dan membebaskan Frances. Cletus dan Frances ingin menikah.

Pernikahan berdarah di gereja ini mengundang tiga tamu yakni Eddie, Venom, dan Patrick. Masalahnya, tanpa Venom, Eddie melemah. Anne (Michelle Williams) yang telah bertunangan dengan Dan Lewis (Reid Scott) berupaya menjadi juru damai.

Sebagian kritikus mengkritik jilid perdana Venom salah treatment. Sebagian lagi menuding Venom edisi pertama terlalu kelam. Tampaknya Andy Serkis mengevaluasi. Ia memformat Let There Be Carnage menjadi lebih meriah dengan selera humor bertebaran di banyak titik.

Eddie Versus Simbiot

Salah satu adegan film Venom: Let There Be Carnage. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)
Salah satu adegan film Venom: Let There Be Carnage. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)

Film ini dibelah menjadi beberapa pilar. Konflik “rumah tangga” Eddie dan simbiot penting namun dikemas kasual hingga memantik banyak tawa. Di sisi lain, drama ketegangan dan keseriusan menyertai perpisahan Frances dan Cletus.

Hawa romantis datang dari pertemuan Eddie dan sang mantan. Bagian lain diformat penuh aksi, tanpa basa-basi, plus efek visual untuk menyajikan babak akhir sebagai klimaks.

Ditopang Empat Pilar

Salah satu adegan film Venom: Let There Be Carnage. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)
Salah satu adegan film Venom: Let There Be Carnage. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)

Empat pilar ini membuat Let There Be Carnage terasa meriah dan nyaris tanpa jeda bagi penonton untuk sekadar “menarik napas.” Penceritaan dibuat seringkas dan sepadat mungkin.

Ketika produk Marvel dan DC belakangan sok rumit (walau ada yang rumit benaran) sampai butuh durasi hampir tiga jam, Venom seolah tak peduli. Kalau bisa bertutur ringkas dengan efek “hore” yang dahsyat, kenapa mesti dipanjang-panjangin? Barangkali itulah gaya kerja Venom.

Ketepatan Memilih Pemain

Salah satu adegan film Venom: Let There Be Carnage. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)
Salah satu adegan film Venom: Let There Be Carnage. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)

Tom Hardy, lagi-lagi memperlihatkan skill akting apik. Keributannya dengan simbiot terasa seperti orang yang telah lama berumah tangga. Tekanan batin yang cenderung depresif di jilid awal tak tampak lagi.

Tentu karena Eddie telah melakukan penerimaan diri sebagai insan yang terpapar. Meski begitu, melihat ekspresinya ribut dengan simbiot, pontang-panting mencari jalan keluar saat situasi krisis, terasa seru dan masuk akal saja.

Belum lagi saat menghadapi Michelle Williams, dua nomine Oscar ini tampak canggung betulan dan meyakinkan. Jelas keduanya bukan produk salah casting. Yang paling gong, adalah babak akhir Let There Be Carnage.

Tampil di Level Asyik

Salah satu adegan film Venom: Let There Be Carnage. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)
Salah satu adegan film Venom: Let There Be Carnage. (Foto: Dok. Columbia Pictures/ Marvel Entertainment)

Sineas Andy Serkis berhasil menciptakan titik kritis lalu diselesaikan tanpa bertele-tele. Duet Woody dan Naomi Harris terasa kompak meski kadang kelabakan sendiri menghadapi simbiot jilid kedua.

Para bintang Venom 2 sejatinya tampil di level asyik. Tak butuh akting level wahid, karena jika meminjam istilah Martin Scorsese, Venom adalah wahana bermain yang memungkinkan para bintang bersenang-senang.

Aura hip-hip hura ini sampai ke penonton. Jadilah Venom: Let There Be Carnage sebuah sekuel yang tak mengecawakan. Tonton, deh.

Pemain: Tom Hardy, Michelle Williams, Naomi Harris, Reid Scott, Stephen Graham, Woody Harrelson

Produser: Avi Arad, Amy Pascal, Hutch Parker, Kelly Marcel, Tom Hardy, Matt Tolmach

Sutradara: Andy Serkis

Penulis: Kelly Marcel

Produksi: Columbia Pictures, Marvel Entertainment

Durasi: 1 jam, 37 menit

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel