Review Novel Sitti Nurbaya Karya Marah Rusli

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Novel berjudul Sitti Nurbaya Karya Marah Rusli, adalah sebuah novel yang menceritakan tentang seorang perempuan bernama Sitti Nurbaya, yang sudah menderita sejak ia masih kanak-kanak, karena ditinggal ibunya meninggal.

Sitti hidup bersama dengan ayahnya, yang bernama Baginda Sulaiman, seorang pedagang ternama di kota Padang. Baginda Sulaiman meminjam uang dari seorang rentenir bernama Datuk Maringgih, sebagai modal usahanya yang sempat mengalami kemajuan pesat.

Karena Datuk Maringgih memiliki sifat serakah, sehingga ia membakar semua kios milik Baginda Sulaiman, agar Baginda Sulaiman jatuh miskin dan tidak bisa membayar uang pinjaman. Sehingga Datuk Maringgih bisa menganggap hutang tersebut lunas, jika Baginda Sulaiman menyerahkan Sitti Nurbaya kepada Datuk Maringgih.

Novel Sitti Nurbaya

ilustrasi novel/Aline Viana Prado/pexels
ilustrasi novel/Aline Viana Prado/pexels

Judul Buku : Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)

Pengarang : Marah Rusli

Penerbit : Balai Pustaka

Tahun Terbit : 1992

Tempat Terbit : Jakarta

Tebal : 271 halaman

Karena kesialan menimpa usaha Baginda Sulaiman, sehingga Beliau tidak sanggup untuk membayar hutang kepada Datuk Maringgih, selain menerima perjodohan anaknya dengan Datuk Maringgih.

Sitti Nurbaya menangis mendengar kenyataan yang ia alami. Karena ia harus menikahi seorang lelaki tua yang bernama Datuk Maringgih demi melunasi hutang ayahnya, dan harus meninggalkan kekasihnya bernama Samsulbahri, yang sedang bersekolah di Stovia, Jakarta.

"Dari tanah lapang, hendak kemari. Tatkala sampai ke rumahjaga, di ujung jalan ini, kedengaran oleh hamba bunyi katukkatuk; sebab itu hamba berlari-lari kemari."

Novel berjudul Sitti Nurbaya ini, pertama kali di cetak ditahun 1922. Novel ini termasuk dalam novel sastra Indonesia modern, yang sangat populer dan juga diadopsi dalam film layar lebar.

Penulis mengenalkan tentang kisah cinta di masa itu, yang kisah cintanya tak kunjung padam antara Sitti Nurbaya dan Samsulbahri. Novel ini juga menceritakan tentang lika-liku kehidupan masyarakat Padang.

Sitti Nurbaya ingin menemui Samsulbahri di Jakarta, karena ia mengetahui kalau kekasihnya diusir orang tuanya. Namun niatan ke Jakarta ini diketahui oleh kaki tangan Datuk Maringgi. Hingga akhirnya Sitti Nurbaya meninggal dunia, karena meminum lemang beracun yang diberikan kaki tangan Datuk Maringgi.

"Laki-laki yang serupa itu masakan laku! Yang dibeli,tentulah yang bangsawan, rupawan, pintar, berpangkat atau lainlainnya."

Karena kematian Sitti Nurbaya, akhirnya Samsulbahri memiliki niat untuk bunuh diri dan putus asa, karena kekasih yang sangat ia cintai telah meninggal dunia. Tetapi ia mengurungkan niatnya, dan kemudian keluar sekolah, lalu mendaftarkan diri dengan memasuki dinas militer.

Sepuluh tahun kemudian, terjadilah kerusuhan di Padang yang disebabkan oleh Datuk Maringgi. Kemudian Samsulbahri yang berpangkat Letnan, dikirim ke Padang untuk mengamankan situasi tersebut. Akhirnya Samsulbahri menembak Datuk Maringgi hingga terjatuh, namun sayangnya Datuk Maringgi sempat membacok Samsulbahri dengan parangnya.

"Baiklah, kalau benar engkau bersuka hati melihat aku mengikut, niscaya engkau kelak takkan takut memanjat pohon jambu Keling untuk aku."

Novel ini memiliki banyak sekali misteri kehidupan, yang dikemas dengan kisah cinta yang sangat ironis. Para pembaca tidak pernah bosan membaca novel ini secara berulang-ulang.

Selain menceritakan sebuah kisah cinta, novel ini juga bercerita tentang patriotisme, hingga sebuah perjuangan dalam kehidupan, yang memiliki banyak sekali nilai-nilai moral yang dapat dipelajari.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel