Review Xiaomi Mi3 – Sebuah Angkatan Baru Dunia Smartphone

Selama lima tahun ke belakang, perkembangan smartphone telah berkembang dengan sangat pesat terutama dari segi aplikasi dan monetisasi. Siapa yang dapat mengira bahwa industri mobile bisa begitu berkembang jauh melebihi pembelian pulsa untuk SMS dan telepon? Pada tahun 2013 perusahaan dengan nilai pasar terbesar bukanlah perusahaan minyak seperti Exxon melainkan Apple, produsen smartphone.

Dari segi hardware, smartphone juga mengalami peningkatan yang cukup baik. Mulai dari prosesor 400MHz sekitar 7 tahun lalu sampai dengan Tegra K1 yang mempunyai 4 core dengan kecepatan 2.3 GHz (2.300MHz). Namun walaupun begitu, hardware adalah salah satu aspek yang paling tidak berkembang dari segi fungsi, kebanyakan upgrade hanya berupa kecepatan yang meningkat 2 kali setiap tahun. Ada beberapa teknologi seperti NFC, retina display, atau finger scan, namun berapa banyak smartphone yang menggunakan teknologi ini? NFC sebagai contoh menjanjikan beberapa kemudahan seperti pembayaran elektronik untuk berbelanja atau membeli tiket. Namun semenjak tersedia secara komersil pada tahun 2006 (8 tahun yang lalu) penggunaannya tidak terlalu luas dan adopsinya tidak terlalu tinggi, apa lagi di Indonesia.

Tegra K1 | One Third
Tegra K1 | One Third

Namun walaupun begitu, hardware adalah salah satu aspek yang paling tidak berkembang dari segi fungsi, kebanyakan upgrade hanya berupa kecepatan yang meningkat 2x setiap tahun.

Oneplus and Xiaomi Logo | One Third
Oneplus and Xiaomi Logo | One Third

Apa penyebabnya? Tentu saja ada beberapa hal namun menurut saya yang paling signifikan adalah teknologi seperti ini hanya tersedia di smartphone kelas atas. Semakin mahal harga smartphone maka semakin sedikit orang yang menggunakannya, dan jika teknologi baru seperti NFC hanya tersedia di smartphone yang mahal lalu bagaimana bisa teknologi tersebut digunakan secara luas? Tapi semua itu akan berubah dalam waktu cepat.

Xiaomi dan Oneplus adalah sebuah contoh bagaimana industri smartphone akan berubah dengan drastis dan dengan kecepatan yang luar biasa. Kedua produsen ini menawarkan sebuah smartphone dengan harga rendah namun dengan spesifikasi tinggi yang siap dengan berbagai aplikasi dan teknologi. Batasan antara smartphone high-end dan low-end akan mulai menipis dan kita sedang berada di awal dari perubahan industri mobile ini.

Kali saya akan mengulas smartphone Xiaomi Mi3 yang sudah tersedia dari Desember 2013. Saya putuskan untuk mengulas Mi3 karena sebentar lagi Xiaomi akan masuk ke Indonesia dan tentunya banyak dari kamu yang penasaran dengan kelebihan dan kekurangan Xiaomi Mi3 terutama dari segi gaming. Jadi mari kita jajal sang penantang smartphone kelas atas dengan harga murah ini.

Design

Xiaomi Mi3 | Image 6 Full
Xiaomi Mi3 | Image 6 Full

Pertama kali melihat Xiaomi Mi3 (yang selanjutnya akan disebut Mi3) saya langsung teringat Nokia Lumia yang mempunyai desain yang mirip. Mi3 hadir dengan bentuk ramping dan memanjang disertai dengan sebuah layar dengan lapisan yang menyatu dengan seluruh bagian depan smartphone. Kamu akan mendapatkan sebuah layar datar yang luas tanpa ada pengganggu seperti tombol home screen yang menonjol. Mi3 terasa seperti sebuah kaca yang di potong secara persegi panjang dan lalu dijadikan layar tanpa ada penambahan apa-apa lagi. Datar dan bersih.

Bagian belakang Mi3 terasa seperti sebuah bahan aluminium walaupun sebenarnya plastik yang diperkuat dengan magnesium alloy. Bagian belakang juga hanya terdiri dari satu bagian yang menyatu dengan bagian depan layar tanpa sambungan di samping atau biasa disebut dengan unibody.

Datang dari produsen China yang namanya tidak pernah saya dengar sebelum Hugo Barra pindah, saya mengharapkan sesuatu yang sedikit “cacat”, lagi pula ini adalah smartphone 3 juta dengan nilai benchmark yang mengalahkan Galaxy S5 dengan harga 2 kali lipat. Pastinya ada yang akan dikorbankan bukan? Untuk hal ini saya dengan senang melaporkan bahwa finishing build dari Mi3 terbilang sangat baik dan solid, saya tidak menemukan kecacatan sama sekali dalam 2 buah Mi3 yang saya dan adik saya miliki. Semua tombol dan lubang dibuat dengan sangat presisi dan kamu bisa tahu ini dengan cara menekan tombol sleep atau volume. Tombolnya terasa kokoh dan tidak memiliki jarak yang dapat membuat tombol dapat bergerak ditempat jika kamu sentuh dan gerakan secara lembut.

Xiaomi Mi 3 | One Third
Xiaomi Mi 3 | One Third

Tombolnya terasa kokoh dan tidak memiliki jarak yang dapat membuat tombol dapat bergerak ditempat jika kamu sentuh dan gerakan secara lembut.

Begitu digenggam saya merasakan bahwa saya sedang memegang sebuah smartphone dengan harga Rp 5 juta ke atas (memiliki berat dan ketipisan yang sama dengan Galaxy S5). Memang tidak bisa mengalahkan kemewahan iPhone 5s namun dengan harganya yang hanya Rp 3 juta, Mi3 hampir tidak memiliki pesaing dalam segi desain dan build quality.

Yang saya suka dari Mi3 adalah seluruh penempatan tombol dan slot diposisikan dengan benar, setidaknya menurut kebiasaan saya. Headphone jack berada di bagian atas dengan slot micro USB di bagian bawah. Beberapa orang akan suka dengan kebalikannya dan saya tidak dapat menyalahkan mereka namun secara pribadi menggunakan headphone slot di bawah (seperti iPhone 5s dan iPod Touch) benar-benar menyulitkan terutama jika kamu memiliki headphone dengan jack yang besar seperti yang saya miliki.

Sebuah fitur minor namun yang cukup menyenangkan adalah Xiaomi Mi3 datang dengan dua tipe SIM card adapter, sehingga SIM card apapun yang kamu miliki baik mini atau micro dapat langsung digunakan.

Software

Xiaomi | Apps Icon Full
Xiaomi | Apps Icon Full

Xiaomi Mi3 datang dengan MIUI, sebuah custom ROM garapan Xiaomi yang mengambil kemudahan penggunaan iOS dan menggabungkannya dengan kebebasan Android. Sebelum ini saya tidak pernah menggunakan atau bahkan mendengar mengenai MIUI dan merupakan pengguna iOS selama 2 tahun (sebelum akhirnya menggunakan Android secara eksklusif). Mulut saya sedikit terbuka dan mata saya membesar, ini adalah salah satu ROM paling indah dan mudah yang pernah saya gunakan. Saya harus bertanya kepada diri saya sendiri sekali lagi, apakah ini Android?

Saya ingat pertama kali saya menggunakan Android (Galaxy Spica dan kemudian Galaxy Tab 7.7), saya cukup kewalahan dengan berbagai kustomisasi yang ditawarkan dan menghabiskan waktu berjam-jam (yang menyenangkan tentunya) untuk setting smartphone setelah dibuka dari kotaknya. Dengan MIUI saya hanya menghabiskan waktu 30 menit dan saya sudah merasa seperti di rumah. Jika kamu selalu berharap menemukan sebuah OS smartphone dengan kemudahan iOS namun mempunyai kustomisasi yang sedikit lebih banyak maka kamu akan suka dengan MIUI.

MIUI UI | Screenshot
MIUI UI | Screenshot

Walaupun MIUI banyak berguru dari iOS namun bukan berarti mereka melakukan copy-paste mentah-mentah. MIUI mempunyai navigasi menu yang mudah dimengerti khas iOS namun dengan design dan tampilan interface yang berbeda. MIUI terasa sangat flat dan penuh dengan warna sehingga mirip dengan Android L daripada dengan iOS (secara visual). Jadi bisa dibilang MIUI mengambil hal terbaik dari kedua operating system dan meleburnya menjadi satu.

Satu hal yang saya sangat suka dari MIUI adalah ROM ini datang dengan berbagai software pelengkap sehingga kita tidak mengunduh dua puluh aplikasi terpisah untuk melakukan tugas dasar. Namun bukan berarti MIUI mempunyai banyak bloatware seperti yang dilakukan banyak smartphone lainnya. Xiaomi dengan pintar bekerja sama dengan beberapa developer app seperti Tencent atau Clean Master untuk membuat aplikasi mereka menjadi aplikasi bawaan namun dengan interface MIUI. Jadi kamu akan merasa seperti menggunakan aplikasi bawaan namun sebenarnya aplikasi lain yang diubah secara interface sehingga menyatu dengan seluruh operating system.

MIUI diklaim datang dengan 200 fungsi baru dibanding dengan Android stock dan sampai tiga bulan penggunaan saya selalu menemukan kemudahan baru setiap hari, langsung dari MIUI tanpa harus mengunduh sesuatu. Sebagai contoh jika kamu menghapus sebuah aplikasi/game dan aplikasi tersebut meninggalkan jejak berupa file atau folder ditempat lain maka kamu akan ditawarkan untuk juga menghapusnya juga. Fitur sederhana seperti ini sangat praktis dan kamu tidak akan bingung dengan space yang menipis namun tidak tahu gara-gara apa.

MiCloud

MiCloud Logo
MiCloud Logo

Salah satu hal lain yang membuat saya tersenyum geli adalah Xiaomi menawarkan MiCloud sebuah platform Cloud sebagai tandingan iCloud milik Apple. Dengan MiCloud, kamu dapat menyimpan foto, phonebook, SMS, dan berbagai file lain di cloud sampai dengan 10 GB tanpa biaya (sebagai informasi iCloud hanya menawarkan 5 GB secara gratis). Dengan ini kamu tidak perlu khawatir dengan data yang ada di Mi3, bahkan jika Mi3 kamu rusak total pun kamu selalu dapat mengunduh ulang data kamu (sampai kepada panggilan dan missed call). Fitur ini juga dapat diakses online lewat i.mi.com. Secara singkat MiCloud adalah iCloud dengan fitur yang lebih sedikit (tidak bisa membuat tulisan dan presentasi secara online).

Mi Cloud | Screenshot
Mi Cloud | Screenshot

Technical Specification

CPU

Quad Core 2.3 Ghz, Snapdragon 800

GPU

Adreno 330

Camera (back)

Sony Exmor 13MP

Camera (front)

2MP

Battery

3050mAh

RAM

2GB

Flash Memory

16GB

Display

5", 1080p, 441

Operating System

Android 4.3, MIUI 5

Screen Performance

Xiaomi Mi3 | Image 9 Full
Xiaomi Mi3 | Image 9 Full
Gradient Test Mi 3
Gradient Test Mi 3

Kamu bisa melihat sedikit colour banding (gradien yang tidak halus untuk Mi3)

Colour test Mi 3
Colour test Mi 3

Pada Lenovo S920 kamu bisa melihat garis cukup tegas terutama di tiga kotak terakhir dibanding Mi3

Xiaomi Mi3 datang dengan besar layar 5″ dan dengan resolusi sebesar 1920 x 1080 full HD (441 PPI). Bagi kamu yang tidak familiar dengan angka-angka barusan, saya akan mempermudahnya: Mi3 mempunyai tampilan yang bagus dan tajam. Begitu melihat ketajaman Mi3 kamu akan sulit untuk kembali menggunakan smartphone dengan layar non-retina (minimal 326 PPI).

Saya memang bukan ahlinya video namun dengan mata biasa saja, kualitas layar Mi3 terlihat cukup baik dengan tint warna yang sedikit kekuningan atau yelowish. Namun jika kamu penggila kualitas layar tingkat tinggi maka kamu akan sedikit kecewa karena ketika saya menjalankan tes kontras, gradien, dan tingkat kehitaman hasilnya sedikit mengecewakan dan dengan mudah dikalahkan oleh Lenovo S920. Tapi sekali lagi pengguna casual dan bahkan mid-core tidak akan menyadari perbedaannya.

Satu hal yang masih dipertanyakan adalah apakah Mi3 menggunakan Gorilla Glass? Spesifikasi di website resminya tidak menyebutkan demikian namun account resmi Facebook mereka mengatakan sebaliknya. Insting saya mengatakan tidak, namun untuk sekarang tidak ada jawaban pastinya. Jika kamu nanti akan membeli Mi3 maka sebaiknya juga membeli sebuah screen protector untuk berjaga-jaga jika layarnya bukan Gorilla Glass.

Gaming & Apps Performance

Xiaomi Mi3 | Gaming Image Full
Xiaomi Mi3 | Gaming Image Full

Dalam penggunaan sehari-hari Mi3 terasa lancar dan tidak ada masalah sama sekali. Perpindahan antara app atau game terjadi dengan lancar dan jeda yang masih masuk akal. Dibanding dengan Nexus 4 (KitKat) yang saya gunakan sebelum ini, Mi3 mempunyai performa yang lebih cepat dan responsif (mungkin sekitar 30% peningkatan). Hal ini sangat terbantu dengan RAM sebesar 2 GB sehingga multitaksing terasa ringan. Sejauh ini Mi3 adalah smartphone dengan navigasi paling cepat dan lancar yang pernah saya coba (namun untuk adilnya saya tidak pernah mencoba Galaxy S5, yang sebenarnya juga berbeda harga).

Bagi kamu yang suka dengan angka benchmark maka di bawah ini saya sudah menyiapkan dua benchmark yaitu Antutu dan Anomaly 2 Benchmark. Saya juga menyertakan hasil benchmark Nexus 5 dan Galaxy S4 sebagai perbandingan.

Smartphone

Antutu

Anomaly 2

Xiaomi Mi 3

35.792

1.250.321

Nexus 5

25.722

653.870

Galaxy S4

26.141

439.199

Qualcomm Snapdragon
Qualcomm Snapdragon

Seperti yang bisa kamu lihat sendiri hasil benchmark Mi3 berhasil menyamai smartphone high-end dengan harga yang dua kali lipat.

Dalam kondisi praktek saya menjajal game terberat yang saya bisa temukan di Google Play dan semuanya dilahap tanpa masalah, terima kasih kepada Adreno 330 yang merupakan salah satu yang GPU konsumen tercepat. Game yang saya gunakan untuk menjajal Mi3 adalah Minion Rush, Defender, dan Real Boxing.

Untuk sekarang game dan aplikasi apapun yang ada di Google Play dapat dijalankan oleh Mi3 dengan lancar tanpa kamu harus khawatir dengan spesifikasi smartphone kamu. Dengan prosesor quad-core Snapdragon, RAM 2 GB, dan GPU Adreno 330, Mi3 masih akan dengan gagah menghadapi semua game berat setidaknya dalam 1 tahun ke depan.

Camera Performance

Xiaomi Mi3 | Image 10 Full
Xiaomi Mi3 | Image 10 Full

Setelah mendapatkan banyak kualitas setara smartphone high-end tentunya juga saya mengharapkan kualitas kamera yang tidak kalah bagusnya. Namun sayangnya kamera adalah bagian terlemah dari Mi3. Boleh saja benchmark Antutu setara dengan Galaxy S5 namun dari kualitas kamera Mi3 masih di bawah smartphone high-end.

Jangan salah sangka dulu, kualitas kamera Mi3 sangatlah bagus terutama jika hanya kamu upload ke Instagram atau social media, para follower kamu mungkin tidak akan menyangka bahwa itu diambil dari kamera 3 jutaan. Tapi begitu kamu pindahkan foto ke laptop dan melihatnya dengan layar penuh maka kamu mulai dapat melihat hilangnya detail dan performa kamera yang biasa saja terutama dalam ruangan bercahaya sedang (grainy).

Jika Galaxy S5 yang merupakan salah satu smartphone dengan kualitas kamera paling baik di dunia saya beri nilai 8.5, maka Mi3 akan mempunyai nilai 7. Kamera depan Mi3 terbilang cukup standar dan cukup untuk penggunaan video chatting seperti Skype namun jika kamu mengharapkan hasil selfie yang bagus maka kamu akan kecewa. Saya akan meninggalkan kamu dengan 2 screenshot yang diambil langsung dari Xiaomi Mi3 tanpa edit sama sekali, kamu dapat memutuskan sendiri bagaimana hasil kamera Xiaomi yang menggunakan sensor Sony Exmor ini. Catatan: kemampuan kamera sesungguhnya baru akan terlihat jika kamu melihatnya secara penuh, klik gambar untuk melihatnya secara penuh.

Klik gambar untuk memperbesar (ukuran: 2.4MB)

Klik gambar untuk memperbesar (ukuran: 2MB)

Battery Performance

Xiaomi Mi3 | Image 3 Full
Xiaomi Mi3 | Image 3 Full

Dengan kapasitas baterai sebesar 3.050 mAh, Mi3 adalah salah satu smartphone dengan kapasitas baterai terbesar. Dua kali lipat dibanding iPhone 5S dan hampir 500 mAh lebih besar dari HTC One. Namun ini tidak berarti Mi3 dapat bertahan jauh lebih lama karena ada banyak faktor lain yang menentukan selain kapasitas baterai seperti optimisasi software.

Dalam penggunaan 3G menyala terus menerus, browsing sedang, Twitter cukup intensif, bermain Pokopang sampai energi habis (tiga kali sehari), email, dan memutar musik 1 album, maka Mi3 dapat bertahan selama 24 jam.

Saya sendiri termasuk orang yang jarang menggunakan 3G karena baik di rumah maupun kantor sudah terdapat Wi-Fi, jadi biasanya saya hanya mengaktifkan 2G dan mengubah mode performa menjadi conserver (irit tapi tidak bertenaga). Dengan mode ini Mi3 dapat bertahan selama 2-3 hari.

Mi3 mempunyai 3 mode dalam mengatur performa yaitu conserve, normal, dan perform. Biasanya saya selalu menggunakan conserve untuk menghemat baterai. Untuk penggunaan normal conserve saja sudah terasa cukup, namun terkadang saya harus mengubah ke mode normal jika ingin bermain game berat. Saya bahkan tidak pernah menggunakan mode performance karena saya tidak pernah mengalami masalah apa-apa dengan mode normal, ini menunjukkan bahwa Mi3 masih menyimpan tenaga di bawah kap mesinnya.

Verdict

Xiaomi Mi3 | Image 7 Half
Xiaomi Mi3 | Image 7 Half

Saya membeli Mi3 dengan harga sekitar Rp 3.100.000 (setelah melakukan refund GST) dan dengan harga segitu saya tidak bisa menemukan lawan yang sebanding. Secara hardware, software, baterai, dan kemampuan cloud, Mi3 mampu bersaing secara head-to-head dengan smartphone berharga 2 kali lipat. Satu-satunya yang tertinggal adalah kualitas kamera yang sebenarnya juga sudah sangat bagus namun memang tidak bisa menyamai smartphone kelas atas.

Xiaomi Mi3 akan masuk Indonesia dalam waktu dekat dengan harga yang mungkin tidak berbeda jauh (mengingat Moto G masuk ke Indonesia dengan harga yang juga relatif sama). Jika itu terjadi dan kamu sedang mencari smartphone dengan kemampuan gaming kelas atas maka jangan lewatkan kesempatan untuk membeli Mi3.

Catatan: Sebenarnya ada satu kekurangan Mi3 yang saya tidak masukkan dan itu adalah absennya 4G. Saya tidak masukan karena di Indonesia implementasi 4G mungkin akan memakan waktu 1-2 tahun lagi sampai benar-benar bisa dirasakan, dan itupun akan memasuki masa awal di mana jaringan akan tidak stabil, harga mahal, dan hal lainnya. Saya berkesempatan mencoba 4G di Singapura dan sangat terkesima dengan kecepatan download yang bisa mencapai 6 MB/s (download 1 lagu dalam 1 detik!). Jika ternyata 4G masuk Indonesia dalam waktu dekat maka Mi3 yang tidak memiliki 4G ini akan menjadi sedikit kurang menarik tapi saya ragu itu akan terjadi.

Post Review Xiaomi Mi3 – Sebuah Angkatan Baru Dunia Smartphone muncul terlebih dahulu di Games in Asia Indonesia.