Revisi PMK 241 Tinggal Diteken Menkeu

  • Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    Tempo
    Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menyayangkan penolakan Istana atas akuisisi Bank Tabungan Negara (BTN) oleh Bank Mandiri. "Sayang sekali sebenarnya. Momentum yang sangat baik tidak bisa kita manfaatkan," kata Dahlan kepada wartawan melalui pesan pendek pada Rabu, 23 April 2014. …

  • Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    Merdeka.com
    Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    MERDEKA.COM. Kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Sekretaris Kabinet (Setkab) Dipo Alam meminta Menteri BUMN Dahlan Iskan menunda rencana privatisasi PT. Bank Tabungan Negara (BBTN). …

  • Dahlan beberkan kekecewaannya saat SBY tak restui BTN diakuisisi

    Dahlan beberkan kekecewaannya saat SBY tak restui BTN diakuisisi

    Merdeka.com
    Dahlan beberkan kekecewaannya saat SBY tak restui BTN diakuisisi

    MERDEKA.COM. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar rencana akuisisi lebih dari 60 persen saham pemerintah di Bank Tabungan Negara (BTN) oleh Bank Mandiri ditunda. Soalnya, wacana itu dinilai sudah meresahkan masyarakat. …

JAKARTA - Penerbitan revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 241/2010 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor tinggal menunggu persetujuan dan tanda tangan Menteri Keuangan.

Kepala Badan Pengkajian Kebijakan, Iklan, dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Arryanto Sagala mengatakan, pembahasan revisi PMK 241/2010 telah rampung.

"Sudah selesai dan sudah sepakat dalam rakor terakhir. Tinggal menunggu diteken Menkeu. Seharusnya minggu ini. Tidak ada alasan untuk perubahan," kata Arryanto di Jakarta, akhir pekan ini.

Arryanto menjelaskan, dari 287 pos tarif yang dibahas dalam revisi PMK 241/2010, bea masuk (BM) 190 pos tarif diputuskan untuk kembali ke posisi semula.

"182 pos tarif dikembalikan ke nol persen, sedangkan delapan lainnya dikembalikan dari lima persen di PMK 241, menjadi 10 persen," jelas Arryanto.

Menurutnya, 182 pos tarif yang dikebalikan ke nol persen adalah 60 pos tarif sektor kimia, 91 pos tarif sektor permesinan, 17 pos tarif sektor elektronika, 13 pos tarif sektor perkapalan, dan satu untuk perfileman. Sedangkan, pos tarif yang dikembalikan ke 10 persen di antaranya adalah, produk ikan kaleng dan permen.

"Prinsipnya, untuk mendukung daya saing industri yang sangat membutuhkan bahan baku. Karena itu, saya usulkan revisi yang sudah final ini segera terbit. Untuk 20 pos tarif bahan baku obat, menyusul karena pengajuannya juga baru. Sehingga, tidak berlarut-larut meski sejak diterbitkan, industri sudah membayar BM sesuai PMK 241 itu," imbuh Arryanto.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Umum Apindo Franky Sibarani mengatakan, pihaknya mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan revisi PMK 241.

"Pembahasan revisi PMK untuk tahap dua ini (nonpangan) telah selesai dan tinggal menunggu pengesahan dari Menkeu. Kita perlu segera, untuk meminimalisasi beberapa kerugian akibat berlakunya PMK 241 ini. Apindo mengapresiasi Kemenperin dan BKF atas proses  pembahasan revisi PMK 241," tegas Franky.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman.

"Kita mendukung revisi PMK 241. Intinya, tetap pada prinsip bahwa BM bahan baku lebih rendah dibandingkan BM barang jadi. Terutama, fokus kami adalah untuk bahan baku kemasan agar lebih murah demi daya saing industri," kata Adhi.(Sandra Karina/Koran SI/ade)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...