Revitalisasinya Butuh Rp 1,8 T, Ini Fakta-Fakta Mengenai Taman Ismail Marzuki

Okky Budi

Taman Ismail Marzuki kini tengah menjadi topik hangat pemberitaan. Pasalnya, gedung pusat kesenian yang berada di Cikini, Jakarta ini mau direvitalisasi. 

Pemprov DKI Jakarta menyebut revitalisasi ini untuk menaikkan derajat Taman Ismail Marzuki bukan hanya sekadar pusat kebudayaan Indonesia saja, melainkan bertaraf internasional. Nantinya bakal banyak fasilitas-fasilitas baru dan mewah untuk mendukung kegiatan seni. 

Dikutip dari Kompas, anggaran untuk revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) mencapai Rp 1,8 triliun. Anggaran sebesar itu berasal dari APBD DKI Jakarta, yang kemudian digunakan untuk membangun hotel, pusat kuliner, dan galeri seni. 

Sayangnya, rencana baik Pemprov itu justru mendapatkan tentangan dari para seniman yang biasa berkarya di TIM. Mereka menolak dibangun hotel berbintang di kawasan seni ini. 

Khawatirnya, aktivitas bisnis lebih mendominasi ketimbang aktivitas seni. Karena berdasarkan keputusan Gubernur DKI Jakarta kala itu, yaitu Ali Sadikin menyebutkan TIM adalah pusat seni kreatif dan hiburan, bukan pusat bisnis. 

Lantas, bagaimana sih memangnya sejarah berdirinya Taman Ismail Marzuki? 

1. Diresmikan tahun 1968 

Diresmikan tahun 1968 (tamanismailmarzuki.co.id)

Taman Ismail Marzuki diresmikan pada 10 November 1968 silam. Dikutip dari situs resminya TIM, latar belakang dibangunnya pusat seni ini untuk menyatukan para seniman di DKI Jakarta. 

Pasalnya, kubu para seniman saat itu masih terpecah-pecah akibat perbedaan pandangan politik. 

Presiden Soeharto pun mendukung keberadaan dari TIM. Dia berharap, TIM tidak hanya sebagai tempat kumpul para seniman Jakarta saja, tetapi sebagai pusat kebudayaan nasional. 

Baca juga: Gak Perlu Mahal-Mahal, Yuk Ajak Anak ke 10 Tempat Rekreasi di Jakarta dengan Bujet Rp 50 Ribu Ini!

2. Bekas arena balap anjing 

Bekas arena balap anjing (tamanismailmarzuki.co.id)

Sebelum menjadi pusat kesenian, area seluas sembilan hektar ini dulunya ruang terbuka hijau dan sarana rekreasi umum, namanya Taman Raden Saleh. Di Taman Raden Saleh, masyarakat bisa bersantai-santai menikmati taman kota sambil menonton pertandingan balap anjing. 

Tapi, arena tersebut dibongkar menjadi Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. Arena balap anjing pun disulap menjadi kantor dan ruang kuliah mahasiswa IKJ. 

3. Ismail Marzuki merupakan seniman dari Betawi

Ismail Marzuki merupakan seniman dari Betawi (www.indonesiakaya.com)

Nama pusat kesenian ini kemudian diberi nama Taman Ismail Marzuki. Nama tersebut diambil dari nama seorang seniman asal Jakarta bernama Ismail Marzuki. 

Dia lahir pada tahun 1917 di Kwitang, Jakarta Pusat. Dia merupakan seorang komponis yang telah memulai karier di dunia seni pada usia 17 tahun. 

Lagu-lagu gubahannya sukses menjadi hits di masanya, seperti “Halo-Halo Bandung”, “Aryati”, “Gugur Bunga”, “Rayuan Pulau Kelapa”, dan masih banyak lagi. 

4. Memiliki enam area pertunjukan 

Memiliki enam area pertunjukan (www.indonesiakaya.com)

Pusat kesenian Taman Ismail Marzuki memiliki enam gedung atau area utama. Pertama, ada gedung Graha Bhakti Budaya. Gedung ini memiliki kapasitas 810 penonton. Bisa digunakan untuk pertunjukan musik, teater, sampai pertunjukan tari. 

Kedua, ada gedung Galeri Cipta II. Gedung ini biasa digunakan untuk pameran lukisan, diskusi dan juga peluncuran buku. Total kapasitas lukisan yang dipajang bisa mencapai lebih dari 100 lukisan. 

Kemudian, ada tiga area amphitheater, yaitu Teater Kecil, Teater Halaman, dan Teater Jakarta. Ketiga area itu bisa digunakan untuk pertunjukan seni teater maupun seni musik. 

Yang membedakan adalah ruangannya dan kapasitas. Kalau Teater Kecil ruangannya indoor namun hanya berkapasitas untuk 200an penonton, sedangkan Teater Jakarta bisa untuk 1.200 orang. 

Berbeda dengan dua ruang teater itu, Teater Halaman berada di area outdoor alias terbuka. 

Terakhir, ada area Plaza TIM yang meliputi, tempat parkir, kantin, galeri buku, kafe, dan ruang terbuka lainnya. 

Itulah sejumlah fakta mengenai Taman Ismail Marzuki. Proses revitalisasi itu sudah mulai dilakukan, dan rencananya bakal rampung pada tahun 2021 mendatang. (Editor: Chaerunnisa)