RGE Indonesia Tegaskan Tak Terkait dengan Pembelian Gedung Ludwig

Fikri Halim
·Bacaan 3 menit

VIVA – Royal Golden Eagle (RGE) Indonesia mengklarifikasi ramainya pemberitaan di sejumlah media tentang pembelian Gedung Ludwigstrasse 21 di Muenchen, Jerman.

Head Corporate Communications RGE Indonesia, Ignatius Purnomo menegaskan bahwa kelompok usaha yang dikelola RGE Indonesia tidak ada kaitannya dengan pembelian gedung tersebut.

"Adapun pembelian gedung tersebut merupakan kegiatan investasi keluarga Bapak Sukanto Tanoto yang dilakukan secara profesional dan telah memenuhi persyaratan serta prosedur yang berlaku di negara tersebut, serta sesuai dengan best practices internasional," ujar Ignatius dalam keterangan resmi, Jumat 12 Februari 2021.

Baca juga: Update COVID-19 12 Februari: Total Pasien Sembuh Tembus 1.004.117

Ia juga menegaskan bahwa kelompok usaha yang dikelola RGE tidak hanya menjalankan kegiatan operasional di Indonesia. Namun juga ada di beberapa negara, antara lain China, Brasil dan Kanada.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, lanjut Ignatius, RGE senantiasa memenuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku di negara-negara tersebut serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip bisnis berkelanjutan.

"Kehadiran RGE Indonesia juga telah memberikan manfaat yang luas bagi Indonesia, baik berupa penyediaan lapangan pekerjaan di berbagai perusahaan yang tergabung dalam RGE Group, serta berbagai program sosial yang dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan yang ada dalam naungan RGE," kata Ignatius.

Selain itu, sambungnya, keluarga Tanoto juga menjalankan organisasi filantropi melalui Tanoto Foundation. Sepanjang 2020, Tanoto Foundation telah menjalankan berbagai program yang meliputi partisipasi dalam penanganan dan pencegahan COVID-19, pencegahan stunting, hingga pendidikan dan pemberian beasiswa.

"Total kontribusi yang diberikan Tanoto Foundation sepanjang 2020 mencapai Rp157 miliar (un audited per 31 Desember), naik dibanding kontribusi pada 2019 yang sebesar Rp 155 miliar," katanya.

Dalam rangka pencegahan dan penanganan COVID-19, Tanoto Foundation juga memberikan donasi sebanyak 1,3 juta masker, 1 juta sarung tangan, 100.000 pakaian pelindung, 3.021 kacamata, serta 10.200 alat tes PCR.

Sementara dalam rangka ikut pencegahan stunting dan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia, Tanoto Foundation memperkuat kemitraan dengan berbagai PAUD mitra, memberi pelatihan kepada 107 guru PAUD, serta memberikan bantuan kepada 824 anak-anak penerima manfaat.

Melalui program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran), Tanoto Foundation menggandeng 588 sekolah mitra, 2.228 sekolah diseminasi, serta melibatkan 5.372 pendidik/guru. Setidaknya, 24 ribu mahasiswa calon guru dan 626 ribu siswa menerima manfaat dari program yang dilaksanakan di 20 kabupaten/kota di 5 provinsi ini.

Tanoto Foundation juga berkolaborasi dengan lembaga internasional. Misalnya, melalui hibah US$2 juta kepada World Bank dalam Multi Donor Trust Fund (MDTF) for Indonesia Human Capital Acceleration (IHCA) yang sebagian digunakan untuk mendukung pelatihan 72.636 Kader Pembangunan Manusia yang direkrut oleh pemerintah.

"Hibah US$ 200.000 juga diberikan kepada UNICEF Indonesia untuk menerjemahkan dan mengadaptasi instrument pengukuran Early Childhood Development Instrument (ECDI) dan Caregiver-Reported Early Development Index (CREDI) untuk Indonesia," kata dia.

Dalam hal pendidikan, Tanoto Foundation disebut juga telah memberikan beasiswa kepada para mahasiswa di Indonesia. Selama kurun 2005-2020, Tanoto Foundation telah meluluskan 156 mahasiswa di berbagai perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia.

Sebelumnya, seperti diberitakan DW, kolaborasi jurnalis internasional dalam proyek OpenLux menyisir data-data yang ada di perbankan Luxembourg yang dicurigai menjadi bagian dari operasi pengemplangan pajak para miliarder dunia. Hal serupa pernah dilakukan kolaborasi jurnalis yang mengungkap skandal Panama Papers. Dari dokumen-dokumen Open Lux, terungkaplah kepemilikan gelap gedung-gedung Sukanto Tanoto dan anaknya Andre di Jerman.

Andre Tanoto disebut membeli satu dari tiga gedung mewah rancangan arsitek kondang Frank O. Gehry di kota pusat perekonomian Dusseldorf, ibu kota negara bagian Nordrhein Westafalen. Tapi gedung seharga 50 juta euro itu belum seberapa dibanding bekas istana Raja Ludwig di Munchen, yang dibeli Sukanto Tanoto tidak lama sesudahnya di Kota Munchen.

Gedung empat lantai itu, yang sekarang menjadi kantor pusat perusahaan asuransi Allianz di kawasan prestisius Ludwigstrasse, menurut dokumen OpenLux dibeli seharga 350 juta euro atau sekitar Rp6 triliun.