RI berpotensi dorong investasi swasta guna mendukung SDGs

Republik Indonesia dan berbagai negara di kawasan Asia memiliki potensi tinggi untuk mendorong investasi yang berasal dari modal perusahaan swasta guna mendukung pencapaian Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta pengurangan ketimpangan.

"Impact Investing yang memberikan dampak berkelanjutan menjadi salah satu kunci untuk mengatasi ketimpangan dan mewujudkan keadilan sosial dengan mendorong masyarakat yang lebih berdaya guna," kata Direktur Ford Foundation Jakarta, Alexander Irwan, dalam rilis terkait lokakarya AVPN Global Conference 2022 yang diterima di Jakarta, Jumat.

Menurut Alexander Irwan, skema investasi sosial tersebut juga diyakini mampu mendorong Indonesia dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dalam program SDGs tahun 2030.

Berdasarkan laporan ‘Better Business, Better World’ oleh United Nations Global Compact (UNGC), upaya global untuk mencapai SDGs memberikan peluang bagi perusahaan dalam merancang strategi pertumbuhan sekaligus membangun kepercayaan dan kesejahteraan yang lebih merata melalui pasar bebas sehingga berdampak untuk memunculkan peluang bisnis baru.

Pembicara lainnya, Partner di Patamar Capital, Dondi Hananto, menyampaikan wilayah Asia memiliki besaran potensi investasi berdampak yang sangat tinggi sehingga mampu dorong pencapaian tujuan SDGs.

"Melalui wadah untuk berbagi pengalaman dan perspektif, perusahaan dan pasar dapat didorong untuk menjalankan bisnis yang berdampak sosial dan lingkungan," kata Dondi.

Laporan UNGC yang didukung oleh United Nations Development Programme (UNDP) SDGs Impact memprediksi bahwa pencapaian SDGs dapat dicapai dengan menciptakan peluang pasar sebesar 12 triliun dolar AS di bidang pangan, pertanian, energi, kota, material, kesehatan, dan kesejahteraan yang akan menciptakan 380 juta pekerjaan, di mana 90 persen di antaranya berada di negara berkembang.

Peluang kerja dan pasar inilah, lanjutnya, yang dapat membantu mengurangi ketimpangan dengan adanya peningkatan pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, CEO Instellar Indonesia Romy Cahyadi mengemukakan tantangan yang dihadapi di bidang investasi berdampak membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuahkan hasil.

"Selain itu organisasi juga mesti memiliki mindset entrepreneurial sedari awal. Meski menggunakan entitas non-profit, tapi tetap harus mampu berpikir sebagai dan bergerak dengan mindset serta model kerja profit," ujar Romy.

Berdasarkan pengalaman kemitraan yang pernah dilakukan, lembaga non-profit selaku penerima investasi, menurut Romy cenderung memiliki aturan yang kurang fleksibel.

Ia juga menambahkan bahwa adanya stigma terhadap investasi sosial tentu memerlukan kepercayaan yang harus dibangun melalui perluasan jaringan bersama berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung tercapainya SDGs.

Lebih lanjut Romy menyatakan pentingnya menyambut lebih banyak investor yang memiliki niat utama untuk melakukan investasi berdampak. “Tentunya ini perlu disambut dengan penambahan eksekusi program. Karena perlu usaha jangka panjang dalam menyamakan pemahaman kebutuhan untuk mendukung impact investing baik dari pemerintah maupun pihak swasta," ujar Romy.

Baca juga: Presiden minta UNESCAP perkuat pendanaan untuk percepatan SDGs

Baca juga: Menko Airlangga dorong investasi berkelanjutan capai target SDGs

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel