RI Diingatkan Butuh Industri Kimia demi Songsong Era Kendaraan Listrik

·Bacaan 3 menit

VIVA – Hampir semua kebutuhan bahan kimia dalam negeri dipasok dari luar negeri, salah satunya bahan kimia soda ash yang merupakan bahan baku produk-produk yang dibutuhkan masyarakat seperti deterjen, kaca hingga produk turunannya seperti gelas, cermin, sampai pasta gigi.

Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri Hari Supriyadi mengatakan, banyak produk yang dibutuhkan masyarakat berbahan baku soda ash yang pemenuhannya didominasi impor. Selain untuk produk rumahan, kendaraan listrik yang disebut-sebut merupakan transportasi masa depan pun membutuhkan soda ash untuk komposisi baterai.

"Untuk baterai mobil listrik juga menggunakan soda ash. Jadi sangat banyak turunan dari soda ash. Tapi kenapa Indonesia masih impor," katanya saat konferensi pers virtual tentang lomba esai nasional yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 80 tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia, Senin, 21 Juni 2021.

Menurut Hari, dalam setahun Indonesia membutuhkan sekitar 1,2 juta ton soda ash. Dari jumlah itu, 90 persen dipenuhi dari hasil impor, sementara permintaan bahan kimia itu di negara-negara Asia Tenggara 2,9 juta ton.

Kebutuhan itu diprediksi akan terus meningkat terutama jika penggunaan kendaraan listrik sudah makin banyak. Sebagai contoh, menurutnya, kebutuhan soda ash di Tiongkok terus meningkat hingga 2 juta ton per tahun.

Karena itu, dia berharap Indonesia mampu memenuhi kebutuhan soda ash sendiri sehingga tidak perlu impor lagi. "Kita rindu memiliki industri kimia soda ash," katanya.

Untuk mewujudkan itu, menurutnya, Indonesia mampu terutama karena memiliki bahan baku dan sumber daya manusia yang kompeten. Masalahnya selama ini demi lebih mudahnya kebutuhan itu didapat melalui impor saja.

Bahkan, saat ini terdapat pabrik kaca terbesar di Batang, Jawa Tengah, yang membutuhkan soda ash dalam jumlah yang besar. "Alangkah baik, ya, kalau pabrik kaca ini soda ash-nya disuplai dari dalam negeri agar memberi nilai tambah, menghemat devisa, membuka lapangan kerja, dan banyak sekali keuntungannya," katanya.

Dia menyebut industri kimia, termasuk soda ash, pernah dibangun pada 1990-an di Nusa Tenggara Timur, di kawasan yang kaya sumber garam, bahan baku soda ash. Tetapi industri itu tidak berkembang terutama setelah Indonesia dilanda krisis ekonomi pada 1998.

Soda ash, atau umumnya dikenal sebagai soda abu, merupakan suatu komponen dasar kimia yang kurang dikenal keberadaan dan fungsinya oleh masyarakat. "Walaupun produk akhirnya sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari," kata Tirto Prakoso Brodjonegoro, Ketua panitia 80 tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia, menjelaskan tujuan lomba yang dia selenggarakan.

Dalam jumlah yang aman, katanya, soda abu juga digunakan dalam industri pangan setelah melalui sejumlah proses tertentu. Dengan begitu, dia berharap lomba esai diharapkan dapat membangkitkan kesadaran dan kepedulian akan industri kimia di Indonesia.

"Selain sebagai wadah sosialisasi akan industri soda ash dan manfaatnya, lomba esai ini diharapkan dapat menjadi pendorong pembangunan industri di dalam negeri," katanya.

Lomba esai itu terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia—mahasiswa, pelaku industri, pendidik, maupun masyarakat umum. Siapa pun dapat mengirimkan karya esainya melalui email 80tahunTK@ia-tk-itb.org.

Lomba yang memperebutkan hadiah total Rp100 juta itu akan diampu oleh juri dari civitas academica dan pelaku industri, yaitu Muh. Khayam, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil pada Kementerian Perindustrian Johnny Darmawan, Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Heru Dewanto, dan Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Hari Supriyadi, dan guru besar Teknik Kimia ITB Dwiwahju Sasongko.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel