RI terus gaungkan sawit ramah lingkungan di Eropa

Pemerintah Indonesia terus menggaungkan minyak sawit merupakan komoditas ramah lingkungan di kawasan Uni Eropa (UE) dan telah memenuhi standar-standar global terkait aspek keberlanjutan.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia dan Uni Eropa, Andri Hadi mengatakan pada Juli 2022 lalu, Indonesia bersama sejumlah negara produsen yang komoditasnya terkena dampak telah menandatangani surat bersama yang dikirimkan kepada para pemimpin Uni Eropa.

Surat tersebut, lanjutnya saat menjadi pembicara dalam konferensi minyak sawit Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) di Nusa Dua Bali, Kamis, menyoroti posisi Indonesia sebagai negara terbuka yang mendukung regulasi produk bebas deforestasi dan kelestarian lingkungan.

"Pada prinsipnya, Indonesia akan mendorong produk komoditas Indonesia seperti sawit punya peran penting dalam pencapaian SDGs termasuk mendukung petani kecil," katanya.

Dia mengatakan, tantangan industri sawit ke depan tidak mudah, selain aturan WTO yang ketat terkait sawit, berbagai regulasi seperti peraturan terkait deforestasi dan kelestarian lingkungan tetap kita ikuti dan hormati.

Menurut Andri Hadi,meski memberlakukan aturan ketat, UE membutuhkan minyak sawit dan dari negara produsen seperti Indonesia dan Malaysia dalam jumlah signifikan.

“Minyak sawit Indonesia memegang 30-40 persen dari impor UE untuk minyak nabati,” katanya.

Menurut Andri, permintaan produk CPO terus menguat terutama pada awal Perang Rusia-Ukraina terutama akibat gangguan rantai pasokan, dan pemulihan global pascapandemi.

“Minyak sawit dapat memenuhi permintaan UE akan minyak nabati, sehingga membantu ketahanan energi di kawasan ini,” katanya.

Sementara itu Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia(Gapki) Joko Supriyono menyatakan setelah 2 tahun diguncang pandemi, tantangan bagi industri kelapa sawit sangat luar biasa sebagai akibat dari dinamika perekonomian dunia.

Persoalan itu belum selesai, tambahnya, karena persoalan baru seperti, isu geopolitik seperti Perang Rusia dan Ukraina serta prediksi bakal terjadi resesi ekonomi dan pangan tahun depan masih akan membayangi dinamika negara-negara penghasil minyak kelapa sawit.

Namun demikian, berbagai persoalan itu justru bisa menjadi peluang bagi Industri kelapa sawit, lanjut Joko, hal itu karena dalam situasi bullish harga CPO juga global sangat menguntungkan.

“Ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memainkan peran penting dalam mengarahkan industri, karena selalu berdampak pada bagaimana industri akan berjalan,” kata Joko Supriyono.

Baca juga: Airlangga: Industri minyak sawit beri kontribusi pemulihan ekonomi
Baca juga: Industri sawit diharapkan jadi pengaman terhadap krisis
Baca juga: Ekonom: Asia & Timur Tengah bisa gantikan UE sebagai pasar ekspor CPO