Ribuan Demonstran Anti Pemerintah di Sri Lanka Terobos Istana, Tuntut Presiden Mundur

Merdeka.com - Merdeka.com - Ribuan demonstran di ibu kota Sri Lanka, Kolombo, menerobos barikade polisi dan menyerbu istana presiden pada Sabtu. Ini merupakan demo anti pemerintah terbesar di negara yang tengah dilanda krisis terburuk itu.

Video dari stasiun televisi NewsFirst menunjukkan, beberapa demonstran, membawa bendera Sri Lanka dan memakai helm, menerobos istana presiden, dikutip dari laman Al Arabiya, Minggu (10/7). Tuntutan utama para demonstran adalah meminta Presiden Gotabaya Rajapaksa mundur.

Negara kepulauan berpenduduk 22 juta jiwa itu sedang berjuang menghadapi menipisnya cadangan devisa yang mendorong pembatasan impor bahan bakar minyak, makanan, dan obat-obatan. Hal ini menyebabkan Sri Lanka jatuh ke dalam krisis keuangan terburuk dalam 70 tahun.

Banyak pihak menyalahkan krisis ini pada Presiden Gotabaya. Demo besar yang menuntut presiden mundur juga berlangsung pada Maret lalu.

Menurut seorang saksi mata Reuters, ribuan orang memadati distrik pusat pemerintahan di Kolombo, meneriakkan slogan menentang presiden dan mencopot barikade polisi untuk menembus istana.

Polisi lalu mengeluarkan tembakan ke udara tapi tidak bisa menghentikan kemarahan massa yang datang dari sekeliling istana.

Reuters belum bisa mengonfirmasi terkait keberadaan presiden.

Kendati bahan bakar minyak (BBM) sedang langka yang menyebabkan layanan transportasi terhenti, para demonstran datang menggunakan bus, kereta api, dan truk dari sejumlah daerah menuju Kolombo untuk memprotes kegagalan pemerintah melindungi rakyatnya dari hancurnya perekonomian.

Seorang nelayan Sampath Perera (37), naik bus dari daerah pesisir Negombo yang berjarak 45 kilometer di utara Kolombo untuk ikut demo.

"Kami telah menyuruh (Presiden) Gota berulang kali untuk pulang kampung tapi dia masih mempertahankan kekuasaan. Kami tidak akan berhenti sampai dia mendengar kami," ujarnya.

Perera adalah salah satu dari jutaan rakyat yang merasakan kelangkaan BBM dan inflasi yang menembus 54,6 persen pada Juni. Kelangkaan BBM mendorong pemerintah menutup sekolah dan meminta pegawai bekerja dari rumah. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel