Ribuan guru di Banyumas dukung Ganjar maju Pilgub Jateng

MERDEKA.COM. Ribuan guru yang tergabung dalam Ikatan Alumni Guru Bantu se-Eks Karisidenan Banyumas, Jawa Tengah mendukung Ganjar Pranowo yang akan maju bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah (Jateng) pada 26 Mei mendatang. Alasan mereka mendukung karena Ganjar dinilai sosok mumpuni.

"Kami melihat, saat ini di Jawa Tengah maupun di skala nasional kami melihat, masyarakat membutuhkan sosok pemimpin yang bersih dan cerdas. Secara pribadi kami juga melihat mas Ganjar Pranowo cukup mewakili dan mumpuni. Dia juga kami anggap sosok kader PDI Perjuangan bersih yang diharapkan bisa memimpin Jateng. Apalagi, seiring perjalanan banyak terjadi praktik korupsi di Pemerintahan Provinsi Jateng dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Sehingga dibutuhkan pemimpin seperti Mas Ganjar," jelas Koordinator Ikatan Alumni Guru Bantu se Eks Karisidenan Banyumas, Eko Purwanto disela-sela acara pertemuan di Aula RM. Ayam Goreng Keratonan, Purwokerto, Jateng Sabtu (9/2) malam.

Dukungan itu disampaikan oleh guru-guru se Eks Karisidenan Banyumas usai Ganjar Pranowo sebagai kader PDI Perjuangan diundang sebagai pembicara dalam kegiatan internal kaderisasi PDI Perjuangan di PAC Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara. Yang secara kebetulan di wilayah Eks Karisidenan Banyumas, merupakan daerah pemilihan (Dapil) sekaligus basis masa pendukung Ganjar Pranowo sebagai anggota legislatif.

Menurut Eko, sejak tahun 2003 ribuan guru bantu di Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara dan Purwokerto telah berhasil diangkat sebagai guru pemerintah. "Walaupun dia duduk di Komisi II DPR RI namun, perjuangan dia untuk mendorong tuntutan kami menjadi guru yang diakui sejak tahun 2003 membuahkan hasil. " jelas Eko yang saat ini mengajar di SMK Negeri 1 Bojongan, Purbalingga dan di Universitas Terbuka ini.

Menanggapi dukungan ribuan guru itu, Ganjar Pranowo menyatakan aksi mereka bersifat kedekatan emosional dan individual. Sebab, sejak tahun 2003 dirinya sebagai anggota DPR bersama ribuan guru itu telah berjuang bersama melakukan intervensi dan mendobrak sistem birokrasi. Terutama sistem birokrasi yang membuat ribuan guru-guru bantu tidak mendapatkan penghargaan layak.

"Saat itu profesi mereka sebagai guru bantu tidak mendapatkan 'reward' (dihargai) dengan baik oleh birokrasi," kata Ganjar.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.