Ridwan Kamil Lanjutkan Proyek TPPAS Luna, Investor Lama Diganti

Raden Jihad Akbar, Adi Suparman (Bandung)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyatakan pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Lulut-Nambo (Luna) di Kabupaten Bogor, terhenti karena penerapan skema dan teknologi yang tidak tepat. Proyek itu pun akan dilanjutkan.

Ridwan Kamil menjelaskan, pengerjaan lanjutan TPPAS Luna bekerjasama dengan Euwelle Environmental Technology (EET) dari Jerman. Ridwan menilai, pengerjaan Luna oleh konsorsium sebelumnya, terlalu terbuai oleh skema - skema usaha yang menjanjikan.

"Ini adalah arahan saya, memberhentikan investor terdahulu. Kita memilih lebih teliti. Jangan terbuai oleh hal luar biasa, ternyata enggak ada uang, teknologi ngaco dan lain-lain," ujar Ridwan Kamil di Gedung Negara Pakuan Bandung, Selasa 23 Maret 2021.

Dengan investor baru ini, Ridwan Kamil berharap TPPAS Luna segera berfungsi dengan menerapkan teknologi Maximum Yield Technology (MYT). Teknologi itu dapat mengekstraksi potensi energi maksimum dari sampah rumah tangga dengan kombinasi teknologi pengolahan inovatif mechanical separation dan biological drying yang menghasilkan RDF, kompos dan biogas.

"Kami akan melihat komitmen pengerjaan. Jika sukses, ini akan ada lagi. Kita butuh 3-4 proyek yang sama, sehingga Jawa Barat dikenal sebagai provinsi ramah lingkungan. Tak ada sampah tak didaur ulang. Semua kita bereskan dan bernilai uang," katanya.

Baca juga: Pandemi, Sri Mulyani Bersyukur Fitch Tak Downgrade Peringkat Utang RI

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat Prima Mayaningtias menambahkan, pembangunan TPPAS ini sejak 2017 dengan mekanisme kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Pemenang lelangnya adalah konsorsium Panghegar Energy Indonesia yang membentuk perusahaan khusus (special purpose company) bersama PT Jasa Sarana, yaitu PT Jabar Bersih Lestari (JBL).

Namun, dalam perjalanannya PT JBL gagal memenuhi target operasional (commercial operation date) pada Juni 2020 akibat terkendala biaya.

"Tapi kami terus berkomitmen untuk membantu permasalahan pengelolaan sampah di Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok serta Kota Tangerang Selatan. Makanya terus membangun TPPAS regional," katanya.

Dengan dilanjutkannya pembangunan ini, menurutnya kini mengubah skema kepemilikan, sehingga PT Jasa Sarana menjadi pemegang saham pengendali. Setelah menjadi pemegang saham mayoritas, BUMD tersebut mencari mitra strategis untuk berkerja sama dalam melanjutkan pembangunan dan pengelolaan proyek strategis itu.

"Dipilihlah mitra asal negara Jerman yaitu Euwelle Environmental Technology (EET). Dengan total investasi US$133,3 juta," katanya.

Menurutnya, alasan bekerja sama dengan EET karena perusahaan Jerman itu dianggap sudah menerapkan MYT) di beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand.

"Jadi perusahaan Jerman ini sudah berpengalaman. Selain itu pemilihan mitra ini juga melalui proses bisnis (corporate action) yang transparan dan melibatkan seluruh stakeholder di Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta melibatkan tenaga ahli teknis maupun manajemen," katanya.

Adapun sumber pendapatan (revenue) antara lain berasal tipping fee yang akan dibayarkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hasil penjualan RDF, hasil pengolahan lainnya. Menurutnya, untuk besaran tipping fee yang akan dibebankan ke kabupaten/kota sebesar Rp125 ribu per ton.

"Kontruksi TPPAS Regional Lulut Nambo akan dilanjutkan kembali pada pertengahan tahun 2021 dan diharapkan akan beroperasi secara optimal pada akhir tahun 2021," katanya.