Ridwan Kamil Sebut 95,5 Persen Desa di Jabar Tidak Terdampak PMK

Merdeka.com - Merdeka.com - Kebutuhan hewan kurban untuk Jawa Barat pada saat Iduladha sebanyak 804 ribu ekor. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dalam upaya memenuhi kebutuhan.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil merinci jumlah kebutuhan hewan kurban di Jabar yakni 96.500 sapi, 2.600 kerbau, 609.000 domba dan 95.000 kambing. Angka kebutuhan itu merupakan terbanyak di antara daerah lain di Indonesia.

Dia menyadari bahwa PMK yang sudah terjadi di sejumlah wilayah menjadi tantangan tersendiri, apalagi pemenuhan hewan ternak tersebut masih mengandalkan daerah lain. Meski ia mengklaim angka sebaran di Jawa Barat masih di bawah lima persen atau terkendali.

"Saat ini yang terdampak (PMK) sekitar empat persen berbasis desa. Jadi di wilayah Jabar 95,5 persennya tidak terdampak," kata Ridwan Kamil, Rabu (8/6).

Meski demikian, sejumlah langkah untuk mengatasi kendala sudah dilakukan. Penanganan PMK tak jauh berbeda dengan Covid-19. Pemprov Jabar membuat gugus tugas dari tingkat kota atau kabupaten hingga desa.

Pengawasan lalu lintas ternak yang masuk ke Jabar diperketat, terutama di wilayah perbatasan dengan melakukan pengecekan berkoordinasi dengan pejabat otoritas veteriner.

Hewan ternak yang masuk ke wilayah Jawa Barat harus disertai Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), juga rekomendasi pengeluaran atau pemasukan saat melalulintaskan hewan atau produk hewan antar provinsi, maupun kabupaten/kota. Itu pun berlaku bagi setiap hewan kurban yang akan dipotong harus memiliki surat keterangan layak kurban.

"Hewan kurbannya nanti akan disertai surat keterangan, bahwa hewan kurban itu layak, sehat, dan tidak berpenyakit. Untuk memberikan ketenangan warga, jadi setiap hewan kurban yang aman itu di keping kuning. Kaya anting," lanjut dia.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat Moh Arifin Soedjayana menambahkan mengenai hewan kurban cacat, Arifin memastikan MUI dalam fatwanya memberikan dua kategori yakni hewan bergejala ringan dan gejala berat yang masing-masing ada gejala klinisnya.

Untuk gejala ringan yakni panas atau hidung mengeluarkan ingus, sementara untuk yang gejala berat paling pokok adalah hewan pincang atau tidak bisa jalan.

"Jadi yang berat itu masalahnya di kaki, itu tidak bisa digunakan kurban karena bisa disebut cacat," ujarnya.

Pihaknya pun sudah melakukan kunjungan ke Desa Mekarjaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung yang mayoritas warganya beternak sapi. Kunjungan dilakukan karena berdasarkan laporan ada sekitar 400 ekor sapi peliharaan yang menjadi suspek PMK. Dari 400 sapi yang suspek PMK, hanya ada dua ekor anak sapi atau pedet yang mati. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel