Ridwan Kamil Sebut Pelanggaran Prokes Saat Pilkada Juga Banyak

Syahrul Ansyari, Ahmad Farhan Faris
·Bacaan 1 menit

VIVA - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil atau Kang Emil, mengingatkan kepada seluruh para pemimpin level komunitas, tokoh politik dan lainnya untuk menjaga lisannya di tengah situasi pandemi COVID-19. Menurut dia, para tokoh sebaiknya buat pernyataan yang menyejukkan.

“Saya mengimbau semuanya untuk menjaga lisan, menjaga tindakan selama COVID-19 ini. Kata-katanya yang sejuk gitu, bukan yang bikin ngamuk. Tindakannya yang inspiratif, bukan yang bikin provokatif,” kata Kang Emil di Gedung Bareskrim pada Jumat, 20 November 2020.

Baca juga: Ridwan Kamil: 5 Peserta Acara Habib Rizieq Positif COVID-19

Ridwan Kamil dimintai klarifikasi oleh penyidik gabungan Bareskrim Polri terkait dugaan pelanggaran protokol kesehatan saat acara yang dihadiri Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, di Markas Syariah Megamendung, Jawa Barat.

Menurut dia, apabila ukuran kegiatan yang dihadiri Habib Rizieq dugaan melanggar protokol kesehatan karena menimbulkan kerumunan massa yang banyak. Maka, ada peristiwa yang sebelumnya juga terjadi kerumunan massa saat pandemi corona.

Misalnya, kata Kang Emil, demonstrasi Omnibus Law atau Undang-undang Cipta Kerja sangat melanggar protokol kesehatan jika pakai kategori pelanggaran protokol kesehatan dalam acara Habib Rizieq. Bukan cuma itu, ada juga pelanggaran protokol kesehatan dalam acara-acara lainnya.

“Ada pelanggaran di pilkada, kita tau kan ada pelanggaran di acara-acara lain dan sebagainya. Jadi kalau hanya mau membahas pelanggaran yang sekarang, pelanggaran yang lain juga banyak,” ujarnya.

Oleh karena itu, Ridwan Kamil mengatakan perlu pendekatan-pendekatan tidak represif ketika ada kegiatan yang menimbulkan kerumunan massa seperti acara Habib Rizieq di Megamendung. Padahal, sudah ada upaya pencegahan yang dilakukan aparat.

“Kalau ditanya tolong tegakkan, sudah sangat ditegakkan. Hanya kalau sudah ada massa besar, karena sebuah proses. Maka, kadang-kadang treatmentnya tidak selalu ditindak represifkan. Jadi diskresi dari aparat itu,” kata dia.