Ridwan Kamil Sediakan Jutaan Hektare Lahan untuk Petani Milenial

Raden Jihad Akbar, Adi Suparman (Bandung)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menargetkan, 100 ribu petani milenial aktif produktif hingga 2023. Mereka sebagai regenerasi petani konvensional untuk menciptakan komoditas pertanian level ekspor.

Guna mewujudkan hal tersebut, dia pun Pemprov Jabar menyediakan fasilitas lahan 10 ribu hektare tersebar di 27 daerah yang siap digunakan.

Menurutnya, skema kerja sama petani milenial dilakukan melalui perbankan sekaligus diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada tahun ini pihaknya menargetkan 5 ribu petani milenial produktif untuk membantu pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19.

"Pertanian ini masa depan, sudah teruji oleh pandemi. Hanya bisnis pangan dan digital yang tumbuhnya tinggi, di saat sektor ekonomi lain turun," ujar Ridwan Kamil di Bandung, Sabtu 27 Maret 2021.

Baca juga: Bertemu Menlu Singapura, Airlangga Bahas KEK hingga Potensi Investasi

Dalam pemberdayaan petani milenial ini, infrastruktur digital yang disiapkan yaitu Internet of Things (IoT) Smart Farming. Perangkat IoT ini terdiri dari perangkat panel sensor yang tertancap dalam tanah dan tersambung gadget smartphone, tablet atau PC dengan koneksi data atau wifi untuk mengawasi dan mengendalikan hingga mendeteksi kelembaban tanah, Ph air dan suhu ruangan screen house.

IoT ini diproyeksikan dapat digunakan dengan kapasitas maksimal luas lahan 240 meter. "Harus pakai teknologi. Ini bisa menaikkan produktivitas. Tanah subur, teknologi. Juga mengubah persepsi jangan menganggap urusan duit hadir di kota saja," kata Emil.

Ridwan Kamil mengaku tak khawatir dengan ketersediaan lahan garapan. "Kami miliki 10 ribu hektare yang akan kami kendalikan. Kalau ditambah dengan HGU - HGU kosong, itu juta-jutaan hektare. Kita memperbanyak forum pembeli, seperti tani hub. Ini bisnis masa depan," katanya.

Untuk memperkuat pasar konsumen, Ridwan Kamil mengusulkan untuk membuat forum khusus untuk memperkuat level bisnis. "Ini akan memutus tengkulak-tengkulak karena bisa membeli langsung dari petani. Harga jual dari petani bisa lebih tinggi, tapi harga beli oleh konsumen bisa lebih murah. Ini juga bisa digerakkan oleh bupati wali kota. Mudah-mudahan ke depannya tidak ada impor pangan," katanya.

Pada tahap pertama, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat menyiapkan lahan 40 hektare di Cikadu Kabupaten Cianjur untuk komoditas ubi jalar.

Kepala DTPH Jawa Barat, Dadan Hidayat mengatakan, dari target 5.000 petani milenial pada tahap pertama ini, pihaknya menerima 951 pendaftar yang tertarik bertani hortikultura.

"Nanti 10 April hasilnya akan dipublish. Kami menyiapkan komoditas pertanian yang memiliki peluang pasar yang mampu menyejahterakan petani. Memberikan rejeki kota," tambahnya.

Menurutnya, komoditas ubi yang ditanam sudah memiliki pasar yakni domestik 30 persen, ekspor 30 persen dan olahan 40 persen. Pihaknya juga sudah memiliki mitra yang mampu memproduksi 16 jenis olahan berbahan ubi jalar.

Dadan menyebutkan, untuk 12 meter lahan pertanian ubi jalar di Lembang yang di bawah binaannya ini mampu menghasilkan Rp16 juta per panen.

"Ada yang menggunakan budidaya dengan polybag. Ada juga yang menggunakan green house," terangnya.