Ridwan Kamil Seleksi Ratusan Milenial Jadi Pembudidaya Ikan Smart IoT

Mohammad Arief Hidayat, Adi Suparman (Bandung)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membidik generasi muda milenial untuk berkecimpung dalam dunia budidaya ikan melalui Pembudidaya Ikan Milenial (PIM). Dia memprioritaskan regenerasi budidaya ikan itu untuk memperkuat pola budidaya Internet of Thinks (IoT).

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Barat Hermansyah menjelaskan, pembudidaya milenial diprioritaskan pada komoditas ternak ikan lele, nila, dan udang. Pada tahun 2021, Dinas menyeleksi 82 PIM dengan syarat utama lulusan SMK perikanan atau mengenal inovasi teknologi bidang perikanan, serta memiliki pengalaman sebagai pembudidaya ikan atau generasi keturunan pembudidaya ikan dan berusia dari 19 hingga 39 tahun.

Terdapat 44 PIM yang sudah memiliki lahan sendiri, sedangkan 38 lainnya tidak memiliki lahan (petani intensif). "Sebelumnya ada ratusan pendaftar," ujar Hermansyah di Bandung, Rabu, 14 April 2021.

PIM yang memiliki lahan sendiri akan memeroleh suntikan dana Rp50 juta bersumber dari KUR Bank BJB. Bagi pembudidaya ikan lele, modal kerja itu akan digunakan untuk pembuatan tiga kolam bioflok berdiameter 4 meter serta pengadaan 20 ribu benih, sedangkan bagi pembudidaya nila akan digunakan untuk membuat lima kolam bioflok berdiamater 4 meter serta 10 ribu benih.

"Mereka akan diberikan masing-masing empat sampai enam bioflok. Karena ada bakterinya, jadi lebih efisien di pakan. Dalam setiap panen, dari jumlah benih itu setiap petani akan memeroleh laba Rp11,258 juta," katanya.

Kelompok petani intensif mendapat fasilitas lahan budidaya di Cijengkol, Kabupaten Subang, untuk budidaya lele; di Ciherang, Kabupaten Cianjur, untuk budidaya nila dengan masing-masing enam bioflok. Dinas menargetkan mendapat hasil Rp5,6 juta per bulan.

Untuk budidaya udang, Dinas menyiapkan lahan tambak di Cibalong, Kabupaten Garut, dengan kapasitas 270 ribu benih. Diproyeksikan dari budaya udang ini mendapat untung Rp7,1 juta per bulan. "Udang juga sama, panennya setiap empat bulan sekali," katanya.

Hermansyah menambahkan, pembekalan tentang analisis kelayakan dan penyusunan rencana kerja, pengenalan teknologi, hingga teknik pengemasan dan pemasaran diberikan kepada pembudidaya milenial. Dinas juga melakukan pengawasan dan evaluasi langsung kepada setiap PIM.

"PIM intensif [di lahan Dinas Perikanan dan Kelautan] angkatan I ini akan berakhir dalam waktu setahun. Selanjutnya akan direkrut PIM intensif angkatan II, III, dan seterusnya. Kalau berhasil, mereka pasti memiliki keinginan untuk mengembangkan usaha mereka di tempat lain, tidak terus-terusan di sini. Kalau terus di sini, berarti mereka tidak berkembang," ujarnya.