Ridwan Kamil Tantang Mahasiswa Demo Pemerintah Sambil Bagi Sembako

·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengaku bersikap terbuka terhadap kritik dari kalangan mana pun, termasuk mahasiswa, tetapi kritik itu harus objektif, berbasis data dan informasi yang akurat, dan disampaikan dengan santun.

Dalam forum diskusi secara virtual tentang kebijakan PPKM untuk pengendalian COVID-19 dengan sejumlah organisasi mahasiswa aliansi Cipayung plus, Selasa, 27 Juli 2021, Ridwan Kamil mencontohkan kritik-kritik beberapa kalangan yang tak objektif seperti membanding-bandingkan dengan negara lain.

Kerap dikatakan oleh para pengritik, dia menjelaskan, bahwa pemerintah Indonesia semestinya mencontoh Singapura yang sigap dan terkoordinasi dalam penanganan pandemi COVID-19. Namun, katanya, faktanya sekarang Singapura menerapkan penguncian negara (lockdown).

"Dulu Vietnam dipuji-puji, sekarang Vietnam keteteran, baru mau vaksin. Lihat Euro (kompetisi sepakbola Piala Eropa), sirik. Dengan situasi ini, harus dipahami," katanya.

Dia menjawab pertanyaan mahasiswa mengenai masih rendahnya persentase vaksinasi warga Jawa Barat. Dia berterus terang, persentrase vaksinasi di Jawa Barat memang rendah, tetapi itu terutama karena ketersediaan vaksin sedikit disertai dengan jumlah populasi yang besar.

Jawa Barat, Ridwan menjelaskan, baru mendapatkan jatah vaksin sebanyak 5 juta vial, padahal jumlah populasi penduduknya mencapai 50 juta orang. Maka, katanya, persentase capaian vaksinasinya sejauh ini jelas sangat kecil.

Berdasarkan contoh dan penalaran seperti itu, Ridwan mengajak kalangan mahasiswa untuk melakukan aksi nyata dalam membantu penanganan pandemi COVID-19, misalnya menjadi relawan. Dia mengajukan tantangan, “Sambil kita (mahasiswa) kritik, mau enggak turun ke jalan jadi relawan, sambil membagikan sembako?”

Pemerintah provinsi Jawa Barat, katanya, telah menyediakan sejumlah anggaran yang besar untuk program bantuan sosial bagi masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19 maupun kebijakan PPKM. Sebagian penerimanya memang telah tercatat dalam data pemerintah, tetapi tidak sedikit pula yang belum, misalnya para pedagang kaki lima asal luar Jawa Barat.

Ridwan menawarkan tantangan kepada para mahasiswa agar mereka bersedia membantu pemerintah mendistribusikan bantuan sosial itu terutama kepada kelompok masyarakat yang tidak terdaftar sebagai penerima. “Boleh mahasiswa sambil kritisi, sambil demo pun enggak ada masalah, tapi sambil membagikan sembako," katanya.

Ketua Badan Koordinasi HMI Jawa Barat Khoirul Anam menerima tantangan Ridwan Kamil. Dia berkomitmen siap berkolaborasi dengan pemerintah dalam membantu penanganan pandemi.

Namun, masalahnya, dia mengaku sering kesulitan untuk berkoordinasi dengan pemerintah ketika hendak memberikan bantuan.

Hal serupa disampaikan Ketua Umum IMM Jawa Barat, Deni Safrudin. Dia bahkan berterus terang dengan mengatakan sulitnya ketika hendak berkomunikasi dengan Ridwan Kamil.

Bahkan, ketika mahasiswa diajak berkolaborasi, mahasiswa belum tahu harus menghubungi siapa. "Saat harus kolaborasi, belum tahu harus ke mana, siapa yang dihubungi," ujarnya.

Dia pun berharap ajakan kolaborasi ini bisa benar-benar diwujudkan dengan skema perumpamaan perang, Ridwan Kamil sebagai Gubernur bertindak laiknya jenderal yang memerintahkan pasukannya. “Kami akan nurut, maka dari itu komunikasi harus sampai. Jangan sampai ketika Bapak memerintahkan 'tembak’, tapi kami masyarakat masih belum tahu," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel