Ridwan Kamil Tulis Sepenggal Cinta Untuk Eril

Merdeka.com - Merdeka.com - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyampaikan pesan haru di hadapan para pelayat dalam acara pemakaman Emmeril Kahn Mumtadz (Eril). Kalimat yang tersusun itu ia sebut sebagai penggalan cinta untuk anaknya tercinta.

Seperti diketahui, Eril meninggal dunia usai tenggelam terseret arus Sungai Aare, Bern, Swiss. Eril sempat dinyatakan hilang dua pekan sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia.

Berikut pesan yang disampaikan Ridwan Kamil :

Selama empat belas hari, Allah memberikan waktu kepada kita untuk bertafakur, selama empat belas hari Allah memberikan petunjuk untuk mengambil pelajaran dari apa yang kita lihat kita dengar dan kita doakan.

Eril diiringi oleh jutaan Doa tidak hanya oleh keluarga, ada bekal yang Eril lakukan yaitu kebaikan-kebaikan. Izinkan saya menyampaikan sepenggal rasa cinta siapa itu Eril dan apa hikmah dari kepergian Eril.

Empat belas hari bisa terasa pendek dalam hidup rutin sehari-hari. Tapi empat belas hari ini menjadi begitu panjang dalam kehidupan kami.

Kami bertanya-tanya, mengapa harus hidup tidak terlalu lama mengharu biru, tapi waktu adalah rahasia Allah yang muskil bisa dipecahkan, apalagi menyangkut tentang kelahiran dan kematian.

Waktu adalah relatif, begitulah kata orang-orang yang arif. Dan akhirnya kami menerimanya dengan hati yang lapang. Sebab kami bisa menemukan sebab petunjuk yang terang.

Dalam rentan 14 hari yang sejujurnya sangat melelahkan. Namun kami pun mendapatkan banyak pelajaran dan kearifan tentang hidup Eril, yang secara kasat mata, rasanya terlalu singkat. Tetapi setelah dicermati ternyata kehidupannya sangat pada penuh manfaat.

24 Tahun mungkin belum cukup untuk menghasilkan karya-karya yang besar. Namun terbukti memadai untuk dicintai sebagai manusia yang akbar.

Kami belajar tentang hidup yang tidak semata terdiri atas lamanya hari. Tapi tentang tiap hela nafas yang dipakai berbuat baik walau kecil dalam sehari-hari.

Kami mengikhlaskan Eril pergi, karena kami akhirnya menyadari bahwa Allah telah mencukupkan semua amal amalnya, untuk menutupi kemungkinan bertambah kekhilafannya.

Mungkin akan berat, tapi kami sebenarnya telah menyiapkan hati kalau kami tidak akan pernah lagi melihat jasadnya untuk terakhir kali.

Bukankah Eril lahir di New York yang berada jauh di seberang. Mengapa tidak jika ia wafat di Swiss yang berada jauhnya juga tidak berbilang.

Bukankah tiap sejengkal tanah adalah milik Allah yang menentukan segala pergi dan pulang. Luncuran doa yang dipanjatkan dari berbagai penjuru negeri adalah limpahan pertanda yang lebih dari cukup untuk kami, untuk yakin barangkali Allah yang memang menghendaki kepulangannya disambut baik oleh langit dan bumi.

Bagaimana mungkin kami merasa tidak dilimpahi oleh rahmat dan karunia saat jenazah yang terbaring ini berada berhari-hari di air masih utuh lagi sempurna.

Itulah salah satu keyakinan kami bukti adanya mukjizat yang akhirnya Alhamdulillah kami diberi sempat untuk melihat tanda kekuasaan Allah sang pemberi berkat pelajaran bagi kita yang beriman dan pandai membaca isyarat.

Kematian Eril merupakan kehilangan yang sungguh dahsyat dalam momentum waktu yang nyaris sejajar. Kami merasakan kehilangan yang paling besar, tapi seketika itu juga kami merasa dilimpahi kasih yang akbar.

Terakhir, kami sangat bersyukur dianugerahi seorang putera yang dalam hidupnya bahkan dalam pulangnya masih mendatangkan cinta kepada kami sang orang tua.

Terima kasih, hatur nuhun, jazakallah atas segala cinta doa yang dipanjatkan untuk ananda Eril almarhum. Semoga Allah membalas berlipat-lipat kebaikan anda semua. [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel