Ridwan Saidi: Jakarta 1950-an Banyak Gembel Bikin Rumah dari Plastik

Hardani Triyoga, Anwar Sadat
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri soal kondisi Jakarta sekarang amburadul dibanding tahun 1950-an menuai perdebatan. Budayawan Betawi, Ridwan Saidi pun ikut menyampaikan pandangannya terkait Jakarta pada 1950.

Dia menceritakan, saat itu pemerintahan di Jakarta masih dipegang seorang wali kota yakni Suwiryo. Di era tersebut, jabatan wali kota setara dengan gubernur. Kemudian, pada 1951, Suwiryo digantikan Wali Kota Solo, Sjamsuridjal hingga 1953.

"Pada tahun 1950, itu Suwiryo baru datang dari Yogyakarta kan. Karena kita mengungsi itu enggak ada apa-apa. Masih sama dengan zaman kolonial tidak ada perubahan apa-apa ya," kata Ridwan kepada VIVA, Kamis, 12 November 2020.

Menurut dia, ketika itu di era Sjamsuridjal sampai 1953 melakukan pembangunan di tiga tempat yaitu Karanganyar atau nama sebelumnya Rawa Puter. Kemudian, pembangunan di wilayah Galur dan Cempaka putih.

Baca Juga: Kritik Jakarta Amburadul, Megawati Banggakan Solo dan Surabaya

Saat itu, menurut dia, kondisi Jakarta masih kotor karena banyak gelandangan yang tidak memiliki rumah. Namun, perlahan itu bisa dibenahi.

"Waktu itu nggak ada indahnya, baru menampung orang dan banyak gembel yang dikatakan keong. Karena dia itu si gembel itu dia bikin rumah-rumahan dari plastik. Lantas, kalau pagi-pagi bangun tidur itu plastik dilipat digendong. Jadi, kita bilang keong," ujar Ridwan

Pun, memasuki kepemimpinan selanjutnya dipimpin Soediro yang memimpin sejak 1953-1959. Di era Soediro, pembangunan juga dilakukan di daerah Grogol. Namun, kata dia, masih berantakan tidak menimbulkan kesan indah seperti saat ini.

"Jadi, yang diutamakan dulu pembangunan pemukiman-pemukiman terutama untuk PNS karena administrasi pemerintahan baru dibangun. Tetapi, keindahan belum ada begitu. Jadi, jauh kalau dibandingkan Jakarta sekarang," kata Ridwan.

Ridwan mengaku mengikuti setiap perubahan yang ada di Jakarta sejak 1950 sampai sekarang. Maka itu, ia mengkritisi pernyataan soal Jakarta sekarang makin amburadul adalah salah. Pernyataan tersebut tidak ada rujukan jelas.

"Jadi, harus tunjukan buktinya, waktu itu kan becak di mana-mana. Lalu masih ada trem. Itu lebih susah lagi karena trem itu tidak bisa minggir. Kalau becak itu kan bisa minggir, trem tidak bisa minggir," lanjut sejarawan kelahiran 2 Juli 1942 tersebut.

Ia menyebut tempat Jakarta pada 1950-an yang bagus bisa dihitung. Beberapa lokasi itu antara lain Pasar Baru dan Jalan Juanda.

"Itu juga lebih susah keadaannya. Tempat-tempat yang bagus itu cuman pasar Baru dan jalan Juanda, itu pertokoan-pertokoan untuk orang elit," ujar Ridwan.

Kemudian, ia menambahkan, di tahun 1950-an, daerah Kota juga masih berantakan. Beda dengan sekarang.

"Jadi, pada waktu itu Kota juga kotor kok. Kota kotor saya tau karena suka keliling jadi saya tahu Jakarta pada waktu itu," katanya.

Nah, Jakarta menurut dia mulai serius berbenah di tahun 1960-an. Pemicunya karena Indonesia saat itu jadi tuan rumah Asian Games. Dengan demikian, gencar pembangunan di sejumlah wilayah Ibu Kota.

Jakarta ketika itu sudah dipimpin Gubernur berlatar belakang militer yakni Soemarno Sosroatmodjo. Setelah itu berlanjut dengan Gubernur Henk Ngantung

"Periode kira-kira tahun 63 Jakarta mulai banyak pembangunan. Tahun 62 setelah Asian Games lalu pelebaran jalan. Lalu, kemudian (Sarinah) Thamrin, lalu Hotel Indonesia. Lalu itu, jalan by pass menuju ke Priok itu dibangun," ujarnya.