Rincian Uji Coba Vaksin COVID-19 di China Terungkap

Renne R.A Kawilarang, ABC Indonesia
·Bacaan 4 menit

Lebih dari 60 ribu warga China sudah mendapat suntikan vaksin COVID-19 dalam uji coba tahap ketiga, sementara di Australia persiapan produksi vaksin yang dibuat oleh Oxford University mulai dilakukan di sebuah laboratorium di Melbourne.

Karena produksi vaksin dalam jumlah besar akan memerlukan waktu, upaya produksi vaksin mulai dilakukan di waktu yang bersamaan dengan tahap uji cobanya.

Harapannya adalah ketika uji coba terhadap manusia dianggap berhasil, maka tahap produksi bisa langsung dimulai sehingga menghemat waktu untuk memproduksi jutaan bahkan ratusan juga vaksin.

Salah seorang warga China yang sudah mendapat suntikan vaksin COVID-19 adalah Yilu Wu, seorang mahasiswi berusia 20 tahun yang sekarang sedang menempuh pendidikan di Inggris.

Bersama dengan beberapa orang lainnya, Yilu sudah mendapat suntikan pertama dari dua suntikan vaksin yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Sinovac.

"Saya tersedak ketika dokter mengeluarkan vaksin itu dari sebuah kotak kecil. Rasanya seperti mukjizat," kata Yilu kepada ABC, yang akan mendapat suntikan kedua beberapa pekan lagi.

Dalam usaha dunia membuat vaksin COVID-19, China termasuk yang berada di garis terdepan dengan lima potensi vaksin yang sejauh ini belum ada yang mencapai tahap akhir uji coba.

Menurut laporan yang dikeluarkan pemerintah China di bulan Oktober, sejauh ini sudah ada 60 ribu warga China yang mendapat suntikan vaksin, dan "tidak seorangpun yang menunjukkan reaksi negatif."

A woman receiving a vaccine for COVID-19 in a hospital.
A woman receiving a vaccine for COVID-19 in a hospital.

Yilu Wu harus membayar Rp 1,5 juta untuk dua dosis vaksin COVID-19 yang didapatnya. (Supplied)

Yilu ikut uji coba vaksin di pertengahan Oktober setelah menunjukkan tiket pesawat dan visa sebagai bukti ia adalah mahasiswa asal China yang harus melakukan perjalanan ke luar negeri.

Keesokan harinya dia mendapat lampu hijau dan mendatangi rumah sakit di provinsi asalnya Zhejiang.

"Saya senang sekali namun juga cemas. Ini memberikan harapan, rasasanya seperti melihat matahari bersinar di Inggris setelah berhari-hari hujan," katanya.

Dia awalnya khawatir dengan keamanan dan juga kulitas vaksin namun akhirnya membayar sekitar Rp 1,5 juta untuk dua dosis vaksin yang diterimanya.

Yilu mengatakan kembali ke Inggris tanpa mendapatkan vaksin uji coba adalah hal yang berbahaya baginya saat ini, karena di Inggris sedang menghadapi gelombang kedua penularan COVID-19 dengan 20 ribu kasus terjadi dalam sehari.

"Mendapatkan vaksin lebih baik daripada tidak sama sekali dan pemerintah sudah merinci tindakan berjaga-jaga yang harus dilakukan. Saya percaya vaksin ini tidak akan ada dampak sampingnya," kata Wu.

Sama dengan rencana banyak negara lainnya, program vaksinasi COVID-19 China pada awalnya akan diperuntukkan bagi mereka yang masuk dalam kelompok beresiko tinggi.

Mereka itu adalah tenaga layanan kesehatan, petugas pabean, dan mereka yang akan melakukan perjalanan ke luar negeri.

Menurut ketua pengembangan vaksin COVID-19 China, Zheng Zhongwei, China diperkirakan akan memproduksi sampai 610 juta dosis vaksin di akhir Desember 2020.

Sekarang ini ada 13 vaksin yang sedang melakukan uji coba di China.

Dua lembaga China, Sinovac dad Sinopharm sudah memasuki uji coba tahap ketiga dengan menyuntikannya kepada relawan di 10 negara.

Menurut kantor berita China Xinhua, salah satu negara itu adalah Indonesia, yang sudah mengumumkan rencana melakukan vaksin sekitar sembilan juta orang dengan Sinovac, kemungkinan dari pertengahan Desember dalam usaha membuat "Bali menjadi zona hijau mulai tahun depan".

Dianggap sebagai hal yang etis

Bagaimana pandangan pakar mengenai mereka yang sudah mendapatkan vaksin padahal masih dalam uji coba tahap ketiga?

Dr Marylouise McLaws adalah salah seorang penasehat terkait COVID-19 untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan professor di University of New South Wales.

Dia mengatakan menawarkan vaksin di uji coba tahap ketiga "bukanlah hal yang tidak etis", karena mereka yang menerima vaksin itu melakukannya tanpa paksaaan.

"Ini bukan hal yang berbahaya seperti kalau mereka akan bepergian ke Amerika Serikat atau Inggris. Ini menjadi tidak etis bila para mahasiswa ini dipaksa untuk melakukannya," kata Dr McLaws kepada ABC.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mendesak negara-negara untuk mempersiapkan diri untuk segera memproduksi vaksin yang nantinya akan sudah melewati uji coba final.

Boxes of a medicine called SARS-CoV-2 Vaccine
Boxes of a medicine called SARS-CoV-2 Vaccine

Sinovac Biotech mengatakan bahwa vaksin ini diharapkan bekerja dengan mencegah virus bisa berkembang dalam tubuh manusia. (ABC News: Steve Wang)

Australia sudah mulai memproduksi vaksin buatan Oxford

Salah satu negara yang sudah mulai memproduksi vaksin adalah Australia dengan perusahaan bioteknologi global CSL mulai memproduksi salah satu vaksin yang disebut paling menjanjikan.

CSL memiliki laboratorium di kawasan Broadmeadows, Melbourne, yang bisa memproses vaksin hasil kerjasama antara Oxford University dan Astra Zeneca.

Seperti dilaporkan media Australia Sydney Morning Herald (SMH), kepala bidang sains CSL Andrew Nash mengatakan satu milimeter vaksin akan mulai dicairkan hari Senin (9/11/2020), setelah sebelumnya dibekukan menggunakan cairan nitrogen.

CSL sekarang memiliki kontrak terpisah dengan Astra Zeneca dan Pemerintah Australia guna memproduksi sekitar 30 juta dosis vaksin ini.

CSL mengatakan proses keseluruhan untuk membuat vaksin tersebut adalah 50 hari dan masih harus mendapat persetujuan dari lembaga berwenang bernama "Therapeutic Goods Administration" (TGA) untuk digunakan di Australia.

Hasil uji coba tahap ketiga yang dilakukan Oxford University diperkirakan akan selesai di akhir Desember.

Bila uji coba positif dan vaksin itu lolos dari kajian pihak berwenang, maka dosis pertama vaksin akan tersedia beberapa bulan setelah itu di tahun 2021.

Secara keseluruhan di dunia saat ini ada 150 vaksin yang sedang dikembangkan, kebanyakan masih dalam taraf pra-klinis, artinya masih diujicobakan terhadap hewat atau masih dikembangkan di laboratorium.

Sekitar 40 diantaranya sudah melakukan uji coba terhadap manusia.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dengan berita terkait China dari artikel ini.