Risalah: Pelemahan yen picu bank sentral Jepang debat tekanan inflasi

Pembuat kebijakan bank sentral Jepang (BoJ) memperhatikan meningkatnya tekanan inflasi dengan salah satunya menyerukan perlunya pada akhirnya mengkomunikasikan strategi keluar dari kebijakan moneter ultra-longgar, risalah pertemuan mereka untuk September menunjukkan pada Rabu.

BoJ mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar pada pertemuan 22 September dan gubernurnya Haruhiko Kuroda mengatakan suku bunga akan tetap rendah untuk "dua hingga tiga tahun," sebuah pernyataan yang mengirim yen melemah tajam dan kemudian mendorong pemerintah untuk intervensi di pasar uang guna menopang mata uangnya.

Banyak dalam sembilan anggota dewan mengatakan BoJ harus menjaga kebijakan moneter sangat longgar untuk memastikan kenaikan upah yang cukup dan membantu mencapai target inflasi bank 2,0 persen secara berkelanjutan, risalah menunjukkan.

Tetapi beberapa mengatakan perilaku penetapan harga perusahaan-perusahaan mungkin berubah karena semakin banyak perusahaan menaikkan harga dengan satu mengatakan perusahaan kemungkinan akan terus menaikkan harga, risalah mengatakan.

"Kita harus dengan rendah hati mengawasi tanpa gagasan yang telah ditetapkan sebelumnya, risiko inflasi melampaui ekspektasi secara tajam, termasuk dari dampak pergerakan mata uang," kata seorang anggota, dikutip dari Reuters.

Tingkat inflasi konsumen inti Jepang melaju cepat ke tertinggi baru delapan tahun 3,0 persen pada September, menentang tekad bank sentral untuk mempertahankan sikap kebijakan ultra-longgar karena kemerosotan yen ke posisi terendah 32-tahun terus mendorong biaya impor.

Tawaran BoJ untuk membeli obligasi dalam jumlah tak terbatas untuk mempertahankan batas 0,25 persen pada imbal hasil 10-tahun juga telah meningkatkan kekhawatiran atas efek samping dari pelonggaran yang berkepanjangan, seperti distorsi dalam bentuk kurva imbal hasil.

"Ketika waktu yang tepat tiba, penting untuk mengomunikasikan ke pasar strategi keluar dari kebijakan ultra-longgar," kata salah satu anggota dewan.

BoJ tetap menjadi pengecualian di antara gelombang pengetatan kebijakan moneter global oleh bank-bank sentral karena berfokus pada pemulihan ekonomi yang rapuh dengan stimulus agresif. Kuroda telah berulang kali menekankan tekad bank untuk menjaga kebijakan moneter sangat longgar.

Yen telah melemah tajam terhadap dolar karena pasar fokus pada perbedaan antara kebijakan ultra-longgar BoJ dan kenaikan suku bunga AS.

Baca juga: Jepang habiskan 42,8 miliar dolar buat intervensi Oktober menopang yen
Baca juga: Dolar AS menguat di sesi Asia jelang pertemuan Fed, yen jatuh
Baca juga: Yen jatuh terhadap dolar karena BoJ "dovish", pasar tunggu putusan Fed