Riset: bagaimana anak muda bisa bongkar prasangka keagamaan dan lawan radikalisme lewat dialog lintas iman

Artikel ini terbit dalam rangka Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2022.

Banyak riset selama ini menempatkan anak muda sebagai kelompok yang terlibat atau rentan terhadap gerakan radikalisme dan ekstremisme.

Survei 2017 dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, misalnya, menemukan bahwa dari 1859 pelajar dan mahasiswa di 34 provinsi, banyak yang punya opini keagamaan yang intoleran (51,1%) dan radikal (58,5%), serta mendukung persekusi terhadap kelompok minoritas keagamaan (86,55%).

Survei itu juga menyebutkan beberapa faktor pendorong – dari pendidikan di sekolah, keterpaparan di internet, hingga kegagalan organisasi keagamaan merangkul anak muda.

Tetapi, di sisi lain, pandangan demikian seolah menyiratkan kalau anak muda semata-mata “korban” dari faktor-faktor tersebut dan tidak punya agensi mereka sendiri.

Di tengah banyak kajian keagamaan anak muda, sedikit yang meneliti kenapa di tengah arus konservatisme yang mengemuka, masih ada kelompok anak muda yang menarasikan sebaliknya: perdamaian dan toleransi.

Riset yang saya terbitkan pada Agustus 2022 mencoba mengisi kekosongan ini.

Dalam riset tersebut, saya mencoba menawarkan gambaran bagaimana komunitas anak muda justru menerapkan strategi-strategi untuk saling membongkar prasangka keagamaan dan mengkampanyekan kerukunan antarumat beragama melalui dialog lintas iman, serta faktor apa saja yang melatarinya.

Lire la suite: Pentingnya riset tentang keseharian anak muda dalam memahami tingkat konservatisme di antara mereka

Mengurai prasangka lewat “Kemah Perdamaian”

Studi yang saya lakukan berlangsung dari 2019 sampai 2020 di komunitas anak muda lintas iman di Yogyakarta bernama Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC).

Penelitian ini melibatkan sejumlah fasilitator dan anggota komunitas tersebut. Mereka menguraikan beragam strategi, program rutinnya, dan faktor di balik upaya pembendungan narasi ekstremisme dan kampanye toleransi keagamaan.

Komunitas YIPC mengusung empat nilai utama: berdamai dengan Tuhan (relasi vertikal-ilahiah), berdamai dengan diri sendiri (bentuk self-acceptance), berdamai dengan sesama manusia (sosial horizontal), dan berdamai dengan lingkungan (nilai ekologi). Keempat nilai yang saling berhubungan itu disisipkan pada setiap program rutin mereka, salah satunya adalah “Kemah Perdamaian” (Peace Camp).

Para peserta berkemah selama 3 hari 2 malam dengan agenda berisi materi, permainan, dan utamanya dialog interaktif dengan sesama peserta secara lintas iman.

Dalam kemah perdamaian ini, misalnya, dialog lintas iman berlangsung dengan cukup seru – bahkan sengit – terutama pada sesi mengurai prasangka.

Para peserta diajak untuk berani mengungkapkan pendapat dan praduga mereka, untuk kemudian mengklarifikasinya langsung dengan pemeluk agama yang bersangkutan secara tatap muka. Setiap individu diberi ruang bebas untuk bertanya, mengemukakan isu, hingga memberi pernyataan yang “keji” sekalipun.

Tidak jarang tema sensitif menyeruak.

Sebagai contoh, dari peserta Muslim ke peserta Kristiani muncul pertanyaan:

“Yesus disalib kenapa disembah?”,

“Apa itu konsep trinitas?”,

“Bedanya Roh Kudus-Allah-Yesus itu bagaimana?” hingga

“Babi rasanya gimana?”

Peserta Kristiani pun bertanya balik ke rekan-rekan mereka yang beragama Muslim:

“Muslim kenapa suka poligami?”

“Kenapa banyak yang jahat dan suka mendiskriminasi kelompok lainnya” atau “merasa paling benar?” hingga

“Kenapa suka main agama di ranah politik?”

Hal yang menarik dari sesi klarifikasi prasangka semacam itu adalah prosesnya yang fokus mengurai kekusutan yang cenderung negatif – dan selama ini dipendam masing-masing pihak.

Poin-poin tersebut kemudian mereka catat di kertas besar, lalu “pihak tersangka” diberi kesempatan untuk menjelaskan.

Di sini, mereka belajar topik-topik baru dari ajaran agama yang berbeda, dan boleh jadi, mereka sembari membaca ulang pengetahuan keagamaan miliknya sendiri (retrospeksi) untuk menjawab pertanyaan dari peserta yang lain.

Kesadaran kolektif dan “musuh yang terbayang”

Usai mencermati beragam ekspresi, pernyataan, aktivitas, dan cerita lewat percakapan dengan sejumlah peserta dalam Peace Camp ini, saya mendapat beberapa indikasi implisit mengenai faktor di balik keikutsertaan mereka mengkampanyekan perdamaian.

Dua di antaranya adalah kesadaran kolektif dan “imajinasi musuh bersama”.

Kesadaran bersama ini muncul dan tumbuh sebagai respons terhadap situasi eksternal – dalam hal ini radikalisme dan ekstremisme – yang mengancam kebutuhan dasar pemeluk agama akan rasa aman.

Respons ini kemudian bisa memantik lahirnya interaksi lintas iman serta aksi kolektif untuk memerangi ancaman tersebut.

Dalam Peace Camp YIPC, misalnya, elemen kesadaran kolektif ini sangat memotivasi beberapa individu demi mencegah potensi konflik di antara rekan-rekannya yang berbeda agama.

Sedangkan adanya “musuh yang terbayang” (imagined common enemy) memainkan peran di dalam iklim sosial dan politik, serta jarang kita sadari.

Banyak pihak sering menggembor-gemborkan ekstremisme dan radikalisme sehingga citranya semakin mengerikan. Di sini, misalnya, negara kerap membuat adanya hiper-realitas (kesulitan membedakan imajinasi dan realitas), dan dengan peran media dan beragam institusi lainnya, berujung menciptakan imagined common enemy yang harus diperangi masyarakat Indonesia.

Dalam sejarah Indonesia, salah satu contoh imagined common enemy paling nyata adalah komunisme, Partai Komunis Indonesia (PKI), beserta beragam kelompok afiliasinya. Karena narasi yang dibangun pemerintah Orde Baru, masyarakat punya bayangan di kepalanya bahwa yang terlibat dengan PKI harus diberantas.

Sementara dalam konteks keagamaan, negara kini membangun imagined common enemy berupa ancaman radikalisme dan ekstremisme terhadap kebhinnekaan, serta beragam entitas yang dianggap sebagai wujud ide tersebut – di antaranya organisasi seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengusung angan-angan ideologis untuk mendirikan negara Islam.

Ini turut merangsang individu-individu, sering kali secara tanpa sadar, untuk ambil bagian memberantasnya.

Dalam kadar tertentu, imagined common enemy dapat menjadi katalis solidaritas sosial dan lintas iman. Hal ini juga sudah tampak dalam banyak bentuk, baik di koran, televisi, hingga media sosial.

Meski pada saat yang sama, ia juga memiliki dampak negatif yaitu berpotensi melanjutkan siklus “lingkaran setan kebencian”. Kita kerap menemukan, misalnya, dalam upaya individu atau kelompok tertentu mempromosikan toleransi, mereka justru malah diam-diam terpeleset ikut membenci kelompok yang tidak sepaham tanpa kesediaan untuk berdialog dengan mereka.

Membangun budaya dialog: pentingnya perjumpaan langsung

Para anak muda YIPC dalam riset saya, yang awalnya menyimpan beragam prasangka terhadap rekan-rekannya yang memeluk agama lain, mengaku berubah pandang setelah mengikuti Peace Camp.

Secara langsung atau tidak, hal ini menunjukkan bahwa perjumpaan langsung turut berkontribusi pada keterbukaan dan sikap inklusif.

Lire la suite: Toleran di permukaan: konsep multikulturalisme gagal membangun relasi beragama yang bermakna di Indonesia

Format dialog lintas iman yang dibuat menarik dan seru juga turut membuat anak muda lebih bersedia membangun jembatan sosial dengan mereka yang berbeda.

Berkaca pada strategi komunitas anak muda ini, penting bagi setiap upaya pencegahan ekstremisme kekerasan untuk menyediakan ruang temu yang aman bagi banyak individu dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dengan perjumpaan langsung di ruang aman tersebutlah dialog yang sehat dapat terjadi dan secara berangsur-angsur membuka cakrawala masyarakat Indonesia sejak usia muda.