Riset Ernst and Young: Pengembangan EBT di Indonesia Bisa Ciptakan 34 Ribu Pekerjaan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Studi terbaru Ernst and Young (EY), salah satu lembaga audit terbesar di dunia, mengungkapkan, energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia merupakan yang paling menonjol dan paling menarik di sektor energi. Riset tersebut mengidentifikasi potensi pemulihan hijau dengan total 97 proyek energi terbarukan dan perkiraan investasi mencapai USD 12 miliar.

Dari 97 proyek EBT, Indonesia berpotensi menambah total 4 GW pembangkit listrik terbarukan, menciptakan 34 ribu pekerjaan, serta menurunkan emisi 19 MTCO2e.

“Perusahaan swasta semakin tertarik pada energi terbarukan untuk berkontribusi pada transisi energi di Indonesia. Pembaruan target nasional dan proses pengadaan yang jelas dapat mempercepat investasi di sektor ini,” mengutip riset Ernst and Young Selasa (12/4/2021).

Riset Ernst and Young juga menekankan bahwa manfaat lingkungan dan ekonomi dari pengembangan energi hijau tidak dapat lagi diabaikan. Pemerintah di seluruh dunia telah mengakui peran yang dapat dimainkan sektor energi hijau dalam pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

Studi ini menemukan, ada minat investor yang luar biasa dan kelebihan modal swasta yang siap dikerahkan di sektor energi bersih.

"Namun, transisi energi bersih dapat dipercepat dan diperkuat hanya jika tantangan tertentu ditangani oleh pihak berwenang, yang akan membuat sektor ini menarik bagi investasi swasta.” tulis riset tersebut.

Berdasarkan studi tersebut, selain panas bumi, solar panel dan angin merupakan yang paling menarik. Namun, masa depan pengembangan EBT di Indonesia akan bergantung pada strategi PT PLN (Persero) sebagai pemasok tunggal listrik. Sementara, Indonesia membutuhkan regulasi yang jelas untuk mengakselerasi transisi energi.

Rekomendasi

PLTB ini bisa mengaliri listrik 360 ribu pelanggan 450 KV. Proyek ini bagian dari proyek percepatan pembangunan pembangkit 35.000 MW, sekaligus bagian dari upaya Pemerintah mencapai target bauran energi nasional 23 persen dari EBT pada 2025.
PLTB ini bisa mengaliri listrik 360 ribu pelanggan 450 KV. Proyek ini bagian dari proyek percepatan pembangunan pembangkit 35.000 MW, sekaligus bagian dari upaya Pemerintah mencapai target bauran energi nasional 23 persen dari EBT pada 2025.

Studi ini merekomendasikan program spesifik berbasis pasar yang bisa dilakukan PLN. Di antaranya memastikan keselarasan antara rencana pengembangan listrik tahunan PLN dan rencana yang diumumkan pemerintah, menyelenggarakan proses pengadaan yang transparan, mengadopsi pendekatan Feed in Tariff (FiT) untuk mengatasi hambatan yang ada, dan mempersingkat negosiasi PPA.

Mengenalkan tarif optimal untuk mempromosikan energi terbarukan, memastikan jaminan kredit, menjembatani pembiayaan dan pinjaman yang dapat dijadikan paket stimulus untuk membantu mendanai proyek skala kecil. Apalagi di Indonesia, 61 dari 97 proyek yang teridentifikasi merupakan proyek dengan investasi kurang dari USD 50 juta.

Secara keseluruhan, studi ini menggarisbawahi bahwa “Pendanaan proyek hanyalah salah satu kendala yang teridentifikasi. Tapi untuk kebanyakan proyek di banyak negara, tantangan utamanya adalah isu non-finansial dan terkait dengan regulasi, administratif, dan komersial proyek.”

Dalam studi bertajuk “Green Recovery Opportunities in Southeast Asia, Japan, South Korea and Taiwan” tersebut, EY melakukan riset di delapan negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Studi di delapan negara tersebut mengidentifikasi total 811 proyek energi terbarukan, dengan potensi investasi USD 316 miliar, penambahan kapasitas 90 GW, 870 ribu potensi pekerjaan tercipta, dan penurunan emisi 229 MTCO2e.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: