Riset: Jutaan Warga India di Tempat Kotor Diklaim Kebal COVID-19

Renne R.A Kawilarang, BBC Indonesia
·Bacaan 5 menit

Jutaan orang di India memiliki akses terbatas ke air bersih, mengonsumsi makanan yang tidak bersih, menghirup udara kotor, dan tinggal di lingkungan yang padat.

Para peneliti menemukan hal-hal itu membuat mereka rentan terhadap sejumlah penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung dan pernapasan kronis, kanker dan diabetes.

Ini berkontribusi secara signifikan terhadap beban penyakit yang harus ditanggung, menurut laporan pemerintah. Polusi udara saja membunuh lebih dari satu juta orang India setiap tahun.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan air yang bersih, sanitasi dan kondisi higienis sangat penting untuk perlindungan kesehatan terhadap Covid-19.

Sebuah studi bersama oleh WHO dan Unicef, mengatakan hampir tiga miliar orang - sekitar 40% dari populasi global, yang hampir seluruhnya tinggal di negara berkembang - kekurangan "fasilitas cuci tangan dasar".

Fakta ini cukup untuk memicu kekhawatiran bahwa virus corona akan berdampak pada populasi negara-negara itu dan menyebabkan jutaan kematian di negara-negara seperti India.

"Biasanya akses ke fasilitas perawatan kesehatan, kebersihan, dan sanitasi lebih buruk di negara-negara ini dan sering diyakini sebagai faktor penyebab tingginya insiden penyakit menular di sana.

"Bukan hal yang mengejutkan bahwa Covid-19 akan memiliki konsekuensi bencana di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah," kata Dr Shekhar Mande, direktur jenderal Dewan Riset Ilmiah dan Industri (CSIR).

India adalah negara dari seperenam populasi dunia dan seperenam dari kasus yang dilaporkan.

Namun, India hanya menyumbang 10% dari kasus kematian dunia akibat virus corona, dan tingkat kematian kasus atau CFR, yang mengukur angka kematian di antara pasien Covid-19, kurang dari 2%, termasuk yang terendah di dunia.

Sekarang, penelitian baru oleh para ilmuwan India menunjukkan bahwa kebersihan yang rendah, kurangnya air minum bersih, dan kondisi tidak sehat mungkin sebenarnya telah menyelamatkan banyak nyawa dari Covid-19 yang parah.

Dengan kata lain, mereka memperkirakan bahwa orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah mungkin dapat selamat dari bentuk infeksi yang parah karena paparan berbagai patogen sejak masa kanak-kanak, yang memberi mereka kekebalan yang lebih kuat terhadap Covid-19.

Kedua makalah tersebut, yang belum ditinjau rekan sejawatnya, mengukur kematian per juta populasi untuk membandingkan tingkat kematian.

Delhi pollution
Lebih dari satu juta orang meninggal akibat polusi udara di India setiap tahunnya.

Satu makalah membandingkan data yang tersedia dari 106 negara dengan dua lusin parameter, seperti kepadatan penduduk, demografi, prevalensi penyakit, dan kualitas sanitasi.

Para ilmuwan menemukan lebih banyak orang meninggal karena Covid-19 di negara berpenghasilan tinggi.

"Orang-orang di negara yang lebih miskin dan berpenghasilan rendah tampaknya memiliki respons imunologis yang lebih tinggi terhadap penyakit tersebut, dibandingkan dengan mereka yang tinggal di negara berpenghasilan tinggi," kata Dr. Mande, salah satu penulis studi tersebut.

Makalah lain mengkaji peran yang dimainkan oleh mikrobioma - triliunan mikroba yang berada di dalam tubuh manusia - dalam infeksi Covid-19.

Mikrobioma termasuk bakteri, virus, jamur dan archaea bersel tunggal.

Mereka membantu dalam pencernaan, melindungi dari bakteri penyebab penyakit, mengatur sistem kekebalan dan memproduksi vitamin.

Praveen Kumar dan Bal Chander dari Dr Rajendra Prasad Government Medical College menganalisis data dari 122 negara, termasuk 80 negara berpenghasilan tinggi dan menengah ke atas.

Mereka berpendapat bahwa kematian akibat Covid-19 lebih rendah di negara-negara dengan populasi lebih tinggi yang terpapar beragam mikroba, terutama yang disebut "bakteri gram negatif".

Bakteri ini biasanya menyebabkan pneumonia parah, darah dan saluran kemih, serta infeksi kulit.

Tetapi mereka juga diyakini menghasilkan sitokin antivirus - molekul yang membantu melawan patogen - yang disebut interferon yang melindungi sel dari virus corona.

Dharavi is one of the world`s most congested slums
Dharavi adalah salah satu area terpadat di Mumbai.

"Sejauh ini, model prediktif yang ada untuk Covid-19 belum memperhitungkan status kekebalan populasi yang disebabkan oleh mikrobioma atau paparan mikroba lingkungan," kata Dr Chander.

Para ilmuwan percaya semuanya bermuara pada "hipotesis tentang kebersihan".

Filosofinya adalah bahwa lingkungan kita telah menjadi begitu bersih sehingga sistem kekebalan tubuh kita tidak cukup terlatih, menurut Matt Richtell, penulis buku An Elegant Defense: The Extraordinary New Science of the Immune System.

"Gagasan luasnya adalah bahwa kita membuat sistem kekebalan tubuh kita kekurangan latihan dan aktivitas karena ada fokus berlebihan pada kebersihan," katanya.

Ini bukanlah ide baru.

Sebuah makalah tentang demam, yang diterbitkan pada tahun 1989, menemukan hubungan yang mencolok antara kemungkinan seorang anak terkena alergi demam dengan jumlah saudara kandung yang dimilikinya.

Makalah tersebut berhipotesis bahwa "penyakit alergi dicegah melalui infeksi pada masa kanak-kanak, ditularkan melalui kontak tidak higienis dengan saudara yang lebih tua atau diperoleh sebelum lahir dari ibu yang terinfeksi melalui kontak dengan anak-anaknya yang lebih tua".

Makalah lain yang diterbitkan oleh Organisasi Alergi Dunia dan dikutip oleh Richtell mengatakan studi migrasi menunjukkan bahwa jenis alergi dan kondisi autoimun "meningkat ketika orang berpindah dari negara yang lebih miskin ke negara yang lebih kaya".

Smita Iyer, ahli imunologi di University of California, Davis, percaya bahwa "hipotesis kebersihan" dalam Covid-19 "benar-benar bertentangan dengan pemahaman kita tentang respons kekebalan anti-virus".

People are seen at a crowded market amidst the spread of the coronavirus disease (COVID-19) in Mumbai, India, October 29, 2020.
India hanya melaporkan 10 persen dari jumlah kematian dunia akibat virus corona.

"Namun, dengan menyadari bahwa sistem kekebalan kita dapat menghadapi banyak musuh yang tangguh dalam suksesi yang relatif cepat atau bahkan sekaligus, kita dapat mengkonstruksikan model respons imun terhadap patogen yang sebelumnya pernah menyerang atau yang tengah menyerang dengan kekebalan terhadap penyakit saat ini," kata Dr. Iyer.

Para ilmuwan mengatakan karena korelasi tidak menyiratkan sebab-akibat, penelitian semacam itu harus dianggap sebagai observasi.

Juga, seperti yang dikatakan Dr Mande, "ini tidak boleh disimpulkan sebagai advokasi kami terhadap praktik kebersihan yang lebih longgar untuk menangani pandemi di masa depan".

Krutika Kuppalli, asisten profesor penyakit menular di Medical University of South Carolina, mengatakan penelitian baru tersebut memperhitungkan berbagai asumsi yang belum terbukti secara ilmiah.

"Ini lebih merupakan hipotesis daripada fakta ilmiah," katanya.

Selain itu, ahli epidemiologi telah mengaitkan tingkat kematian yang rendah di negara-negara seperti India dengan populasi usia muda, mengingat orang tua biasanya lebih rentan.

Tidak jelas apakah faktor lain, seperti kekebalan yang berasal dari infeksi sebelumnya dari virus corona lain, juga berpengaruh.

Jelasnya, tingkat kematian yang rendah mungkin disebabkan berbagai alasan.

"Masih banyak yang harus kami pelajari tentang virus ini karena kami baru 10 bulan memasuki pandemi," kata Prof Kuppalli.

Faktanya adalah banyak yang tidak kita ketahui.