Riset: makin banyak generasi muda Kristiani menggunakan musik tradisional untuk mengekspresikan identitas keagamaan mereka

Musik membentuk suatu ruang yang penting dalam kehidupan sosial dan kultural; ia dapat menjaga keberlangsungan komunitas dan mendorong integrasi sosial. Musik juga merupakan daya kreasi yang dapat membentuk identitas suatu individual maupun kelompok dalam mengekspresikan suatu budaya.

Di suatu negara di mana umat Kristiani merupakan minoritas, memahami bagaimana kelompok agama menggunakan seni dan musik tradisional untuk mengekspresikan keyakinan dan identitas, sangatlah penting guna melestarikan warisan budayanya.

Saya meneliti tentang musik tradisional di Indonesia, termasuk penggunaannya dalam konteks Kristiani – baik Protestan maupun Katolik – khususnya di daerah Pulau Jawa bagian tengah dan juga Flores di Indonesia Timur. Saya mengamati dan berpartisipasi dalam berbagai acara musik kerohanian, termasuk layanan keagamaan, pernikahan, dan siaran radio.

Pengalaman studi ini saya tuangkan dalam buku saya yang terbit pada tahun 2020, Performing Faith: Christian Music, Identity and Inculturation in Indonesia.

Salah satu hal yang saya tulis dalam buku tersebut adalah tentang perbedaan antargenerasi di antara umat Kristiani di Indonesia. Ini terlihat dari preferensi musik mereka: musik rohani yang menggunakan medium dan bahasa tradisional lebih disukai oleh umat yang berusia paruh baya dan generasi yang lebih tua.

Namun, salah satunya berkat munculnya departemen musik tradisional di sekolah-sekolah seni di seluruh Indonesia, kini banyak anak muda, termasuk umat Kristiani, mengadopsi seni tradisional dalam ekspresi keagamaan mereka.

Perpaduan kepercayaan global dan tradisi lokal

Dalam penelitian tersebut, saya menganalisis beragam bentuk tradisi musik Kristiani – termasuk tarian tradisional dan pentas wayang yang populer di kalangan generasi tua. Sebaliknya, umat yang berusia muda cenderung lebih menyukai lagu-lagu gereja versi modern.

Fenomena ini secara umum merupakan akibat dari globalisasi, ditambah dengan perpolitikan dalam negeri yang selalu menekankan pentingnya modernisasi, kemajuan, dan pembangunan.

Citra seni tradisional sebagai sesuatu yang “terbelakang”, “jadul”, dan “perlu perbaikan” yang didorong oleh pemerintah Orde Baru berkontribusi pada banyaknya generasi muda, terutama di wilayah urban, yang menjauhi tradisi adat dan menginginkan integrasi dengan budaya nasional “modern”.

Beberapa perbedaan ini bisa kita amati antara umat Kristiani muda yang hidup di perkotaan dan yang tinggal di perdesaan. Mereka yang hidup di perdesaan cenderung menunjukkan minat yang lebih besar pada musik tradisional.

Namun, sebenarnya situasinya tidak sekelam itu. Dengan semakin banyaknya fakultas dan sekolah musik yang didirikan di seluruh Indonesia, semakin banyak pula generasi muda yang mempelajari seni tradisional – kesempatan yang dulunya hanya terbatas untuk orang-orang di keraton dan kelompok elit.

Di Jawa, banyak komunitas Katolik dan Protestan menggunakan musik tradisional dalam prosesi kebaktian, terutama di Gereja Kristen Jawa (GKJ).

Lagu-lagu rohani yang dibuat menggunakan gamelan Jawa kini banyak dinyanyikan oleh anak muda yang tergabung dalam paduan suara rohani, dengan atau tanpa gamelan.

Kini, seni tradisional tidak hanya berkompetisi untuk mendapat tempat dalam tren seni nasional, tapi juga berjuang untuk mendapat tempat di gereja.

Sejak abad ke-21, seni tradisional memang sudah hadir di gereja-gereja di Indonesia. Namun, komunitas Kristiani masih harus mengembangkan bentuk-bentuk seni tersebut guna memperluas cakupan audiens, terutama di kalangan generasi muda.

Mengajarkan generasi muda untuk memahami dan mengapresiasi budaya tradisional secara menyeluruh adalah salah satu cara untuk memastikan keberlanjutan warisan musik tradisional.

Minat terhadap musik tradisional yang datang dari luar – termasuk dari peneliti asing maupun orang Indonesia yang meneliti tradisi lokal di luar budaya mereka sendiri – kerap menumbuhkan kekaguman di antara komunitas lokal. Berbagai atensi ini menunjukkan tingginya nilai musik tradisional, yang harapannya juga dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap bentuk seni ini.

Suatu institusi Katolik ternama di Yogyakarta, Pusat Musik Liturgi (PML), menyelenggarakan berbagai lokakarya musik di seluruh Indonesia. Misi umum mereka adalah untuk menumbuhkan perkembangan musik keagamaan di daerah, terutama lagu-lagu rohani, yang memuat tradisi lokal yang kaya.

Karl Edmund Prier, seorang pastor Jerman di Indonesia yang menjadi salah satu pimpinan PML, menceritakan bagaimana banyak anak muda yang berpartisipasi di dalam berbagai lokakarya ini menjadi bersemangat untuk mendalami warisan mereka. Banyak umat Kristiani muda kemudian mulai mempelajari budaya musik mereka masing-masing.

Dalam pekerjaan saya sebagai profesor maupun musisi aktif, saya juga melihat banyak anak muda dari Indonesia datang ke Polandia untuk menempuh pendidikan.

Melalui Kedutaan Indonesia, beberapa di antara mereka menjadi tertarik dengan musik tradisional Indonesia yang dimainkan dengan gamelan maupun instrumen lain. Mereka kerap bergabung untuk belajar dan bahkan menampilkannya di beberapa gelaran kebudayaan di Warsaw maupun daerah lain di Eropa.

Melalui keberagamaan genre musik (tidak hanya tradisional), umat Kristiani di Indonesia – serupa dengan rekan-rekan Muslim mereka – belajar bagaimana caranya menjadi umat Kristiani dalam konteks Asia dan Asia Tenggara, bagaimana mereka bisa tetap berkaca pada Kristen ala tradisi Eropa-Amerika, dan bagaimana secara aktif menentukan arah umat Kristiani di Indonesia.

Melalui musik, umat Kristiani di Indonesia mengungkapkan ekspresi terkait sejarah, relasi kuasa, dan aliansi kebudayaan maupun sosial, sembari terus menjelajahi identitas komunal maupun individual mereka sendiri.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel