Riset Nasional: Indonesia Butuh Banyak Peneliti

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 3 menit

VIVA – Indonesia membutuhkan lebih banyak peneliti di bidang kesehatan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan terutama terkait pandemi COVID-19. Sebagai informasi, jumlah peneliti secara keseluruhan di Indonesia masih minim.

Menurut Rencana Induk Riset Nasional 2017-2045, saat ini baru ada 80 peneliti per 1 juta
penduduk, sementara target peneliti pada tahun 2039 mencapai 8.000 peneliti per 1 juta
penduduk.

Lewat rilis yang diterima VIVA, peneliti menjadi profesi yang sangat penting menghadapi kondisi negara yang membutuhkan solusi. Hal ini karena para pengambil kebijakan membutuhkan hasil penelitian untuk mendasari kebijakan yang diambil. Senada dengan hal ini, Menteri Riset Teknologi / Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Prof. Bambang Brodjonegoro pada saat memberikan sambutan di acara Dexa Award Science Scholarship 2020 mengemukakan bahwa peneliti menjadi harapan bangsa yang dapat berkontribusi melalui perkembangan riset dan penelitian yang bermanfaat untuk mencapai kemandirian bangsa.

Menurut Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences Dr. Raymond Tjandrawinata, peneliti juga memiliki visi sebagai penggerak perekonomian negara berbasis
ilmu pengetahuan, apabila hasil penelitiannya bisa dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.

“Banyak sekali permasalahan di sektor kesehatan yang perlu dicarikan jalan keluarnya melalui
penelitian. Misalnya bagaimana Indonesia keluar dari jeratan impor bahan baku produk
farmasi yang saat ini 95 persen impor dari China dan India,” kata Dr Raymond.

Sementara negeri kita, lanjutnya, kaya sekali akan biodiversitas alam Indonesia, bahkan nomor 2 di dunia setelah Brazil. Bagaimana peneliti dapat meneliti bahan baku alam, yang ke depannya produk hasil penelitian ini bisa digunakan secara masif oleh masyarakat. Maka ekonomi kerakyatan yang dimulai dari petani peternak, nelayan sebagai penghasil bahan baku, kemudian pedagang, dan sebagainya, akan merasakan dampak ekonominya.

Leader Dharma Dexa, Gloria Haslim mengemukakan, untuk mendorong minat tersebut,
Dexa Group sebagai perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia menggelar Dexa Award Science Scholarship (DASS) 2021.

“Pelaksanaan Dexa Award Science Scholarship ini merupakan gerakan inisiatif Dexa Group
terhadap pendidikan karena para peneliti tidak hanya membutuhkan gelar minimal S2, tetapi
juga dana penelitian yang tidak sedikit. Dexa Group berperan untuk mendorong lahirnya
saintis baru yang berani melakukan terobosan dalam mencari solusi masalah kesehatan di
Indonesia,” jelas Ibu Gloria Haslim.

Minimnya anggaran riset juga pernah disampaikan oleh Prof. Bambang Brodjonegoro bahwa
anggaran riset di Indonesia tergolong sangat minim dibandingkan negara-negara lain, yakni
sekitar 0,25 persen dari produk domestik bruto.

Ketua Panitia DASS 2021 sekaligus Head of Corporate Communications Dexa Group, Sonny Himawan menambahkan, Dexa Award Science Scholarship merupakan ajang beasiswa
bergengsi di bidang penelitian kesehatan yang berlangsung sejak 2018 dan berperan
meningkatkan ekosistem penelitian sekaligus inovasi di Indonesia. Untuk itu di tahun 2021 ini,
DASS mengambil tema Inovasi untuk Bangsa.

“Dexa sangat optimis di tahun 2021 ini peminat DASS akan lebih baik. Di tahun 2020, saat
pandemik Covid-19 berlangsung, peminat DASS justru meningkat signifikan mencapai 28
persen dibandingkan tahun 2019. Para peminat beasiswa S2 DASS ini berasal dari 474
universitas yang berasal dari 403 kabupaten/kota di seluruh Indonesia,” kata Sonny.

Dexa Group sebagai perusahaan farmasi sangat peduli akan pentingnya pendidikan di Indonesia. Karena itu, bentuk dukungan Dexa Group terhadap pendidikan tidak hanya mencakup pendidikan S2, tetapi juga bagi para lulusan apoteker hingga sekolah dasar.

Dukungan beasiswa terhadap apoteker telah berlangsung selama 11 tahun. Secara keseluruhan
beasiswa pendidikan Dexa Group mencapai lebih dari 3.000 beasiswa baik dari tingkat sekolah
dasar hingga pendidikan tinggi S2.

Program beasiswa DASS digagas atas ide mulia dari Founder Dexa Group (Alm) Rudy
Soetikno. Semangat pengabdian dan kontribusinya di bidang kesehatan ingin ditularkan
kepada para generasi penerusnya melalui dukungan untuk jenjang pendidikan yang lebih
tinggi.

Gagasan ini kemudian diwujudnyatakan oleh Pimpinan Dexa Group, Ferry Soetikno, Leader Dharma Dexa Gloria Haslim, dan Raymond Tjandrawinata sehingga melahirkan program Dexa Award Science Scholarship.

Dalam program beasiswa tersebut, mahasiswa dapat mengajukan proposal penelitian dari
beragam latar belakang keilmuan yang terkait dengan kesehatan, yang hasil akhirnya nanti
dapat diaplikasikan untuk kesehatan masyarakat.

Ide proposal yang diajukan dan terpilih sebagai pemenang, akan mendapatkan apresiasi beasiswa pendidikan S2 dan juga biaya riset hingga total Rp1 miliar. Pemenang DASS juga bebas memilih kampus S2 terakreditasi A di seluruh Indonesia dan memiliki kesempatan berkarir di Dexa Group.

Rangkaian program beasiswa DASS 2021 telah dimulai. Pembukaan pendafataran DASS 2021
dibuka pada Selasa, 23 Maret 2021 dan pendaftaran berakhir hingga 21 April 2021.