Riset: Produk Tembakau Alternatif Cegah Krisis Merokok di Asia Pasifik

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVA – Guna menekan angka perokok secara global, pengembangan roduk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik, dinilai harus dapat dimaksimalkan.

Hal tersebut efektif terutama di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah. Dengan berkurangnya angka perokok, maka turut berkontribusi dalam menekan penyakit hingga kemiskinan yang diakibatkan oleh konsumsi rokok.

Analisa tersebut merupakan laporan kajian Tobacco Harm Reduction: A Burning Issue for Asia yang baru diluncurkan baru-baru ini. Laporan ini merupakan kelanjutan dari GSTHR 2020: Burning Issues.

Baca juga: 512 Perusahaan Dapat Penghargaan Sukses Hadapi COVID-19

Penyusun kajian tersebut Harry Shapiro, menjelaskan, angka perokok global telah mencapai 1,1 miliar sejak tahun 2000 lalu. Sebesar 80 persen perokok dunia tinggal di negara-negara menengah ke bawah.

Angka perokok tersebut diproyeksikan akan bertambah seiring meningkatnya populasi. Dengan terus meningkatnya angka perokok, sekitar satu miliar orang diprediksi akan meninggal karena penyakit terkait merokok pada tahun 2.100 mendatang.

“Saya pikir cukup adil untuk mengatakan bahwa kawasan Asia-Pasifik benar-benar merupakan pusat dari krisis merokok karena angka-angka itu berbicara sendiri. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai mempertimbangkan gagasan pengurangan bahaya tembakau,” kata Harry dikutip dari keterangannya, Rabu 28 April 2021.

Harry merekomendasikan, Pemerintah dari negara-negara Asia Pasifik, termasuk yang berpendapatan menengah ke bawah, untuk mendukung produk tembakau alternatif. Produk ini dapat berkembang karena produsen utamanya ada di Asia.

“Ada peluang bagi kawasan ini untuk membuat suatu terobosan, apalagi mengingat China menyediakan sebagian besar e-liquid dan perangkat vaping-nya kepada seluruh dunia. Tetapi, seperti yang ditunjukkan di dalam laporan, ada banyak hambatan yang harus diatasi dalam proses itu,” ujarnya.

Senada dengan Harry, koordinator dari Coalition of Asia Pacific Tobacco Harm Reduction Advocates (CAPHRA) Nancy Loucas mengatakan, negara-negara lainnya bisa mengikut jejak Korea Selatan dan Jepang yang telah berhasil menurunkan prevalensi merokok. Pencapaian itu dilakukan melalui pemanfaatan produk tembakau alternatif.

“Kita bisa mengambil pelajaran dari negara-negara yang telah sukses dalam penerapan pengurangan bahaya tembakau," tambahnya.

Sementara itu Direktur International Network of Nicotine Consumer Organizations (INNCO) Samrat Chowdhery mengatakan, agar efektif dalam menurunkan angka perokok, perokok dewasa harus mendapatkan kemudahan dalam mengakses dan menggunakan produk tembakau alternatif, serta harganya harus terjangkau.

“Produk (Tembakau alternatif) ini secara signifikan mengurangi risiko hingga 95 persen. Lalu, ada kemudahan dalam menggunakannya sehingga ini adalah solusi yang siap pakai,” tutupnya.