Riset Soal Tracking dan Diagnosis Covid-19 di Indonesia Terbilang Tinggi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Riset di bidang tracking dan diagnosis Covid-19, menurut Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro terbilang tinggi di Indonesia. Bahkan, tidak jarang hasil riset di bidang ini banyak yang dimanfaatkan untuk publik.

"Memang saya perhatikan dari kami terlibat sejak awal, mungkin riset di bidang tracking dan diagnostik paling tinggi aktivitasnya dan hasilnya langsung terlihat," tutur Bambang dalam acara Bincang Editor yang diadakan Liputan6.com, Rabu (31/3/2021).

Menurut Bambang, kemungkinan kreativitas peneliti Indonesia banyak dialihkan ke testing atau pengujian Covid-19 karena memang melihat kebutuhan akan hal tersebut masih tinggi.

Bambang mencontohkan, salah satunya BPPT yang membuat antigen antibodi sendiri di awal pandemi. Padahal, ketika itu Indonesia masih harus impor antigen antibodi dari negara lain, sehingga buatan BPPT ini menjadi alternatif dan bisa memberikan harga lebih terjangkau.

Mengikuti perkembangan tes Covid-19, selanjutnya ada alat rapid tes antigen besutan Universitas Padjajaran yang diberi nama Si CePAD. Bambang pun mengatakan Si CePAD merupakan alat rapid tes antigen yang sepnuhnya dikembangkan di dalam negeri.

"Si CePAD dapat dikatakan sampai saat ini masih menjadi rapid test pertama yang dikembangkan penuh di dalam negeri," tuturnya menjelaskan. Selain Si CePAD, baru-baru ini ada pula metode GeNose yang dikembangkan peneliti UGM.

GeNose dari UGM

Calon penumpang kereta api menutup kantong berisi nafasnya yang kemudian dites COVID-19 dengan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat (5/2/2021). PT Kereta Api Indonesia memberlakukan calon penumpang menjalani GeNose C19 untuk tes COVID-19. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Calon penumpang kereta api menutup kantong berisi nafasnya yang kemudian dites COVID-19 dengan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat (5/2/2021). PT Kereta Api Indonesia memberlakukan calon penumpang menjalani GeNose C19 untuk tes COVID-19. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

GeNose sendiri, menurut Bambang, sedikit berbeda dari metode rapid. Sebab, berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan, rapid test dapat dipakai sebagai diagnosis untuk melihat statistik orang positif, sedangkan GeNose diarahkan untuk screening.

Metode yang digunakan GeNose pun berbeda dari yang lain sebab menggunakan embusan napas.

"Di mana embusan napas itu ada senyawa bernama VOC (Volatile Organic Compound). Di VOC itulah lalu diketahui apakah seseorang sudah kena Covid-19 atau belum. Jadi, (GeNose) memang tidak mencari virusnya, tapi menyaring apakah seseorang sudah terinfeksi atau belum," tuturnya.

RT Lamp Saliva dari Kalbe Farma

Kalbe Farma
Kalbe Farma

Selain GeNose, Bambang mengatakan baru-baru ini Kemerinterian Riset dan Teknologi bersama Kalbe Farma meluncurkan tes RT Lamp Saliva. Sesuai namanya, metode ini memanfaatkan air liur untuk mengetahui apakah seseorang menderita Covid-19 atau belum.

Sementara RT Lamp sendiri, menurut Bambang, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan merupakan tes molekular yang diberlakukan sama seperti RT-PCR dan TCM (Tes Cepat Molekuler).

"Apa yang menjadi objek di tes, tidak lagi swab yang diambil dari nasofaring, tapi cukup diambil dari air liur. Jadi, tinggal membuang ludah ke wadah, lalu dipanaskan dan dimasukkan dalam RT Lamp, dalam waktu satu setengah jam sudah ketahuan hasilnya," tutur Bambang.

Tidak hanya itu, metode ini juga memiliki harga lebih murah hingga setengah dari tes dengan PCR. Karenanya, Kementerian Riset dan Teknologi mendorong pemanfaatan RT Lamp ke Kementerian Kesehatan dan Satgas Covid-19.

Hal ini dilakukan agar tingkat testing Indonesia bisa naik tanpa harus investasi terlalu mahal untuk mesin PCR ataupun laboratorium berstandar BSL 2. Sebab, metode RT Lamp ini tidak membutuhkan dua hal tersebut.

(Dam/Why)