Riset: Tingkat literasi sains individu tidak menentukan keyakinan mereka terhadap sains

Sejumlah studi telah membuktikan bahwa literasi sains (science literacy) individu yang baik akan diikuti dengan keyakinan terhadap sains (belief in science) yang makin tinggi pula.

Beberapa perilaku yang dapat diamati terkait keyakinan terhadap sains di antaranya adalah perilaku penggunaan masker, menjaga jarak, dan kepercayaan pada vaksin. Keyakinan itu dinilai dapat membantu individu terhindar dari informasi yang keliru.

Namun, studi yang tengah saya jalankan menemukan hasil yang berbeda terkait hubungan antara literasi sains individu dengan keyakinannya terhadap sains. Individu dapat memiliki keyakinan terhadap sains walaupun mereka tidak memiliki literasi sains yang baik, dan sebaliknya.

Literasi sains tidak menentukan keyakinan sains

Literasi sains” diartikan sebagai kemampuan dalam memahami istilah atau hal-hal terkait sains disertai dengan keterampilan melakukan scientific inquiry atau memahami sesuatu dengan pendekatan ilmiah. Pengaruh yang diberikan dari literasi sains dapat berdampak secara makro maupun mikro.

Secara makro, masyarakat dengan literasi yang tinggi dapat meningkatkan kesadaran akan sains dan berpeluang menghasilkan kemajuan sains yang lebih baik. Secara mikro, individu dengan literasi sains yang memadai dapat menentukan beberapa keputusan berdasarkan logika ilmiah seperti terkait diet, merokok, vaksin.

Sementara itu, “keyakinan terhadap sains” adalah kecenderungan individu untuk menerima sains sebagai sumber pengetahuan yang dapat diandalkan dalam memahami dunia.

Studi saya, melibatkan 439 responden dengan usia berkisar antara 20-70 tahun dari 28 provinsi yang mewakili pulau-pulau besar di Indonesia.

Sebagai alat ukur untuk melihat tingkat literasi sains responden, saya memberikan sembilan pertanyaan yang mewakili sejumlah aspek, yakni kemampuan (1) mengidentifikasi argumen sains yang valid, (2) membedakan antara sumber yang bias dan reliabel, (3) mengenali penggunaan dan penyalahgunaan informasi sains, (4) memahami elemen desain penelitian, seperti ukuran sampel dan kontrol eksperimen serta bagaimana pengaruhnya terhadap temuan ilmiah, (5) kemampuan membuat grafik yang merepresentasikan data, (6) membaca dan menafsirkan grafis, (7) memecahkan masalah menggunakan keterampilan kuantitatif dan statistik, (8) memahami hasil statistik dalam melihat data, dan (9) membenarkan/mengkritik hipotesis atau argumen berdasarkan data kuantitatif.

Sedangkan untuk menilai tingkat keyakinan mereka terhadap sains, alat ukurnya 10 pernyataan, di antaranya “kita hanya bisa percaya secara rasional pada apa yang dapat dibuktikan secara ilmiah”, “sains memberi tahu kita segala informasi yang perlu diketahui tentang alam dan realitas”, dan “ilmuwan dan sains harus lebih dihargai dalam masyarakat modern”. Semakin tinggi total skor dari partisipan, semakin tinggi pula keyakinan terhadap sains yang dimiliki.

Hasil studi sejauh ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki literasi yang cenderung rendah namun memiliki keyakinan terhadap sains yang cukup tinggi. Pada kondisi yang berbeda, beberapa responden dengan literasi sains tinggi yang dapat menolak keyakinan terhadap sains apabila bertentangan dengan ideologi atau partisipansi politik. Bagian ini diuji lebih lanjut pada studi saya berikutnya.

Temuan ini membuktikan bahwa literasi sains tidak serta merta dapat memprediksi maupun menentukan keyakinan sains pada individu.

Sejalan dengan studi saya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa kemampuan individu dalam menerima hal rasional tidak selamanya tergantung pada kemampuan literasi sains.

Begitu pula dengan hasil sebuah riset psikologi terhadap individu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi dan sering terpapar dengan konten pseudosains (sebuah pengetahuan atau informasi yang seolah-olah ilmiah, padahal tidak mengikuti metode ilmiah dan belum teruji secara ilmiah). Temuan riset ini adalah bahwa semakin tinggi kemampuan kognitif individu, mereka bisa semakin percaya pada fenomena pseudosains.

Hal ini menunjukkan adanya faktor lain, selain kemampuan literasi sains dan kemampuan kognitif, yang lebih mempengaruhi cara individu membangun keyakinan, misalnya gaya berpikir, karena tidak selamanya gaya berpikir mampu menerima hal-hal yang rasional. Individu dengan kemampuan gaya berpikir analitis bisa tetap memilih tetap percaya pada pseudosains.

Tantangan Indonesia di masa depan

Namun, temuan dalam studi saya di atas bukanlah sepenuhnya kabar baik.

Bagus jika individu tetap dapat meyakini sains walaupun literasi sains mereka rendah, namun tetap saja mereka rentan mempercayai informasi yang sumber dan kebenarannya tidak teruji. Akhirnya mereka tidak mampu memilah-milah informasi yang tepat dan memiliki kajian sains yang berkualitas.

Inilah yang dikhawatirkan akan menjadi masalah di kemudian hari. Keyakinan mereka terhadap sains sebaiknya harus tetap dilandasi dengan kemampuan memahami sains yang mumpuni agar mereka mendapat pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik dalam memahami kondisi sekitar.

Hasil survei yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 dan dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terhadap siswa di Indonesia menemukan bahwa skor rata-rata siswa Indonesia untuk bidang sains mencapai 389 dengan skor rata-rata OECD sebesar 489. Ini menunjukkan bahwa literasi sains di Indonesia terbilang rendah.

Secara umum, hasil PISA 2018 tersebut menempatkan Indonesia berada pada kuadran low performance dengan high equity. Temuan ini juga menjelaskan bahwa siswa di Indonesia pandai dalam mencari informasi, mengevaluasi, dan merefleksi informasi, tetapi lemah dalam memahami informasi tersebut.

Meskipun masyarakat dapat percaya pada temuan sains walaupun literasi sains mereka rendah, pada dasarnya literasi perlu tetap ditingkatkan dengan upaya dari berberbagai pihak.

Kurangnya literasi sains lambat laun akan membawa individu meyakini maraknya informasi keliru akan sains. Kesalahpahaman akan informasi sains dapat merusak upaya untuk mewujudkan masyarakat sehat dan produktif. Sebuah studi, misalnya, menemukan bahwa individu yang tidak melihat informasi secara teliti akan mudah mempercayai suatu berita atau kabar dan menyebarluaskannya begitu saja.

Dalam hal ini, pemerintah atau lembaga terkait perlu memperkuat promosi sains guna memberikan ruang bagi pemerataan penyebaran ilmu pengetahuan. Sejumlah studi juga membuktikan bahwa pendidikan sejak dini dapat menjadi landasan yang kokoh dalam menciptakan perubahan, termasuk pada urusan literasi sains.

Di masa pandemi saja, kita bisa melihat merebaknya hoaks dan informasi palsu di media sosial, hingga pada akhirnya kita mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan yang benar untuk kesehatan kita. Seandainya keyakinan terhadap sains dan literasi sains saling beriringan, hal-hal buruk demikian kemungkinan akan dapat kita hindari.