Risiko Berat Hukum Berucap Kata “Seandainya” dalam Islam

Dian Lestari Ningsih, maschunsofwan
·Bacaan 1 menit

VIVA – Sebagai umat Muslim tentunya menyakini bahwa, Allah SWT adalah satu-satunya pemilik takdir yang menentukan segala sesuatu untuk terjadi maupun tidak terjadi termasuk ke dalam dasar keyakinan Islam. Keyakinan ini kemudian dikenal sebagai iman kepada qadha dan qadar dalam rukun iman.

Meski Allah juga memberikan akal pikiran kepada manusia untuk menentukan apa yang ia akan lakukan dan tidak. Oleh karenanya, manusia dalam setiap peristiwa hendaknya meyakini bahwa di atas semua yang terjadi dan belum terjadi adalah kehendak Allah.

Caranya adalah dengan mengingat bahwa, sebab-sebab terjadinya kejadian tersebut merupakan ciptaan Allah. Mengandai-andai suatu kejadian meskipun hanya mengucapkan perkataan, (seandainya) apabila mengesampingkan takdir (kepasti) Allah, termasuk bentuk sirik.

Misalnya seseorang berkata: ‘Seandainya ia tidak naik pesawat, niscaya ia selamat’, karena berkeyakinan bahwa penyebab tewasnya adalah naik pesawat yang mengalami kecelakaan. Padahal tewasnya karena sudah ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak naik pesawat pun, jika sudah ditakdirkan Allah, pasti akan mati juga. Memberikan penjelasan dengan disertai uraian tentang sebab akibat adalah sah-sah saja, karena Islam juga mengakui adanya sebab dan akibat. Namun harus disertai pula dengan penjelasan bahwa semua itu karena takdir Allah.

SUMBER ASLI