Risma: Saya Tahu Bukan Siapa-Siapa di Jakarta

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Sosial Tri Rismaharini atau Risma angkat bicara mengenai kegiatan blusukannya di sejumlah lokasi di Jakarta yang dituding rekayasa atau settingan.

Dia mengaku sering melihat sejumlah tunawisma di Jakarta saat pertama kali ke Jakarta. Namun, saat itu, dia masih menjabat sebagai Wali Kota Surabaya dan tidak dapat melakukan apapun.

"Saya enggak enak, kalau dia mati saya ikut dosa, meski saya tahu saya bukan siapa-siapa di Jakarta. Saya lihat orang itu ndak bangun lagi, saya pikirkan lagi. Kalau saya turun saya bukan siapa-siapa di Jakarta," kata Risma di Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (8/1/2021).

Karena hal itu, dia mengaku pernah menitipkan uang kepada seorang pedagang untuk memberikan makan kepada tunawisma yang masih tidur di pinggir jalan.

Dia menegaskan, blusukannya bukan settingan, melainkan tindakan spontan untuk membantu orang yang membutuhkan. Risma juga mengaku tidak hafal dengan jalanan di Ibu Kota.

"Saya berhak memberikan amal saya untuk orang lain. Jadi saya jadi apapun saya lakukan itu seperti itu," ucap Risma.

Kritikan

Sebelumnya, blusukan Risma di Jakarta mendapat kritikan dari sejumlah pihak.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Abraham Lunggana atau Lulung meminta agar Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini atau Risma lebih fokus bekerja sebagai menteri daripada mengusik kerja Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Jangan sampai terkesan sengaja bikin desain pencitraan seperti yang dicurigai publik. Masyarakat sudah malas ngelihat yang begitu itu. Artinya, blusukan Risma kan menyinggung pekerjaan orang lain, sudah lah serahkan saja itu ke Satpol PP dan Dinsos DKI," kata Lulung dalam keterangan tertulis, Jumat (8/1/2021).

Menurut dia, seharusnya Risma dapat fokus untuk membuat strategi atau kebijakan baru untuk permasalahan sosial yang ada. Mulai dari evaluasi kinerja jajaran internal pejabat Kemensos.

"Bu Risma kan ada Sekjen, Dirjen dan staf di Kemensos, tolong utamakan program-program yang menunjang kerja Kemensos, khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19," ucapnya.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga menuturkan, Risma perlu menjelaskan aksinya tersebut. Pasalnya jika ingin melihat fenomena sosial, tempatnya bukan hanya di Jakarta saja.

"Sebagai Mensos perlu segera klarifikasi tujuan blusukan tersebut. Karena kalau ingin mengetahui kondisi sosial masyarakat bawah kota-kota (besar) tidak hanya di Jakarta," kata Nirwono saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (6/1/2021).

Menurut dia, ada hal prioritas yang harus ditangani Risma saat ini. Yakni memiliki program atau terobosan untuk mengatasi persoalan sosial dampak dari pandemi Covid-19.

"Terobosan program bansos, tidak sekadar mentransfer uang ke masyarakat, tetapi bagaimana program ketahanan keluarga selama pandemi," jelas Nirwono.

Dukungan

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendukung aksi blusukan Menteri Sosial, Tri Rismaharini, yang menyalurkan bantuan langsung di masa pandemi Covid-19.

"Kami percaya Bu Risma adalah figur terbaik dalam mengawal penyaluran bantuan sosial tunai (BST) agar tepat sasaran dan bebas korupsi,” ujar Plt. Sekjen DPP PSI, Dea Tunggaesti, dalam keterangan tertulis, Rabu 6 Januari 2021.

Dea melanjutkan, selain bersih, Risma merupakan juga sosok pekerja keras yang tepat untuk menerjemahkan arahan Presiden Jokowi soal penyaluran BST untuk rakyat.

"Beliau tipikal pemimpin yang merakyat dan mau turun langsung, bukan pemimpin di belakang meja. Bu Risma, kami yakin, mampu menjadi tulang punggung baru untuk meringankan beban rakyat,” lanjut doktor Ilmu Hukum ini.

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menampik, blusukan dilakukan Tri Rismaharini atau Risma hanya akan terjadi di Jakarta.

Dia meyakini, sebagai Menteri Sosial, Tri Rismaharini akan melakukannya di seluruh wilayah Indonesia.

"Bu Risma sempat berkunjung ke Ponorogo Jawa Timur untuk bertemu penyandang disabilitas. Apa yang dilakukan Bu Risma merupakan pelaksanaan semangat konstitusi, di mana fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, bagaimana negara hadir," tulis Hasto dalam keterangannya, Rabu (6/1/2021).

Hasto berharap, ke depan blusukan Risma dapat menjadi cermin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karenanya, apa yang dilakukan Risma haruslah didukung dan bukan dipandang sebaliknya.

"Dia menunjukkan sosok pemimpin yang terus bergerak dan berdedikasi bagi kepentingan rakyat itu, karena rakyat sebagai sumber legitimasi dan legalitas dari kepemimpinan itu," ungkap Hasto.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: