Ritase Digitalisasi Layanan Petikemas di Tanjung Priok

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai bagian dari pembaruan ekosistem logistik nasional atau National Logistic Ecosystem yang dicanangkan Presiden Jokowi, Ritase sebagai pionir dalam digitalisasi logistik di Indonesia, terus melakukan inovasi untuk para stakeholder-nya.

Yang terkini, Ritase selesai mengembangkan Trucking Haulage System yang terintegrasi dengan NPCT 1, salah satu perusahaan terminal peti kemas terbesar di Tanjung Priok. Dimana NPCT1 dapat menangani lebih dari 1,5 juta container per tahun.

Dengan total lebih dari 300 transporter dan 15.000 driver yang terkoneksi, aplikasi Ritase dapat melayani permintaan truk untuk keluar dan masuk pelabuhan secara Online.

Sistem ini akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi, selain itu aktivitas digital ini juga lebih aman di tengah masa pandemi Covid-19 dimana semua process sudah terintegrasi secara online dan real time.

“Ritase siap memberikan full support kepada semua pelaku bisnis di Tanjung Priok terutama pengguna NPCT1 terminal. Sistem kita sudah terintegrasi dengan ECON, terminal online billing system milik NPCT1, sehingga semua process dapat diakses dalam satu platform . Ini breaktrough dan dapat mempersingkat proses bagi shipper atau consignee NPCT1 yang traffic-nya bisa mencapai lebih dari 15.000 peti kemas setiap minggunya,” kata CEO & Founder Ritase, Iman Kusnadi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (9/1/2021).

Process booking itu sendiri bisa dilakukan melalui retail.ritase.com setelah mendaftarkan NPWP pribadi atau perusahaan yang merupakan syarat administratif yang diwajibkan oleh NPCT1.

Ritase memberikan kemudahan sehingga shippers tidak perlu repot lagi untuk melakukan process export dan import karena semua sudah terintegrasi dengan aplikasi Ritase.

Sistem ini akan memungkinkan pelanggan NPCT1 untuk mengakses berbagai layanan mulai dari manajemen pemesanan truk, track & trace container secara real time, hingga pengurusan E-document (NPCT1 Gatepass).

Akses Digital

Aktivitas truk petikemas di Terminal Peti Kemas (TPK) Koja, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/10). Throughput Terminal Peti Kemas diprediksi akan mencapai 1 juta TEUs (Twenty Foot Equivalent Unit’s) di penghujung 2017. (Liputan6.com/TPK Koja)
Aktivitas truk petikemas di Terminal Peti Kemas (TPK) Koja, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/10). Throughput Terminal Peti Kemas diprediksi akan mencapai 1 juta TEUs (Twenty Foot Equivalent Unit’s) di penghujung 2017. (Liputan6.com/TPK Koja)

Pelanggan NPCT1 juga memiliki akses digital pengurusan bea cukai, pembayaran dan transaksi dengan terminal untuk mengambil pengiriman atau mengirim kontainer ke NPCT1 secara online, tanpa perlu melakukan perjalanan ke kantor yang berbeda untuk memproses atau mengakses banyak platform.

Seperti dikutip dari Press Release NPCT1 pada tanggal 6 Januari 2021, Direktur NPCT1 Hudadi melihat peluang yang baik atas kerjasama ini.

"Sumber daya kolaboratif ini juga memiliki peluang unik untuk mengeksplorasi dan menerapkan proses dan peningkatan teknologi lebih lanjut. Tujuan kami adalah untuk mendukung keberlanjutan global dan regional serta konektivitas digital dan fisik, untuk menawarkan layanan pelanggan dan keandalan terbaik untuk saat sekarang dan yang akan datang," jelasnya.

Selain mendigitalisasi trucking haulage hingga pelabuhan di Tanjung Priok, Ritase menawarkan B2B digital logistic ecosystem seperti Marketplace, Software as a Service (SaaS), Supply Chain Financing, Retail, Business Innovation Solution hingga e-wallet untuk driver. Kini Ritase telah melayani klien multinasional dan nasional dari berbagai industri.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: