Rivalitas Toyota dan X-raid Mini di Dakar 2021 Bergerser ke Ranah Politis

Basile Davoine
·Bacaan 2 menit

Penyelenggara Dakar menetapkan batas maksimum kecepatan jadi 180 km/jam untuk kategori T1, yang merupakan area Mini, Toyota Hilux dan BRX Hunter dan T2. Sedangkan untuk kategori T3, T4 dan T5 melaju maksimal 130 km/jam.

Perubahan tersebut diputuskan usai menganalisis data edisi 2020. Pembalap Toyota Gazoo Racing, Nasser Al-Attiyah mengkritik tim X-raid diuntungkan oleh kecepatan mobil mereka.

Selain Al-Attiyah, ada Giniel de Villiers, Henk Lategan dan Shameer Variawa yang menggunakan Toyota Hilux.

Bagi bos Toyota Gazoo Racing Afrika Selatan, Glyn Hall, tak diragukan bahwa langkah ini akan mengubah permainan dan keseimbangan kekuatan antara para peserta dalam perebutan titel juara. Para pembalapnya pun tidak mudah dijatuhkan Carlos Sainz dan Stephane Peterhansel.

“Satu keuntungan besar (Mini) tahun lalu adalah perbedaan besar dalam kecepatan maksimal. FIA menurunkannya jadi 180 km/jam. Kami mengharapkan mereka naik sampai 170 dan mungkin 175 akan lebih baik,” ujar Hall kepada Motorsport.com.

“Tapi begitulah caranya. Itu akan mencegah mereka dari tancap gas pada stage lebih cepat. Anda harus ingat tentang fakta bahwa Nasser bisa berada di depan mereka artinya risiko yang diambil sangat cepat. Ketika Anda menyerang, Anda mengambil risiko besar dan itu bisa menciptakan masalah.”

#301 Toyota Gazoo Racing: Nasser Al-Attiyah, Matthieu Baumel

#301 Toyota Gazoo Racing: Nasser Al-Attiyah, Matthieu Baumel<span class="copyright">Toyota Gazoo Racing South Africa</span>
#301 Toyota Gazoo Racing: Nasser Al-Attiyah, Matthieu BaumelToyota Gazoo Racing South Africa

Toyota Gazoo Racing South Africa

Menurut Hall, pengurangan kecepatan bisa membuat jalannya balapan lebih sengit tapi seru di mata penonton.

“Batas kecepatan 180 km/jam akan membantu kami dan membuat mobil kami lebih cepat tahun ini. Kami akan melihat itu di etape kedua atau ketiga. Tapi David (Castera, direktur Dakar) juga menciptakan jalur lebih rumit yang bisa menguntungkan kami,” ucapnya.

“Itu lebih teknis, kalau ada lebih banyak tikungan dan bukit pasir yang lebih pas dengan Hilux dan Nasser. Kita lihat saja, tapi kami punya kans untuk menang.”

Sementara itu, tim X-raid tak punya pilihan lain kecuali menerima situasi dan menyesalkan negosiasi yang dilakukan Toyota, terkait top speed.

“Toyota sering meminta soal itu. Mereka khawatir mobil two-wheel drive akan lebih cepat, tapi kalau Anda menganalisis situasi, mereka berada di seksi cepat pada trek, bukannya seksi yang lambat,” kata Sven Quandt, bos X-raid.

“Yang dipertanyakan adalah apakah adil atau tidak, tapi itu ditetapkan karena Toyota melakukan segalanya untuk itu. Itu bukan ide kami. Kami sedikit cepat dengan buggy, itu benar, tapi Glyn tak pernah gembira, walaupun dia menang di Dakar.

“Dia selalu berpikir bahwa kami terlalu cepat. Dia tidak pernah puas tentang itu, dia mengeluh dan saya bilang kepadanya dalam rapat. Bagaimanapun kami harus menerima itu.”

Kemudian, ada pertanyaan tentang tim ketiga, BRX Prodrive. Skuad tersebut mungkin tidak akan terlibat dalam rivalitas karena baru pertama berpartisipasi dengan Nani Roma dan Sebastien Loeb.

“Prodrive akan sangat cepat. Dalam hal kekuatan mesin, mereka lebih tangguh daripada Toyota dan kami. Tapi Toyota juga berkembang pesat. Seperti yang kami lihat di Baja Ha’il (Desember), mereka sangat cepat dan kami harus sangat siap untuk melawan mereka,” Quandt menambahkan.