Rizal Ramli: Kunci Indonesia Jaya, Laksanakan Ekonomi UUD 1945

·Bacaan 1 menit

VIVA - Tokoh nasional, Rizal Ramli, menyatakan bahwa kebangkitan nasional harus menjadi momentum untuk mengubah demokrasi kriminal menjadi demokrasi yang bersih dan amanah.

Rizal meyakini dengan mengubah demokrasi kriminal menjadi demokrasi yang bersih, maka demokrasi akan bekerja untuk keadilan dan kemakmuran rakyat. Bukan hanya menjadi pesuruh oligarki, elite, dan dinasti kekuasaan politik dan ekonomi.

“Hanya dengan jalan perjuangan itu, demokrasi bisa bermanfaat untuk memberikan keadilan, kemakmuran dan kejayaan untuk seluruh bangsa Indonesia,” kata Rizal dalam orasi kebangsaan “113 Tahun Kebangkitan Nasional Kebangkitan Seluruh Rakyat Indonesia: Jalan Keadilan dan Kemakmuran” yang digelar di Gedung Joang, Menteng Raya 31, Jakarta Pusat, Jumat, 28 Mei 2021.

Baca juga: Rizal Ramli Ungkap Pengalaman Indonesia dengan IMF pada 1998

Rizal optimis Indonesia keluar dari krisis multidimensi. Menurutnya, peluang itu sangat terbuka lebar.

Syaratnya, seluruh potensi rakyat Indonesia digerakkan dan semua potensi strategis dan sumber alam nasional benar-benar dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

“Kita akan cepat keluar dari krisis multidimensi ini,” kata aktivis mahasiswa era 77/78 yang pernah mendekam di Lapas Sukamiskin saat memperjuangkan demokrasi di era pemerintahan Soeharto itu.

Agar Indonesia berdaulat dan berjaya, lanjut mantan Menko Ekuin era pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu, ekonomi nasional harus dikelola dengan melaksanakan ekonomi konstitusi UUD 1945 yaitu ekonomi dari, dengan, dan untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

“Bukan ekonomi neoliberalisme yang menjadi pintu masuk neo-kolonialisme baru, dan bukan kegiatan ekonomi yang lokasinya di Indonesia, tapi manfaat dan nilai tambahnya untuk kemakmuran orang asing,” tutur Rizal Ramli.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel