Robot NASA Tangkap Suara Tubrukan Meteor di Planet Mars

Merdeka.com - Merdeka.com - Robot peneliti milik Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) Amerika Serikat (AS), InSight Lander berhasil menangkap suara dan getaran dari tubrukan meteor di planet Mars. Ini pertama kalinya robot itu berhasil menangkap suara (akustik) dan getaran (seismik) di saat yang sama.

Dikutip dari CNN, Selasa (20/9), diperkirakan meteor itu menubruk atmosfer planet merah itu sekitar 85 hingga 290 kilometer dari lokasi InSight Lander yang berada di Elysium Planitia.

Pada September tahun lalu, sebuah meteor hancur berkeping-keping di atmosfer Mars. Batu itu meledak menjadi tiga bagian dan meninggalkan 3 kawah berwarna hitam.

Untuk mengetahui dampak tubrukan, NASA mengirim pengorbit planet Mars Reconnaissance. Pengorbit itu mengambil foto beresolusi tinggi melalui kamera Imaging Science Experiment.

Analisis tubrukan itu dipublikasi dalam jurnal Nature Geoscience kemarin.

"Setelah tiga tahun InSight menunggu untuk mendeteksi dampak tubrukan, kawah itu tampak indah," jelas Ingrid Daubar, asisten profesor Bumi, lingkungan, dan ilmu planet di Universitas Brown Providence, Rhode Island, AS.

Data dari InSight juga menunjukkan tiga tubrukan yang mirip, pertama pada Mei 27 2020, serta pada 18 Februari dan 31 Agustus 2021.

Selain data itu, kemarin NASA juga merilis suara meteor ketika menubruk Mars. Suara mirip air jatuh dan suara dentuman tiga kali saat batu itu memasuki atmosfer dan meledak berkeping-keping terdengar dalam rekaman tersebut.

Selama keberadaannya di Mars, InSight Lander telah menangkap lebih dari 1.300 rekaman seismometer akibat gempa di planet itu. Tubrukan meteor yang suaranya berhasil ditangkap itu berhasil menciptakan gempa dengan kekuatan 2,0 skala richter atau kurang.

Kawah hasil tubrukan batu memudahkan ilmuwan untuk mengetahui umur permukaan Mars dan menentukan berapa banyak kawah yang terbentuk.

"Tubrukan adalah jam dari tata surya kita," ujar Raphael Garcia, peneliti di Institut Penerbangan dan Antariksa Tinggi Toulouse, Prancis.

"Kita perlu mengetahui tingkat dampak hari ini untuk memperkirakan usia permukaan yang berbeda," tambahnya.

Menurut ilmuwan, mempelajari data-data InSight dapat memberikan penjelasan akan lintasan batu ruang angkasa dan ukuran gelombang kejut dari tubrukannya.

"Kami belajar lebih banyak tentang proses dampak itu sendiri," kata Garcia.

"Kami dapat mencocokkan berbagai ukuran kawah dengan gelombang seismik dan akustik tertentu sekarang," lanjutnya.

Kini InSight Lander tetap melakukan penelitian di Mars hingga akhir misinya pada Oktober atau Januari 2023 mendatang.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]