Rocky Gerung Soroti Masalah Tahu dan Tempe: Ini Darurat Perut

Fikri Halim
·Bacaan 2 menit

VIVA – Para pengrajin tahu dan tempe melakukan aksi mogok produksi akibat harga kedelai yang melambung tinggi. Aksi itu dilakukan serentak di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi.

Hal itu diungkapkan oleh kumpulan pengrajin yang tergabung dalam Sedulur Pengrajin Tahu Indonesia (SPTI). Mereka berharap keluhannya didengar oleh pemerintah soal harga kedelai yang naik hingga 35 persen.

Aksi ini dikabarkan juga sudah mulai berdampak pada menghilangnya tahu dan tempe di pasaran.

Pengamat politik Rocky Gerung turut mengamati hilangnya tahu dan tempe itu di pasaran. Menurut dia, tahu dan tempe sudah termasuk hajat hidup orang banyak. Apalagi bagi masyarakat kelas ekonomi bawah, pangan itu jadi konsumsi untuk memenuhi kebutuhan protein dengan harga terjangkau.

"Bahkan kelas menengah juga konsumsi tempe dan tahu," ujar Rocky dikutip dari saluran YouTube-nya, Senin 4 Januari 2021.

Menurut dia, ada dua kemungkinan terkait naiknya harga kedelai mencapai lebih dari 30 persen. Pertama, yakni soal kurs atau nilai tukar mata uang, karena kedelai merupakan komoditas yang diimpor.

"Ini mungkin soal kurs. Karena impor, setiap kali anjlok maka setiap produsen membeli itu mengikuti harga kurs membeli dari supplier," kata dia.

Kemungkinan kedua, lanjut Rocky, adalah soal kartel. Artinya, ada oknum atau pihak yang melakukan penimbunan untuk mencari untung sepihak. Menurutnya, ini perlu segera diselesaikan oleh pemerintah.

"Ini kan yang mustinya dikerjain sama negara. Apa problemnya. (Apakah) soal rupiah yang enggak ada harganya lagi, sehingga selisih dolar 30 persen, atau malah soal permainan harganya (kartel)," ujar dia.

Dia berharap, persoalan ini bisa diberitakan secara cepat. "Karena ini darurat perut, bukan darurat hukum saja," tuturnya.

Rocky menjelaskan, persoalan ini sudah menjadi masalah tahunan. Setidaknya terjadi dalam kurun waktu 3-4 tahun.

"Saya anggap bahwa masyarakat kita dibebani berkali-kali dengan kecemasan, kekerasan, politik dan sekarang kecemasan basic needs," kata dia.

Untuk itu, dia menilai, masalah konsumsi ini harus diselesaikan pemerintah dengan segera. "Ini kepanikan betul-betul riil karena konsumsi sangat terbatas dan ada yang tidak bisa digantikan seleranya dengan tahu tempe. Emak-emak yang setiap hari butuh cadangan pokok, tahu, tempe, telur. Ini menyangkut hajat hidup seluruh orang," ujar dia.

Baca juga: Viral, Risma Blusukan Tidak Terapkan Prokes