Rohingya jadi sasaran di Malaysia ketika virus corona memicu xenophobia

Oleh A. Ananthalakshmi dan Rozanna Latiff

KUALA LUMPUR (Reuters) - Eleyas, seorang Muslim Rohingya, melarikan diri ke Malaysia enam tahun lalu, mencari tempat yang aman dari penganiayaan di Myanmar.

Sekarang dia dipecat dari pekerjaannya oleh seorang pimpinan yang mengatakan bahwa keputusan itu karena asal-usulnya dan dia takut meninggalkan rumahnya karena takut ditangkap atau dilecehkan.

"Saya ingin mencari pekerjaan baru, tetapi itu tidak aman. Kita semua hanya tinggal di rumah," kata Eleyas, 38, kepada Reuters. Ia tidak memberikan nama lengkapnya karena takut akan pembalasan.

Selama beberapa dekade, Malaysia yang mayoritas Muslim menyambut Rohingya dan sebagian besar menutup mata terhadap pekerjaan mereka yang secara teknis ilegal dalam lapangan kerja bergaji rendah.

Tetapi, seperti di beberapa bagian dunia lainnya, wabah virus corona telah mengubah sentimen terhadap orang asing, yang dituduh menyebarkan penyakit, membebani negara dan mengambil pekerjaan ketika ekonomi merosot.

Sementara Rohingya telah menjadi target yang paling jelas, migran lain juga khawatir di negara yang sangat bergantung pada tenaga kerja asing untuk pabrik, lokasi konstruksi dan perkebunan itu

"Ada pelecehan di jalanan dan online. Saya belum pernah melihat yang seperti ini di Malaysia sebelumnya," kata seorang aktivis Malaysia, Tengku Emma Zuriana Tengku Azmi, dari kelompok hak-hak Dewan Rohingya Eropa.

Dia diancam akan diperkosa di Facebook setelah meminta pemerintah mengizinkan kapal yang membawa pengungsi Rohingya mendarat. Pemerintah mengembalikan satu kapal dengan 200 pengungsi di kapal bulan lalu.

Rohingya adalah kaum minoritas dari Myanmar yang sebagian besar beragama Buddha, yang mencap mereka sebagai imigran ilegal meskipun banyak yang mengatakan mereka dapat melacak nenek moyang mereka di sana selama beberapa generasi. Lebih dari satu juta sekarang tinggal di kamp-kamp di Bangladesh.

Sekitar 700.000 Rohingya melarikan diri dari rumah mereka pada tahun 2017 saja, dalam menghadapi penindasan oleh tentara Myanmar.

Malaysia sejak lama dipandang sebagai surga bagi kebebasan dan kemakmuran relatif oleh orang Rohingya dan sekarang menjadi rumah bagi lebih dari 100.000 dari mereka, terlepas dari kenyataan bahwa Malaysia lebih mencap mereka imigran ilegal daripada pengungsi.

RAZIA

Tetapi virus corona mengubah suasana terhadap jutaan migram tanpa berdokumen di Malaysia dan sasaran yang paling utama adalah Rohingya.

Sentimen meningkat ketika pemerintah memberlakukan pembatasan pergerakan yang melumpuhkan secara ekonomi untuk menghentikan penyebaran virus yang kini telah menginfeksi lebih dari 7.000 orang di negara berpenduduk 31 juta itu dan menewaskan 115 di antaranya.

Ketika suasana berbalik melawan migran, pemerintah melakukan penggerebekan bulan ini di mana setidaknya 2.000 orang asing ditangkap, beberapa dibawa pergi dengan diborgol oleh petugas-petugas dengan alat pelindung.

Pemerintah belum memberikan perincian lengkap tentang kewarganegaraan para tahanan, tetapi setidaknya 800 dari mereka berasal dari Myanmar dan sebagian besar orang dari Myanmar di Malaysia adalah Rohingya.

Kantor Perdana Menteri Muhyiddin Yassin tidak menanggapi permintaan komentar atas penangkapan dan reaksi terhadap para pengungsi dan pekerja asing.

Pemerintah belum mengatakan berapa banyak Rohingya telah ditemukan terinfeksi virus.

Eleyas mengatakan bahwa ketika suasana memburuk, ia dan delapan pekerja Rohingya lainnya dipecat dari pekerjaan mereka di sebuah supermarket. Dia tidak mengidentifikasi toko itu, karena takut dia bisa menjadi sasaran.

"Mereka memberi tahu kami bahwa mereka tidak bisa lagi mempekerjakan orang asing, hanya orang Malaysia," kata Eleyas. Reuters berbicara dengan lima migran lain yang mengatakan mereka baru saja kehilangan pekerjaan.

Dua kelompok aktivis memperkirakan bahwa sekitar 80% dari pengungsi yang memiliki pekerjaan sebelum PHK dimulai adalah pengangguran. Tingkat pengangguran di antara orang Malaysia naik ke level tertinggi lima tahun sebesar 3,9% di bulan Maret.

"Masyarakat saat ini ketakutan. Tantangan mereka meningkat karena dikunci dan sikap xenophobia," kata Hasnah Hussein, sukarelawan Rohingya di kelompok hak-hak migran Tenaganita.

RISIKO

Federasi Pengusaha Malaysia mengatakan bahwa pemecatan pekerja migran diperkirakan terjadi ketika bisnis-bisnis berjuang dan pekerja tidak berdokumen akan menjadi yang pertama dilepas.

"Pengusaha selalu mengambil risiko dengan mempekerjakan para pengungsi," kata kepala eksekutif kelompok itu, Shamsuddin Bardan.

Sementara itu, serangan online terhadap Rohingya meningkat - terutama setelah tuduhan tidak berdasar bahwa seorang aktivis Rohingya menuntut kewarganegaraan Malaysia.

Tengku Emma mengatakan bahwa dia telah menandai ratusan contoh ke Facebook termasuk serangan terhadap dirinya sendiri. Dia mengatakan Facebook menangguhkan dua halaman dengan lebih dari 300.000 pengikut setelah dia menandai mereka.

Facebook mengatakan telah menghapus konten di Malaysia karena melanggar kebijakannya tentang ujaran kebencian, seruan kekerasan dan eksploitasi seksual. Facebook menolak untuk mengatakan apakah telah melihat peningkatan atau tidak.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menuduh pemerintah gagal menanggapi serangan-serangan itu dan seorang pejabat hak asasi manusia di AS mengatakan "kampanye kebencian" itu merusak upaya untuk mengekang virus corona.

Pemerintah telah menegaskan kembali bahwa para migran itu adalah imigran ilegal dan mengancam akan melakukan tindakan hukum terhadap kelompok-kelompok advokasi Rohingya, dengan mengatakan tidak ada organisasi Rohingya yang pernah terdaftar secara resmi di Malaysia.

"Ujaran kebencian" yang diarahkan pada komunitas Rohingya menimbulkan keprihatinan serius tentang komitmen pemerintah Malaysia untuk melindungi hak asasi manusia," sekelompok 84 organisasi non-pemerintah menulis dalam surat kepada Muhyiddin.

Pemerintah tidak menanggapi permintaan untuk mengomentari surat itu.

(Editing oleh Matthew Tostevin, Robert Birsel)