Rok Balerina Unik dari Batik dan Tenun

Laporan Wartawan Tribun Jakarta,Daniel Ngantung

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  - Biasanya, tutu atau rok yang biasa dikenakan balerina terbuat dari bahan tulle. Tapi ada yang beda dengan tutu yang ditawarkan Dwi Arlina Avriliawati (42).

Lewat labelnya Daradara, Dwi menawarkan tutu yang terbuat dari kombinasi bahan tulle dan kain tradisional seperti batik dan tenun.

Beberapa model tutu yang ia tawarkan di antaranya rok bahan tradisional  dengan bahan tulle yang menyembul dari bagian dalam, berlapis-lapis dengan teknik layering, dan tulle di bagian luar bahan tradisional.

Selain itu, ibu satu anak ini juga menghadirkan pilihan tutu ibu-anak. Kain tradisional yang ia gunakan cukup beragam pula mulai dari batik garut, cirebon dan tenun jepara.

Untuk warna, Dwi sengaja memilih palet warna yang ceria, seperti warna-warna lolipop.

"Ini untuk menarik perhatian anak kecil. Mereka kan sangat sensitif terhadap warna, jadi aku pilih yang ceria," ujar  Dwi kepada TRIBUNnews.com di booth Daradara dalam Pameran Interior dan Craft di Jakarta Convention Center, Kamis (6/6/2013).

Harga tutu Daradara cukup bersahabat dengan kantong. Untuk tutu batik usia 1-2 tahun dan 4-10 tahun, masing-masing dibanderol Rp 145 ribu dan Rp 165 ribu. Sementara tutu tenun, ia hargai  sekitar Rp 30 ribu lebih mahal dari tutu batik.

"Lewat tutu ini saya ingin mengenalkan kain-kain tradisional kepada anak-anak," ujar lulusan Inter Studi jurusan desain grafis itu.

Bisnis Dwi ini bermula dari keisengan. Pada tahun 2009, setelah berhenti bekerja dari advertising agent untuk mengurus anak, Dwi iseng membuat tutu dari batik di waktu senggang.

"Modal awal sekitar Rp 5 juta," ujarnya.

Lalu, ia menawarkan karyanya itu kepada kawan-kawan dekatnya. Responnya positif. Banyak kawan-kawanya yang menyukai tutu batik buatan Dwi.

"Dulu saya minta tukang jahit langganan untuk menjahit tutu, sekarang karena permintaan sudah banyak, saya memperkerjakan tukang jahit itu," ujarnya.

Terdorong respon tersebut, Dwi pun mencoba memasarkannya lewat Facebook dan Twitter.

Saat ini produk Daradara juga sudah  dipasarkan ke beberapa department store besar di Jakarta seperti Alun-Alun dan Pendopo dalam sistem konsinyasi.

Bahkan hingga mancanegara, seperti New York dan Melbourne. "Ada orang Indonesia di sana yang beli putus. Produk saya cukup diminati orang-orang sana," katanya.

Untuk pengembangan produknya, Dwi akan terus mengeksplorasi kain tradisional yang lain.

"Saya ingin tutu kain tradisional diasosiasikan dengan brand Daradara," ungkapnya.

Baca Juga:

  • Roy Suryo: Laga Besok Bukan Soal Menang atau Kalah
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.