Roket dari wilayah Tigray di Ethiopia hantam ibu kota Eritrea

·Bacaan 3 menit

Addis Ababa (AFP) - Roket dari wilayah Tigray di utara Ethiopia menghantam ibu kota tetangga Eritrea pada Sabtu, demikian menurut para diplomat, indikasi terbaru bahwa konflik internal Ethiopia menyebar ke luar perbatasannya.

Serangan di Eritrea terjadi pada hari yang sama ketika partai yang berkuasa di Tigray, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), mengaku bertanggung jawab atas serangan roket di dua bandara di wilayah terpisah di Ethiopia.

Serangan itu memperburuk kekhawatiran bahwa konflik yang telah dinyatakan Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed akan cepat dan diatasi, malah justru dapat menjadi bola salju dan mengguncang kawasan Tanduk Afrika yang lebih luas.

Abiy, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu, mengumumkan pada 4 November bahwa dia telah memerintahkan operasi militer di Tigray dalam peningkatan dramatis dari perseteruan jangka panjang dengan TPLF.

Ratusan orang dilaporkan tewas dalam konflik di negara terpadat kedua di Afrika itu, beberapa akibat pembantaian mengerikan yang didokumentasikan oleh Amnesty International.

Ribuan orang melarikan diri dari pertempuran dan serangan udara di Tigray untuk menyeberang ke negara tetangga Sudan.

TPLF menuduh pemerintah Abiy meminta dukungan militer dari Eritrea, hal yang dibantah oleh Ethiopia.

Serangan roket di Eritrea terjadi Sabtu malam, kata dua diplomat yang berbasis di Addis Ababa kepada AFP.

"Laporan yang kami dapatkan menunjukkan bahwa beberapa roket menghantam dekat bandara" di ibukota Eritrea Asmara, kata seorang diplomat.

Sabtu pagi, Getachew Reda, seorang anggota senior TPLF, mengancam akan melakukan "serangan rudal" di Asmara dan kota pelabuhan Massawa di Eritrea.

Tidak segera jelas berapa banyak roket yang ditembakkan, dari mana mereka ditembakkan di Tigray, apakah mereka mengenai target atau kerusakan apa yang ditimbulkan.

Radio Erena, stasiun diaspora berbasis di Paris yang bersimpati kepada oposisi Eritrea, mengutip penduduk Asmara yang melaporkan "total empat ledakan".

Jaringan komunikasi di Tigray diputus sejak konflik dimulai, dan panggilan ke Asmara tidak sampai Sabtu.

Tidak ada tanggapan segera dari Eritrea atau TPLF, yang merupakan musuh bebuyutan.

TPLF mendominasi politik Ethiopia selama hampir tiga dekade dan berperang brutal di perbatasan 1998-2000 dengan Eritrea yang menewaskan puluhan ribu orang.

Abiy berkuasa pada 2018 dan memenangi hadiah Nobel pada tahun berikutnya sebagian besar berkat upayanya untuk memulai pemulihan hubungan dengan Eritrea.

Pada Jumat malam roket menghantam dua bandara di wilayah Amhara Ethiopia, selatan Tigray, serangan yang diklaim TPLF Sabtu.

Pemerintah federal mengakui bahwa "area bandara mengalami kerusakan", sementara seorang dokter mengatakan dua tentara tewas dan hingga 15 terluka.

"Kemarin malam kami telah menimbulkan kerusakan parah pada komponen militer di bandara Gondar dan Bahir Dar," kata Getachew Reda, anggota senior TPLF, dalam sebuah pernyataan Sabtu, merujuk pada kota-kota yang terkena dampak.

Pejabat militer telah berjanji untuk menjaga konflik di Tigray, dan Abiy telah berulang kali menjanjikan kemenangan yang cepat dan menentukan.

Amhara dan Tigray suda terlibat dalam sengketa berkepanjangan atas tanah di sepanjang perbatasan yang dikhawatirkan para analis dapat menarik Amhara ke dalam konflik tersebut.

Ribuan milisi Amhara telah menuju ke Tigray untuk bertempur bersama pasukan federal, menurut pejabat keamanan setempat.

Menjelaskan mengenai serangan bandara, seorang warga Bahir Dar mengatakan kepada AFP ada "dua ledakan besar sekitar pukul 10:50 malam".

"Setelah itu terjadi baku tembak selama 15 menit, lalu diam," kata warga.

Pemerintah Abiy mengatakan TPLF perlu dilucuti sebelum negosiasi dapat dimulai, membuat frustrasi para pemimpin dunia yang menyerukan untuk penghentian segera permusuhan.

Abiy pada Jumat menyatakan TPLF berada dalam "pergolakan kematian", tetapi partai tersebut telah berjanji untuk terus berjuang.

Pemadaman komunikasi Tigray telah mempersulit penilaian klaim yang bersaing tentang pertempuran itu. Ada keraguan bahwa kawasan itu menghadapi krisis kemanusiaan yang parah, kata para pejabat PBB.

Pemimpin Tigrayan Debretsion Gebremichael mengatakan ratusan ribu orang mengungsi di wilayah tersebut, bersama dengan ribuan orang yang telah mencapai Sudan.

Koordinator kemanusiaan PBB Catherine Sozi telah memperingatkan bahwa pemadaman komunikasi dan penutupan jalan telah mempersulit jangkauan mereka ke wilayah yang paling rentan.

Badan internasional sedang melobi pemerintah untuk agar membuka akses penuh untuk kegiatan kemanusiaan.

Sejak Abiy mengambil alih kekuasaan, TPLF mengeluh dikesampingkan dan dikambinghitamkan atas kekacauan yang terjadi.

Perseteruan itu semakin intens setelah Tigray terus melanjutkan pemilihannya sendiri pada bulan September - menentang larangan untuk mengadakan pemilihan karena pandemi virus corona - dan mencoba mencap Aiby sebagai penguasa yang tidak sah.