Rombongan Moge yang Keroyok 2 Anggota TNI di Bukittinggi Dipimpin Eks Pangkostrad

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kepolisian Resort (Polres) Kota Bukittinggi telah menetapkan empat pengendara rombongan Motor Gede (moge) Harley Davidson asal Bandung, Jawa Barat sebagai tersangka kasus pengeroyokan anggota TNI.

Rombongan moge tersebut dipimpin oleh Letnan Jenderal TNI Purnawirawan Djamari Chaniago. Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Stefanus Satake Bayu Setianto.

"Dia kan ini ketua rombongan, Letnan Jenderal TNI Purnawirawan (Djamari) Chaniago. Iya (ada), dia kan di rombongan depan," kata Bayu saat dihubungi merdeka.com, Minggu (1/11/2020).

Bayu menjelaskan, Serda Yusuf dan Serda Mistari yang berdinas di Kodim 0304 Agam dikeroyok oleh rombongan moge yang berjumlah sekitar 10 kendaraan. Saat itu, jumlah rombongan moge yang diketuai oleh Djamari berjumlah 21 kendaraan.

Djamari pun tidak mengetahui kejadian tersebut sehingga tidak sempat melerai.

"Enggak, jadi dia kan rombongan di depan enggak tahu. Jadi gini, jadi ada 21 Moge kan, nah yang 11 kendaraan itu sudah di depan, ini yang 10 ini kan tertinggal dia. Karena tertinggal, dia kan mungkin menambah kecepatan atau bagaimana," jelasnya.

"Terus ini kan yang boncengan tentara ini mungkin pas rombongan pertama dia sudah minggir, karena dia enggak tahu kalau di belakang masih ada, dia kan jalan. Kemudian datang lah ini rombongan yang di belakangnya ini yang 10 itu, mungkin sambil geber-geber. Mungkin apakah dia bertujuan supaya yang di depan ini minggir. Karena dia kan enggak ada pengawalannya, ini kan rombongan tertinggal ini," sambungnya.

Saat itu, dua anggota TNI tersebut sempat kaget dan nyaris terjatuh dari kendaraannya saat kembali meminggirkan kendaraannya karena mendengar suara geberan dari moge tersebut.

Karena kaget dan hampir terjatuh, akhrinya anggota TNI tersebut mencoba untuk mengejar rombongan moge itu. Hal ini untuk menanyakan maksud dan tujuan mereka untuk menggeber motornya itu.

Anggota TNI tersebut lalu berusaha mengejar rombongan moge namun kalah cepat. Namun, ternyata jalanan macet sehingga rombongan moge tersebut terkejar dan dihampiri.

"Mungkin terus ada komunikasi, intinya bagaimana terus malah dipukul mereka, mungkin emosi semuanya main pukul, nah itu permasalahan rombongan kedua," ungkapnya.

Djamari melakukan mediasi

Mengetahui, anggotanya melakukan pengeroyokan terhadap dua pengendara motor tersebut. Djamari yang merupakan ketua rombongan tersebut langsung menemui korban untuk melakukan mediasi, karena ia juga tidak mengetahui insiden tersebut.

"Iya, dia tidak tahu (insiden pengeroyokan). Tapi setelah ada kejadian itu dia berusaha memediasi. (Pas mediasi) Ada Kasie Intel, ada Kapolsek di situ," ujarnya.

Namun, mediasi tersebut tak membuahkan hasil. Karena, korban tetap membuat laporan terkait kejadian yang menimpa mereka itu.

"Mediasi dulu di Hotel Novotel ada mediasi di sana. Tapi mungkin karena pihak korban ini tidak terima, akhirnya yang ini (korban) ke Polres. Pikirannya itu mungkin sudah bisa diselesaikan, tapi enggak. Awalnya kan dimediasi di Hotel Novotel, mungkin mereka menginap di situ," ucap Bayu.

Atas laporan tersebut, Polres Bukittinggi langsung melakukan pemeriksaan terhadap rombongan Moge tersebut. Alhasil, polisi menetapkan dua orang tersangka pada awal pemeriksaan kasus itu.

"Iya (enggak ada titik temu), mungkin pihak korban dia tidak terima dan melapor, akhirnya itu kita periksa saksi-saksi, terus kita lihat videonya itu yang viral itu. Nah didapatlah dua, yang penting ada dulu," tandas Bayu.

Sebelumnya, sebuah video viral di jagat media sosial, lantaran aksi sejumlah pengendara moge yang mengeroyok dua pengendara yang merupakan anggota TNI.

Peristiwa itu terjadi di kawasan Jalan Hamka, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, sekitar pukul 16.30 WIB, Jumat 30 Oktober 2020.

Reporter: Nur Habibie

Sumber: Merdeka

Saksikan video pilihan di bawah ini: